Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pesawat Amfibi Hadir di Banyuwangi, Bisa untuk Wisata hingga Evakuasi Medis

Zamrozi Wahyu • Kamis, 11 Juni 2026 | 00:00 WIB
CEO Santai Seaplane Asia Dennis Keller menyerahkan potongan nasi tumpeng kepada Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setkab Banyuwangi Suratno di Kantor Santai Seaplane di kompleks Bandara Internasional Banyuwangi, Rabu (10/6). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
CEO Santai Seaplane Asia Dennis Keller menyerahkan potongan nasi tumpeng kepada Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setkab Banyuwangi Suratno di Kantor Santai Seaplane di kompleks Bandara Internasional Banyuwangi, Rabu (10/6). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Banyuwangi kembali mencatat sejarah baru di sektor transportasi dan pariwisata. Santai Seaplane resmi membuka pangkalan operasional pesawat amfibi di Bandara Internasional Banyuwangi, Rabu (10/6), menjadikan daerah ujung timur Pulau Jawa ini sebagai rumah bagi basis operasional seaplane pertama dan satu-satunya di Indonesia.

Kehadiran pesawat yang mampu lepas landas dan mendarat di darat maupun perairan tersebut tidak hanya diproyeksikan memperkuat konektivitas destinasi wisata premium. Lebih dari itu, armada seaplane juga dipersiapkan untuk mendukung layanan logistik cepat, evakuasi medis darurat, hingga penanganan bencana di wilayah kepulauan yang sulit dijangkau transportasi konvensional.

Peresmian kantor operasional Santai Seaplane di Bandara Banyuwangi dihadiri langsung CEO Santai Seaplane Asia Dennis Keller, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi Suratno, Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi Komang Sudira Atmaja, General Manager Bandara Banyuwangi Mohamad Holik Muardi, serta Camat Blimbingsari Teddy Radiyansyah.

Bandara Banyuwangi nantinya berfungsi sebagai pusat operasional utama, tempat parkir armada, sekaligus kantor layanan perusahaan. Setiap pesawat memiliki kapasitas delapan kursi penumpang yang dirancang untuk melayani penerbangan jarak pendek hingga menengah dengan konsep perjalanan eksklusif namun tetap terjangkau.

CEO Santai Seaplane Asia Dennis Keller mengatakan Banyuwangi dipilih karena memiliki posisi strategis sebagai gerbang penghubung berbagai kawasan wisata dan ekonomi di Jawa Timur maupun Bali. Selain itu, dukungan pemerintah daerah dan ekosistem pariwisata yang berkembang menjadi faktor penting dalam keputusan investasi tersebut.

“Kami tidak hanya membuka kantor hari ini, tetapi berdiri di fajar baru konektivitas regional. Ketika kami menggunakan nama Santai, kami ingin memberikan pengalaman perjalanan yang rileks, di mana penumpang bisa bernapas dalam-dalam dan menikmati momen sejak perjalanan dimulai,” ujarnya.

Dennis menegaskan layanan seaplane bukan hanya ditujukan bagi kalangan elite. Perusahaan mengembangkan model bisnis yang menyasar pasar premium massal sehingga lebih banyak masyarakat dapat menikmati moda transportasi tersebut.

“Sebuah negara kepulauan berhak mendapatkan konektivitas yang efisien dan dapat dijangkau. Kami memastikan manfaat ekonomi dari pariwisata dan logistik cepat bisa langsung dirasakan oleh komunitas lokal. Ketika kami terbang, Banyuwangi tumbuh,” katanya.

Menurut Dennis, karakter geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau membuat pesawat amfibi memiliki peran strategis. Selain mengangkut wisatawan menuju destinasi unggulan, armada ini dapat menjadi sarana evakuasi medis cepat, pengiriman logistik ekspres, pemantauan lingkungan, hingga distribusi bantuan kebencanaan ke daerah terpencil.

“Juga bisa dipergunakan untuk bantuan bencana ke wilayah-wilayah terpencil yang sulit dijangkau transportasi darat maupun transportasi udara konvensional,” jelasnya.

Melihat besarnya peluang pasar, Santai Seaplane menargetkan mendatangkan tiga armada pada tahun pertama operasional. Kehadiran armada tambahan diharapkan mampu memperluas jangkauan layanan dan mempercepat konektivitas antarwilayah.

General Manager Bandara Banyuwangi Mohamad Holik Muardi menilai kehadiran seaplane akan membuka alternatif transportasi baru bagi wisatawan maupun pelaku usaha yang membutuhkan mobilitas cepat dan fleksibel.

Beberapa destinasi unggulan yang berpotensi menjadi tujuan penerbangan antara lain G-Land, Pulau Menjangan, Pulau Tabuhan, hingga Pantai Boom Banyuwangi.

“Seaplane bisa mendarat di laut maupun di darat. Jadi airport-to-airport juga bisa, ke pantai juga bisa. Diharapkan ini dapat memberikan kontribusi positif bagi Banyuwangi dan sekitarnya,” ujarnya.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi Suratno menyebut kehadiran moda transportasi baru tersebut selaras dengan arah pengembangan pariwisata Banyuwangi yang semakin menitikberatkan pada kualitas layanan dan kemudahan akses.

Menurutnya, peningkatan aksesibilitas menjadi kunci untuk membuka potensi destinasi yang selama ini memerlukan waktu tempuh cukup panjang.

“Kita bersyukur ada alternatif transportasi baru yang memberikan nilai positif bagi pembangunan daerah, terutama sektor pariwisata,” tuturnya.

Ia menambahkan, keberadaan seaplane dapat menjadi jawaban atas kebutuhan konektivitas menuju lokasi-lokasi wisata unggulan yang belum sepenuhnya terjangkau moda transportasi reguler.

“Tempat-tempat yang selama ini sulit atau lama dijangkau, sekarang bisa dijawab dengan keberadaan Santai Seaplane,” pungkasnya.

Dengan beroperasinya pangkalan seaplane pertama di Indonesia ini, Banyuwangi tidak hanya memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata nasional, tetapi juga membuka babak baru dalam pengembangan transportasi udara berbasis kepulauan yang cepat, fleksibel, dan multifungsi. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#pesawat amfibi #Santai Seaplane #konektivitas wisata #bandara banyuwangi #wisata banyuwangi