RADARBANYUWANGI.ID – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax sebesar Rp3.950 per liter mulai memicu perubahan perilaku konsumen. Setelah harga Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sejumlah pengguna kendaraan di Banyuwangi mengaku mulai mempertimbangkan beralih ke Pertalite untuk menekan pengeluaran harian.
Fenomena ini diperkirakan akan berdampak langsung pada pola konsumsi bahan bakar masyarakat. Selisih harga yang kini semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite membuat banyak pengguna kendaraan harus menghitung ulang biaya transportasi di tengah naiknya berbagai kebutuhan hidup.
Nurul, warga Kelurahan Sobo yang sehari-hari menggunakan sepeda motor, mengaku kenaikan harga Pertamax cukup mengejutkan. Menurutnya, kebutuhan bahan bakar merupakan pengeluaran rutin yang sulit dihindari sehingga efisiensi menjadi pilihan yang realistis.
“Kebutuhan bahan bakar ini kan rutin. Kalau naik ya lebih baik beralih ke BBM subsidi supaya bisa mengurangi beban biaya transportasi di tengah kenaikan berbagai kebutuhan pokok,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Budi, 48, warga Desa Ketapang. Selama ini ia menjadi pelanggan Pertamax karena menilai kualitas bahan bakar tersebut lebih sesuai dengan kebutuhan kendaraannya. Namun, lonjakan harga membuatnya mulai mempertimbangkan opsi lain.
“Naiknya cukup lumayan. Biasanya ngisi Rp250 ribu cukup untuk satu minggu, tapi sekarang sepertinya sudah tidak cukup,” katanya.
Kondisi tersebut mulai terlihat di sejumlah SPBU. Pengawas SPBU Sukowidi, Anton, mengatakan masih banyak pelanggan yang belum mengetahui adanya penyesuaian harga Pertamax. Sebagian baru menyadarinya saat melakukan pengisian BBM.
“Banyak yang belum tahu sebenarnya, mereka baru tahu setelah mengisi. Yang biasanya mengisi Rp40 ribu bisa full, sekarang setelah kenaikan harus sekitar Rp60 ribu baru penuh. Akhirnya mereka terkejut,” ujarnya.
Menurut Anton, dalam beberapa tahun terakhir jumlah pengguna Pertamax terus mengalami peningkatan. Salah satu penyebabnya adalah selisih harga dengan Pertalite yang sebelumnya relatif tidak terlalu jauh, hanya sekitar Rp2.300 per liter. Namun setelah kenaikan terbaru, jarak harga menjadi jauh lebih besar sehingga berpotensi mengubah pilihan konsumen.
“Selama ini konsumsi harian Pertamax terus tumbuh, bisa mencapai 1,6 ton sampai 1,8 ton per hari. Tapi setelah kenaikan ini kami belum tahu bagaimana perkembangannya. Bisa saja konsumen bergeser ke Pertalite,” katanya.
Prediksi meningkatnya konsumsi Pertalite juga diperkuat oleh fenomena antrean kendaraan yang mulai terlihat di sejumlah SPBU. Pengguna yang sebelumnya memilih Pertamax demi kenyamanan dan antrean lebih singkat kini mulai mempertimbangkan faktor ekonomi sebagai pertimbangan utama.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga dalam keterangan resminya menyebutkan penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui koordinasi dengan pemerintah sebagai regulator. Kebijakan tersebut mengikuti mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang mengacu pada regulasi yang berlaku.
“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya.
Dengan kenaikan harga yang cukup signifikan, pelaku usaha SPBU kini menunggu bagaimana respons pasar dalam beberapa pekan ke depan. Jika tren perpindahan konsumen benar-benar terjadi, konsumsi Pertalite diperkirakan meningkat, sementara pertumbuhan penggunaan Pertamax berpotensi melambat.
Perubahan tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana kebijakan harga energi dapat memengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menuntut efisiensi pengeluaran rumah tangga. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin