Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pemerintah Kejar 1.500 Km Jalan Tol Baru, Prosiwangi Masuk Prioritas 2029

Ali Sodiqin • Rabu, 10 Juni 2026 | 21:00 WIB
Gerbang tol Kraksaan Probolinggo. (Facebook @PUPR BPJT)
Gerbang tol Kraksaan Probolinggo. (Facebook @PUPR BPJT)

RADARBANYUWANGI.ID – Pemerintah memasang target ambisius di sektor infrastruktur. Sebanyak 1.500 kilometer jalan tol baru ditargetkan beroperasi hingga akhir 2029 sebagai bagian dari strategi memperkuat konektivitas nasional, mempercepat distribusi logistik, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.

Target tersebut tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025-2029 yang disusun Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) bersama Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Dengan target itu, pemerintah akan melanjutkan pembangunan sejumlah ruas strategis yang saat ini masih dalam tahap konstruksi maupun persiapan operasional.

Sekretaris BPJT Ni Komang Rasminiati mengatakan, pemerintah telah memetakan berbagai proyek prioritas yang harus diselesaikan dalam lima tahun ke depan agar target tersebut tercapai.

“BPJT dan juga Direktorat Jenderal Bina Marga memiliki Rencana Strategis 2025 sampai 2029. Di sana ada target sekitar 1.500 kilometer jalan tol baru yang harus beroperasi di akhir tahun 2029,” ujarnya di Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).

Menurut Komang, saat ini terdapat sekitar 1.000 kilometer jalan tol yang sedang didorong penyelesaiannya. Pemerintah bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dan para pemangku kepentingan terus melakukan pengawalan agar pembangunan berjalan sesuai jadwal.

“Sejauh ini yang sudah ada di BPJT itu kurang lebih sekitar 1.000 kilometer. Ini yang akan kita dorong terus untuk bagaimana mencapai target penyelesaiannya dan bisa dioperasikan di akhir tahun 2029,” katanya.

Prosiwangi Jadi Andalan di Jawa Timur

Salah satu proyek yang menjadi perhatian pemerintah adalah Jalan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi (Prosiwangi). Ruas ini dinilai strategis karena akan menjadi tulang punggung konektivitas kawasan Tapal Kuda Jawa Timur sekaligus mempercepat akses menuju Banyuwangi yang selama ini menjadi gerbang utama menuju Bali dari Pulau Jawa.

Komang menyebutkan, untuk segmen Probolinggo-Besuki, pembangunan fisik telah selesai. Saat ini ruas tersebut sedang menjalani tahapan Uji Layak Fungsi (ULF) sebelum dibuka secara penuh untuk masyarakat.

“Untuk Probolinggo-Banyuwangi yang sampai Besuki ini, insya Allah sudah selesai pembangunannya. Sekarang sedang dilaksanakan Uji Layak Fungsi operasinya,” jelasnya.

Jika seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal, ruas tersebut akan menjadi salah satu tambahan panjang jalan tol nasional yang berkontribusi terhadap target 1.500 kilometer hingga 2029.

Fokus di Jawa dan Sumatera

Selain Prosiwangi, pemerintah juga mempercepat penyelesaian sejumlah ruas strategis lainnya. Di antaranya Jalan Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat di Sumatera Utara yang mendukung konektivitas menuju kawasan Danau Toba, serta Jalan Tol Palembang Junction yang menjadi bagian penting jaringan tol Trans Sumatera.

Pembangunan jalan tol masih menjadi instrumen utama pemerintah dalam menekan biaya logistik nasional yang selama ini lebih tinggi dibanding negara-negara tetangga. Infrastruktur jalan yang memadai diyakini mampu mempercepat arus barang dan jasa, memperkuat daya saing industri, serta membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Tantangan Penyelesaian Proyek

Meski optimistis, pemerintah mengakui target 1.500 kilometer bukan pekerjaan ringan. Berbagai tantangan masih harus dihadapi, mulai dari pembebasan lahan, pendanaan proyek, hingga dinamika ekonomi global yang berpotensi memengaruhi biaya konstruksi.

Karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, investor, dan BUJT terus diperkuat agar proyek-proyek strategis tidak mengalami keterlambatan.

Dengan tambahan 1.500 kilometer jalan tol baru hingga 2029, Indonesia diproyeksikan memiliki jaringan jalan bebas hambatan yang semakin terintegrasi. Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor transportasi, tetapi juga investasi, pariwisata, perdagangan, hingga pemerataan pembangunan antarwilayah.

Pemerintah berharap target tersebut menjadi fondasi penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih kompetitif dalam lima tahun mendatang. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#BPJT 2029 #Tol Indonesia #Infrastruktur Nasional #jalan tol baru #tol prosiwangi