RADARBANYUWANGI.ID – Peringatan dini tsunami dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah laut di barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Senin pagi (8/6). Sejumlah daerah di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara hingga Kalimantan Timur masuk dalam zona waspada dan siaga tsunami.
Berdasarkan data BMKG, gempa terjadi pada pukul 06.37.42 WIB dengan pusat gempa berada di koordinat 5,69 Lintang Utara dan 125,05 Bujur Timur atau sekitar 236 kilometer barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe. Gempa terjadi pada kedalaman 105 kilometer.
Tak lama setelah gempa terjadi, BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah pesisir yang berpotensi terdampak berdasarkan hasil pemodelan. Status tertinggi yang dikeluarkan BMKG adalah Siaga, yang berarti pemerintah daerah diminta segera mengarahkan masyarakat untuk melakukan evakuasi.
Wilayah yang masuk kategori siaga antara lain Kepulauan Sangihe, Kota Manado, Minahasa Utara bagian utara, Minahasa bagian utara, Kepulauan Minahasa, Minahasa Selatan bagian utara, Bolaang Mongondow bagian utara, Gorontalo bagian utara, Buol, Toli-Toli, hingga wilayah selatan Minahasa Utara dan Minahasa.
Estimasi gelombang tsunami pertama diperkirakan tiba paling awal di Kepulauan Sangihe pada pukul 06.51.55 WIB. Sementara Kota Manado diperkirakan menerima dampak gelombang sekitar pukul 07.12 WIB.
Selain status siaga, BMKG juga menetapkan sejumlah daerah dalam kategori Waspada, di antaranya Kepulauan Talaud, Kota Bitung, Halmahera, Donggala bagian utara, Kota Ternate, Kota Tidore, Kutai Timur, Bulungan, hingga Nunukan.
Dalam pedoman peringatan dini tsunami, status waspada mengharuskan masyarakat menjauhi kawasan pantai dan tepian sungai untuk mengantisipasi potensi kenaikan muka air laut.
Gempa kuat yang terjadi di Laut Sulawesi ini langsung memicu kewaspadaan tinggi mengingat wilayah Indonesia timur berada di jalur cincin api Pasifik (Ring of Fire) yang dikenal aktif secara tektonik.
Hingga berita ini ditulis, BMKG masih melakukan pemantauan perkembangan kondisi laut dan aktivitas kegempaan susulan. Masyarakat di wilayah yang masuk zona siaga maupun waspada diminta tetap tenang, tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti arahan resmi pemerintah daerah dan BMKG.
Pemerintah daerah yang masuk kategori siaga juga diimbau mempercepat langkah mitigasi dengan mengarahkan warga menuju lokasi evakuasi yang aman sambil menunggu perkembangan informasi terbaru dari pusat pemantauan tsunami nasional.
Gempa besar ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap ancaman bencana alam, terutama di wilayah yang berada dekat jalur pertemuan lempeng aktif. Keselamatan warga menjadi prioritas utama selama proses pemantauan dan mitigasi berlangsung. (*)
Editor : Ali Sodiqin