RADARBANYUWANGI.ID – Industri penyeberangan di lintasan Ketapang-Gilimanuk sedang menghadapi ujian berat. Kenaikan harga oli kapal yang menembus lebih dari 100 persen dalam beberapa bulan terakhir membuat biaya operasional perusahaan pelayaran melonjak tajam. Di tengah tarif penyeberangan yang tidak berubah selama tiga tahun terakhir, operator kapal kini dipaksa melakukan berbagai langkah efisiensi untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Tekanan tersebut dirasakan hampir seluruh perusahaan pelayaran yang melayani jalur tersibuk penghubung Pulau Jawa dan Bali. Lonjakan biaya operasional tidak hanya berasal dari harga oli, tetapi juga merembet ke berbagai komponen pendukung kapal yang masih bergantung pada kurs dolar Amerika Serikat.
Ketua DPC Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Banyuwangi, Nurjatim, mengungkapkan bahwa kenaikan harga oli mulai terasa sejak memanasnya konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran pada Februari lalu.
Situasi tersebut kemudian diperparah dengan menguatnya nilai tukar dolar AS sehingga harga berbagai kebutuhan operasional kapal terus merangkak naik.
Menurut Nurjatim, pada tahun lalu harga oli kapal jenis SAE 40 masih berada di kisaran Rp 4,5 juta per drum berkapasitas 209 liter. Namun pada Maret 2026, harga melonjak menjadi Rp 6,9 juta per drum. Kenaikan kembali terjadi pada awal Juni hingga mencapai Rp 9,3 juta per drum.
“Kalau dibandingkan tahun lalu, kenaikannya sudah lebih dari 100 persen. Ini sangat membebani operator kapal,” ujarnya.
Oli menjadi salah satu komponen vital dalam operasional kapal penyeberangan. Rata-rata setiap kapal membutuhkan dua drum oli setiap bulan untuk menjaga performa mesin tetap optimal selama beroperasi.
Dengan kebutuhan yang tinggi dan harga yang terus meningkat, beban biaya yang harus ditanggung perusahaan pelayaran ikut membengkak secara signifikan.
Di sisi lain, operator kapal tidak memiliki ruang untuk menyesuaikan pendapatan karena tarif penyeberangan belum mengalami kenaikan dalam tiga tahun terakhir.
“Tarif tidak naik selama tiga tahun terakhir. Sementara biaya operasional terus naik. Akhirnya perusahaan harus melakukan efisiensi di berbagai sektor,” kata Nurjatim.
Keluhan serupa disampaikan Kepala Cabang PT Dua Bahari Menara Line, I Putu Widiana. Menurutnya, lonjakan biaya operasional tidak hanya dipicu oleh harga oli, tetapi juga kenaikan harga berbagai suku cadang kapal yang masih menggunakan acuan kurs dolar.
“Yang naik bukan hanya oli. Sparepart yang menggunakan kurs dolar juga mengalami kenaikan cukup tinggi. Dampaknya sangat terasa terhadap biaya operasional kapal,” ujarnya.
Untuk menekan pengeluaran, perusahaan pelayaran mulai menerapkan sejumlah langkah penghematan. Beberapa komponen yang sebelumnya langsung diganti kini dipertahankan selama masih layak digunakan.
Filter bahan bakar, misalnya, dibersihkan dan digunakan kembali untuk memperpanjang masa pakai. Begitu pula sejumlah bagian pipa yang seharusnya diganti, sementara ini diperbaiki dengan cara pengelasan.
“Misalnya filter bahan bakar yang masih memungkinkan digunakan kembali kami bersihkan dan pakai lagi. Ada juga bagian pipa yang seharusnya diganti, sementara ini diperbaiki dengan cara dilas,” jelas Putu.
Namun, langkah efisiensi tersebut bukan tanpa risiko. Operator kapal mengakui bahwa penghematan yang dilakukan secara terus-menerus berpotensi memengaruhi kualitas perawatan armada apabila tidak diimbangi dengan kemampuan finansial yang memadai.
Karena itu, perusahaan pelayaran menegaskan bahwa efisiensi hanya dilakukan pada batas yang masih aman dan tidak mengganggu aspek keselamatan pelayaran.
Menurut Putu, satu-satunya faktor yang masih membantu saat ini adalah harga bahan bakar minyak (BBM) yang tetap mendapatkan subsidi dari pemerintah.
“Untungnya BBM masih disubsidi. Kalau tidak, beban operasional akan jauh lebih besar lagi,” katanya.
Melihat kondisi yang terus berlangsung, para operator berharap pemerintah segera melakukan evaluasi terhadap tarif penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.
Penyesuaian tarif dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan usaha pelayaran sekaligus memastikan kualitas layanan dan keselamatan armada tetap terjaga di tengah tekanan biaya operasional yang terus meningkat.
“Kami berharap ada penyesuaian tarif. Dengan kondisi seperti sekarang, kami tidak tahu sampai kapan perusahaan bisa bertahan menanggung kenaikan biaya yang terus terjadi,” pungkas Putu.
Di tengah peran strategis lintasan Ketapang-Gilimanuk sebagai urat nadi distribusi logistik dan mobilitas masyarakat antara Jawa dan Bali, keberlangsungan industri penyeberangan menjadi faktor penting yang perlu mendapat perhatian. Tanpa solusi terhadap lonjakan biaya operasional, tekanan terhadap operator kapal dikhawatirkan akan semakin besar pada bulan-bulan mendatang. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin