RADARBANYUWANGI.ID – Antrean kendaraan logistik yang mengular hingga lebih dari enam kilometer menuju Pelabuhan Ketapang akhirnya mendapat penjelasan resmi dari PT ASDP Indonesia Ferry. Operator penyeberangan tersebut mengungkap kepadatan bukan dipicu satu faktor semata, melainkan kombinasi lonjakan kendaraan angkutan barang, pergeseran arus logistik tujuan Lombok, hingga proses adaptasi layanan digital Surat Persetujuan Berlayar (SPB) yang membuat waktu bongkar muat kapal lebih panjang dari biasanya.
Kemacetan yang terjadi sejak beberapa hari terakhir menjadi sorotan karena muncul pada hari normal, bukan saat musim liburan atau periode puncak penyeberangan.
Akibatnya, ribuan kendaraan logistik harus mengantre berjam-jam di jalur nasional Situbondo–Banyuwangi menuju Pelabuhan Ketapang. Bahkan antrean sempat mencapai kawasan Watudodol dengan panjang lebih dari enam kilometer.
Lonjakan Truk Logistik Jelang Akhir Pekan
General Manager ASDP Ketapang Arief Eko Kurniansjah menjelaskan, salah satu penyebab utama kepadatan adalah meningkatnya jumlah kendaraan angkutan barang yang menyeberang ke Bali maupun Lombok.
Menurut dia, peningkatan volume kendaraan besar memang kerap terjadi menjelang akhir pekan. Namun kali ini jumlahnya mengalami kenaikan dibandingkan kondisi normal harian.
“Memang ada peningkatan kendaraan besar yang menyeberang, termasuk tujuan Lombok. Karena kita lihat di Padang Bai juga cukup padat,” ujarnya.
Arief menyebut kenaikan volume kendaraan logistik mencapai sekitar dua persen dibandingkan rata-rata harian.
Meski secara persentase terlihat kecil, dampaknya cukup signifikan mengingat setiap hari lintasan Ketapang–Gilimanuk melayani sekitar 2.000 unit kendaraan besar.
Dengan jumlah kendaraan yang sudah tinggi sejak awal, tambahan beberapa puluh hingga ratusan unit kendaraan berat dapat langsung memengaruhi kapasitas layanan pelabuhan dan memicu antrean panjang.
Dampak Berkurangnya Kapal Tujuan Lombok
Selain peningkatan kendaraan menuju Bali, ASDP juga mencatat adanya perubahan pola distribusi logistik menuju Nusa Tenggara Barat.
Berkurangnya jumlah kapal yang beroperasi dari Pelabuhan Tanjungwangi menuju Pelabuhan Gili Mas, Lombok, membuat sebagian kendaraan logistik memilih jalur alternatif melalui Pelabuhan Ketapang.
Kondisi tersebut menyebabkan beban pelayanan di lintasan Ketapang–Gilimanuk semakin meningkat.
Truk-truk yang sebelumnya menggunakan jalur langsung ke Lombok kini harus terlebih dahulu menyeberang ke Bali sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Padang Bai.
Perubahan pola perjalanan itu menyebabkan volume kendaraan besar di Ketapang bertambah dalam waktu bersamaan.
SPB Online Perpanjang Waktu Bongkar Muat
Di sisi lain, proses digitalisasi layanan pelayaran juga ikut berkontribusi terhadap kepadatan.
Saat ini pengurusan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) telah dilakukan secara daring melalui sistem Inaportnet.
Meski bertujuan meningkatkan transparansi dan efisiensi layanan dalam jangka panjang, masa transisi sistem tersebut disebut membuat proses operasional kapal berjalan lebih lambat dibandingkan sebelumnya.
Penyesuaian administrasi digital menyebabkan kapal membutuhkan waktu lebih lama sebelum mendapatkan izin berlayar.
Dampaknya, waktu sandar kapal di pelabuhan ikut bertambah dan proses bongkar muat tidak bisa berjalan secepat kondisi normal.
Situasi tersebut berpengaruh langsung terhadap jumlah trip kapal yang dapat dilayani setiap hari.
Ketika perputaran kapal melambat, kendaraan yang menunggu keberangkatan otomatis semakin menumpuk di area pelabuhan dan sepanjang jalur menuju Ketapang.
Tambah Armada untuk Urai Kemacetan
Menghadapi lonjakan kendaraan tersebut, ASDP mulai menerapkan sejumlah langkah darurat untuk mempercepat pelayanan penyeberangan.
Salah satu kebijakan yang dilakukan adalah menambah jumlah kapal yang beroperasi di Dermaga Landing Craft Machine (LCM), dermaga yang secara khusus melayani kendaraan berat dan logistik.
Jika sebelumnya hanya sembilan kapal yang beroperasi setiap hari, kini jumlah armada ditingkatkan menjadi 12 kapal.
“Per hari ini kapal yang beroperasi di LCM ditambah menjadi 12 unit. Kami juga mengoperasikan KMP Rodhita sejak kepadatan awal terjadi pada Selasa,” kata Arief.
Penambahan armada tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas angkut kendaraan logistik dan mengurangi waktu tunggu di pelabuhan.
Terapkan Sistem Tiba-Bongkar-Berangkat
Selain menambah kapal, ASDP juga mengaktifkan skema operasional Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB).
Melalui sistem tersebut, kapal yang tiba di Pelabuhan Gilimanuk dapat langsung kembali menuju Ketapang setelah proses bongkar kendaraan selesai tanpa harus menunggu terlalu lama di dermaga.
Strategi ini memungkinkan frekuensi pelayaran meningkat sehingga perputaran kapal menjadi lebih cepat.
“Kondisi dermaga di Gilimanuk memungkinkan diterapkan sistem TBB sehingga perputaran kapal bisa lebih cepat,” tegas Arief.
Menurutnya, percepatan rotasi kapal menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mengurangi antrean kendaraan dalam jangka pendek.
Polisi dan Dishub Rekayasa Arus Lalu Lintas
Upaya penanganan tidak hanya dilakukan di dalam kawasan pelabuhan.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi antara ASDP, Polresta Banyuwangi, dan instansi terkait, rekayasa lalu lintas juga diterapkan di luar area pelabuhan untuk mencegah kemacetan semakin meluas.
Petugas kepolisian bersama Dinas Perhubungan melakukan pengaturan arus kendaraan logistik agar distribusi antrean lebih tertata dan tidak mengganggu lalu lintas umum.
“Untuk jangka pendek itu yang bisa dilakukan. Kalau untuk upgrade dermaga, paling cepat bisa diterapkan pada masa libur Natal dan Tahun Baru,” jelas Arief.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa solusi infrastruktur jangka panjang masih membutuhkan waktu, sementara penanganan saat ini difokuskan pada optimalisasi armada dan manajemen lalu lintas.
Ketapang Kembali Diuji Sebagai Gerbang Logistik Nasional
Pelabuhan Ketapang merupakan salah satu simpul logistik terpenting di Indonesia karena menjadi penghubung utama distribusi barang antara Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Setiap gangguan operasional di lintasan ini berpotensi memengaruhi rantai pasok berbagai sektor usaha, mulai industri konstruksi, perdagangan, hingga kebutuhan pokok masyarakat.
Karena itu, lonjakan kendaraan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi ujian bagi kapasitas layanan penyeberangan nasional.
Dengan tambahan armada, percepatan rotasi kapal, serta rekayasa lalu lintas yang diterapkan, ASDP berharap antrean kendaraan logistik menuju Pelabuhan Ketapang dapat segera berangsur normal dalam beberapa hari ke depan. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin