Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Antrean Truk ke Pelabuhan Ketapang Tembus 6 Kilometer, Sopir Terjebak hingga 15 Jam, Sistem Online SPB Disorot

Fredy Rizki Manunggal • Sabtu, 6 Juni 2026 | 05:00 WIB
Kemacetan panjang kembali terjadi di sepanjang jalan arteri menuju Pelabuhan ASDP Ketapang, Jumat (5/6). Ekor kemacetan sejauh 6,2 kilometer ke arah utara Pelabuhan Ketapang, tepatnya di kawasan Watudodol. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Kemacetan panjang kembali terjadi di sepanjang jalan arteri menuju Pelabuhan ASDP Ketapang, Jumat (5/6). Ekor kemacetan sejauh 6,2 kilometer ke arah utara Pelabuhan Ketapang, tepatnya di kawasan Watudodol. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Antrean kendaraan logistik kembali mengular di jalur nasional Situbondo–Banyuwangi menuju Pelabuhan Ketapang. Yang membuat kondisi ini menjadi sorotan, kemacetan panjang terjadi pada hari normal, bukan saat libur panjang maupun periode penyeberangan padat. Hingga Jumat siang (5/6), antrean truk bahkan membentang lebih dari enam kilometer dan mencapai kawasan wisata Watudodol.

Kemacetan tersebut didominasi kendaraan angkutan barang yang hendak menyeberang menuju Bali. Truk-truk bermuatan semen, bata ringan, besi, hingga box culvert tampak memenuhi badan jalan dari depan Pelabuhan Ketapang hingga wilayah Watudodol.

Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan dari arah utara menuju pelabuhan mencapai sekitar 6,2 kilometer. Sementara kendaraan pribadi, minibus, maupun bus antarkota terlihat relatif lebih sedikit dibandingkan kendaraan logistik.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku transportasi karena terjadi pada hari kerja biasa, ketika volume penyeberangan umumnya tidak mengalami lonjakan signifikan.

Sistem SPB Online Disebut Memperlambat Proses

Sejumlah pelaku pelayaran menduga antrean panjang tidak hanya dipengaruhi volume kendaraan, tetapi juga berkaitan dengan proses administrasi keberangkatan kapal yang kini dilakukan secara digital melalui aplikasi Inaportnet.

Wawan, salah seorang nakhoda kapal yang melayani lintasan Ketapang–Gilimanuk, mengungkapkan bahwa proses penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan sebelumnya.

Menurut dia, saat pengurusan masih dilakukan secara manual, proses administrasi hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Namun setelah seluruh layanan dilakukan secara daring melalui sistem Inaportnet, waktu yang dibutuhkan meningkat hingga sekitar 1,5 jam.

“Mungkin karena masih penyesuaian, tapi dampaknya cukup membuat proses bongkar muat lebih lama. Biasanya maksimal 40 menit, sekarang bisa satu jam lebih,” ujarnya.

Lamanya proses administrasi tersebut berdampak langsung pada pergerakan kapal di pelabuhan. Ketika waktu sandar dan bongkar muat bertambah, kapasitas layanan penyeberangan otomatis menurun sehingga kendaraan yang menunggu keberangkatan semakin menumpuk.

Sopir Truk Terjebak hingga Belasan Jam

Kemacetan panjang tidak hanya mengganggu arus distribusi barang, tetapi juga memukul produktivitas para sopir logistik yang harus menghabiskan waktu berjam-jam di jalan.

Salah satunya dialami Udin, sopir truk asal Gresik yang membawa muatan air minum dalam kemasan menuju Kabupaten Badung, Bali.

Ia mengaku mulai terjebak antrean pada Kamis sore (4/6) sekitar pukul 18.00. Saat itu posisi kendaraannya masih berjarak sekitar tiga kilometer dari pintu masuk Pelabuhan Ketapang.

Namun perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu singkat berubah menjadi perjuangan panjang.

“Saya kena macet jam enam sore. Baru sampai area parkir pelabuhan sekitar jam 12 malam, lalu jam sembilan pagi baru masuk kapal,” keluhnya.

Artinya, Udin harus menghabiskan waktu sekitar 15 jam sejak mulai masuk antrean hingga akhirnya berhasil menyeberang menuju Bali.

Bagi pelaku usaha logistik, keterlambatan seperti itu berpotensi meningkatkan biaya operasional karena konsumsi bahan bakar, waktu kerja sopir, hingga jadwal distribusi barang ikut terdampak.

Polisi Berlakukan Rekayasa Lalu Lintas

Untuk mengurangi kepadatan yang terus bertambah, aparat kepolisian melakukan pengaturan lalu lintas di sejumlah titik strategis menuju Pelabuhan Ketapang.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kemacetan hanya terjadi pada kendaraan yang bergerak dari arah Situbondo menuju pelabuhan. Sementara arus kendaraan dari arah Banyuwangi menuju Situbondo relatif lancar.

Satlantas Polresta Banyuwangi menerapkan rekayasa lalu lintas dengan mengarahkan kendaraan dari arah kota Banyuwangi menuju Situbondo melalui jalur lingkar Ketapang.

Pengaturan ketat juga dilakukan di Simpang Tiga depan Kantor Kesatuan Penjagaan Pantai dan Pelabuhan (KPPP) Tanjungwangi.

Di lokasi tersebut sempat terjadi gangguan arus karena sejumlah kendaraan berat dari arah barat mencoba masuk ke jalur selatan yang mengarah ke pusat kemacetan.

Petugas kepolisian yang berjaga langsung mengarahkan kendaraan tersebut agar tetap bergerak ke arah utara guna menghindari penumpukan kendaraan yang lebih parah.

“Kami mengatur arus lalu lintas sejak pagi. Arus menuju Pelabuhan Ketapang kami berlakukan satu arah supaya tidak tambah parah macetnya,” ujar Aipda Erwin, anggota Satlantas Polresta Banyuwangi yang bertugas di lokasi.

Jalur Logistik Nasional Kembali Diuji

Pelabuhan Ketapang selama ini menjadi simpul utama pergerakan logistik antara Pulau Jawa dan Bali. Setiap hari ribuan kendaraan barang melintasi jalur tersebut untuk mendistribusikan berbagai kebutuhan industri, konstruksi, hingga bahan pokok.

Karena itu, gangguan sekecil apa pun pada sistem penyeberangan dapat menimbulkan efek berantai terhadap rantai pasok nasional.

Antrean hingga lebih dari enam kilometer pada hari normal menjadi sinyal bahwa kapasitas layanan dan sistem pendukung operasional di lintasan Ketapang–Gilimanuk perlu terus dievaluasi.

Pelaku transportasi berharap proses adaptasi sistem digital di pelabuhan dapat segera berjalan optimal sehingga tidak lagi menimbulkan perlambatan pelayanan yang berdampak pada distribusi logistik.

Sementara itu, hingga Jumat siang antrean kendaraan berat masih terlihat mengular menuju Pelabuhan Ketapang. Petugas gabungan terus melakukan pengaturan lalu lintas guna memastikan arus kendaraan tetap bergerak dan kemacetan tidak meluas ke pusat kota Banyuwangi. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Kemacetan Ketapang Banyuwangi #Truk logistik ke Bali #SPB online Inaportnet #Jalur Situbondo Banyuwangi #antrean pelabuhan Ketapang