Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gus Salam Minta Polemik Munas-Konbes NU Segera Diakhiri, Penetapan Ponpes Ploso Jadi Sorotan

Ali Sodiqin • Jumat, 5 Juni 2026 | 20:00 WIB
Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah, Ploso Kediri. Rencananya, pesantren ini jadi tuan rumah Munas-Konbes NU 2026. (RadarKediri.id)
Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah, Ploso Kediri. Rencananya, pesantren ini jadi tuan rumah Munas-Konbes NU 2026. (RadarKediri.id)

RADARBANYUWANGI.ID – Penetapan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, sebagai lokasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2026 memunculkan dinamika di internal organisasi. Di tengah berbagai respons yang berkembang, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, meminta seluruh pihak segera menerima keputusan tersebut demi menjaga kondusivitas organisasi dan dunia pesantren.

Menurut Gus Salam, keputusan yang telah ditetapkan oleh Rais Aam PBNU harus dihormati sebagai bagian dari mekanisme organisasi. Ia mengingatkan agar perbedaan pandangan yang muncul tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan yang berpotensi merembet ke lingkungan pesantren.

“Ya saya berharap itu segera clear dan harus disepakati oleh semua pihak yang memang harusnya menyepakati hal itu. Jangan sampai kemudian dinamika di NU yang terjadi berimbas pada pesantren,” ujar Gus Salam kepada wartawan di Surabaya, Rabu (3/6/2026).

Pernyataan tersebut muncul setelah Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, resmi menetapkan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagai tuan rumah Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU yang dijadwalkan berlangsung pada 20-21 Juni 2026.

Penetapan Ponpes Ploso Berdasarkan Hasil Survei dan Pertimbangan Ruhaniah

Keputusan itu tertuang dalam surat instruksi yang ditandatangani KH Miftachul Akhyar pada 2 Juni 2026.

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa penetapan lokasi dilakukan setelah Rais Aam mempelajari laporan tim survei yang sebelumnya merekomendasikan tiga kandidat lokasi penyelenggaraan Munas-Konbes NU.

Selain mempertimbangkan hasil survei lapangan, keputusan juga diambil berdasarkan pertimbangan ruhaniah yang menjadi salah satu tradisi dalam pengambilan keputusan penting di lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Setelah mempelajari dengan seksama laporan Tim Survei yang merekomendasikan tiga calon lokasi Munas Alim Ulama dan Konbes NU dan setelah mendapatkan pertimbangan dari aspek ruhaniah, saya memilih dan memutuskan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagai lokasi penyelenggaraan Munas Alim Ulama dan Konbes NU pada tanggal 20-21 Juni 2026,” demikian isi surat tersebut.

Keputusan tersebut juga disebut telah dikomunikasikan kepada Ketua Umum PBNU melalui pesan WhatsApp pada 1 Juni 2026.

Munas-Konbes Jadi Penentu Agenda Besar NU

Bagi kalangan Nahdliyin, Munas-Konbes bukan sekadar forum rutin organisasi.

Agenda tersebut memiliki posisi strategis karena menjadi ruang pengambilan keputusan penting yang akan menentukan arah perjalanan organisasi ke depan, termasuk terkait pelaksanaan Muktamar NU.

Gus Salam menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman beberapa periode sebelumnya, Muktamar NU biasanya digelar sekitar satu bulan setelah pelaksanaan Munas-Konbes.

Karena itu, forum yang akan berlangsung di Ponpes Al-Falah Ploso diperkirakan akan menjadi momentum krusial dalam menentukan waktu dan lokasi penyelenggaraan Muktamar NU berikutnya.

“Muktamar akan digelar biasanya sebulan setelah pelaksanaan Munas-Konbes NU, seperti di Muktamar Lampung dulu. Pelaksanaan kapan dan lokasi Muktamar NU akan ditentukan saat Munas-Konbes NU di Ponpes Ploso Kediri itu,” jelasnya.

Keputusan mengenai Muktamar memiliki dampak besar karena menyangkut agenda regenerasi kepemimpinan serta arah kebijakan organisasi ke depan.

Sejumlah Pesantren Berebut Jadi Tuan Rumah Muktamar

Menjelang pelaksanaan Munas-Konbes, sejumlah pondok pesantren di berbagai daerah mulai menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah Muktamar NU.

Mayoritas berasal dari Jawa Timur yang selama ini dikenal sebagai basis terbesar warga Nahdlatul Ulama dan pusat perkembangan pesantren tradisional di Indonesia.

Beberapa pesantren yang disebut telah menyatakan kesiapannya antara lain Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Syaichona Kholil Bangkalan, Pondok Pesantren Walisongo Situbondo, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo, Pondok Pesantren Amanatul Ummah Mojokerto, hingga Pondok Pesantren Buntet Cirebon.

Selain dari kalangan pesantren, dukungan penyelenggaraan juga datang dari sejumlah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di berbagai provinsi.

Menurut Gus Salam, beberapa PWNU yang telah menyatakan kesiapan menjadi penyelenggara Muktamar NU antara lain PWNU Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, DKI Jakarta, dan Kalimantan Selatan.

“Untuk kesiapan lokasi Muktamar NU dari PWNU, ada PWNU NTB, Sumbar, DKI, dan Kalsel yang bersedia. Sedangkan untuk Jatim, bukan PWNU tetapi lebih ke ponpes,” katanya.

Menjaga Marwah Pesantren

Di tengah dinamika yang berkembang, Gus Salam menekankan pentingnya menjaga marwah pesantren agar tidak terseret dalam perbedaan pandangan politik maupun organisasi.

Menurutnya, pesantren selama ini menjadi pilar utama pendidikan Islam dan pembinaan umat yang harus tetap berdiri di atas kepentingan yang lebih besar.

Karena itu, seluruh pihak di lingkungan NU diharapkan mengedepankan musyawarah dan menghormati keputusan yang telah diambil oleh struktur organisasi.

Ia menilai persatuan warga Nahdliyin jauh lebih penting dibanding mempertajam perdebatan mengenai lokasi pelaksanaan forum organisasi.

Momentum Menentukan Masa Depan NU

Pelaksanaan Munas-Konbes NU di Ponpes Al-Falah Ploso Kediri diperkirakan akan menjadi salah satu forum paling penting bagi Nahdlatul Ulama pada tahun ini.

Selain membahas berbagai persoalan keumatan, forum tersebut akan menjadi pintu masuk menuju agenda Muktamar NU yang akan menentukan arah organisasi ke depan.

Sejumlah keputusan strategis diperkirakan akan lahir dari forum tersebut, mulai dari penentuan waktu dan lokasi Muktamar hingga pembahasan isu-isu kebangsaan, pendidikan pesantren, serta penguatan peran NU di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks.

Karena itu, banyak kalangan berharap dinamika yang muncul pascapenetapan lokasi Munas-Konbes dapat segera diselesaikan agar seluruh energi organisasi dapat difokuskan untuk menyukseskan agenda besar Nahdlatul Ulama tersebut.

Dengan ditetapkannya Ponpes Al-Falah Ploso sebagai tuan rumah, perhatian warga Nahdliyin kini tertuju ke Kediri. Dari pesantren bersejarah itu, arah perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk beberapa tahun ke depan akan mulai ditentukan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Munas Konbes NU 2026 #Ponpes Al Falah Ploso #Gus Salam #Muktamar NU #KH Miftachul Akhyar