Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perang Iran-AS-Israel Hantam Bandara Banyuwangi, Penumpang Anjlok hingga 35 Persen akibat Tiket Pesawat Melonjak

Zamrozi Wahyu • Kamis, 4 Juni 2026 | 07:08 WIB
TRANSPORTASI UDARA: Sejumlah penumpang pesawat bersiap keluar Bandara Banyuwangi beberapa waktu lalu. (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
TRANSPORTASI UDARA: Sejumlah penumpang pesawat bersiap keluar Bandara Banyuwangi beberapa waktu lalu. (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Gejolak konflik di Timur Tengah ternyata tidak hanya berdampak pada pasar energi dunia, tetapi juga mulai dirasakan hingga ke daerah. Di Banyuwangi, perang yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu efek berantai yang berujung pada merosotnya jumlah penumpang pesawat.

Kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) akibat terganggunya jalur distribusi minyak dunia membuat harga tiket penerbangan melonjak tajam. Dampaknya, jumlah penumpang di Bandara Banyuwangi anjlok hingga 35 persen dalam dua bulan terakhir.

Data yang dihimpun manajemen Bandara Banyuwangi menunjukkan penurunan signifikan terjadi sepanjang April hingga Mei 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu pukulan bagi sektor transportasi udara yang sebelumnya mulai menunjukkan tren pemulihan.

General Manager Bandara Banyuwangi, Holik Muardi, mengungkapkan bahwa jumlah penumpang selama dua bulan terakhir mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan kondisi normal.

Pada April 2026, total penumpang yang menggunakan layanan penerbangan dari dan menuju Banyuwangi tercatat sebanyak 7.420 orang. Angka tersebut kembali turun pada Mei menjadi 6.780 penumpang.

Padahal, dalam kondisi normal jumlah pengguna jasa penerbangan di Bandara Banyuwangi bisa mencapai sekitar 10 ribu penumpang setiap bulan.

“Dua bulan terakhir turun sekitar 25 persen sampai 35 persen dibandingkan kondisi normal,” ujar Holik.

Efek Domino Konflik Timur Tengah

Menurut Holik, penurunan jumlah penumpang tidak bisa dilepaskan dari situasi geopolitik global yang memanas dalam beberapa waktu terakhir.

Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah berdampak pada terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia.

Selat tersebut menjadi pintu utama pengiriman minyak mentah dan berbagai produk energi ke sejumlah negara. Ketika jalur itu terganggu, harga minyak dunia ikut terdorong naik.

Kenaikan harga minyak kemudian berdampak langsung terhadap harga avtur yang menjadi komponen utama biaya operasional maskapai penerbangan.

Selain itu, penguatan nilai dolar Amerika Serikat juga ikut memberikan tekanan tambahan terhadap biaya operasional industri penerbangan nasional.

Akibatnya, maskapai melakukan penyesuaian harga tiket untuk menutupi kenaikan biaya operasional tersebut.

Harga Tiket Melonjak Hingga 40 Persen

Lonjakan harga tiket menjadi faktor utama yang diduga menyebabkan masyarakat menunda atau mengurangi perjalanan menggunakan pesawat.

Holik menjelaskan, sebelum terjadi kenaikan, harga tiket rute Banyuwangi–Jakarta pada hari biasa berkisar Rp 1,2 juta per penumpang.

Namun dalam beberapa bulan terakhir, harga tiket pada rute yang sama melonjak hingga berada di kisaran Rp 1,7 juta sampai Rp 2 juta.

“Pada hari biasa harga tiket Banyuwangi-Jakarta sekitar Rp 1,2 juta. Sekarang bisa mencapai Rp 1,7 juta hingga Rp 2 juta,” jelasnya.

Kenaikan tersebut setara dengan sekitar 40 persen dibandingkan harga normal sebelumnya.

Bagi sebagian masyarakat, lonjakan harga tersebut membuat perjalanan udara menjadi kurang terjangkau sehingga banyak calon penumpang memilih menunda perjalanan atau beralih menggunakan moda transportasi lain.

Sempat Kurangi Frekuensi Penerbangan

Dampak penurunan jumlah penumpang juga sempat terlihat dari jadwal operasional penerbangan.

Pada April dan Mei lalu, penerbangan rute Banyuwangi–Jakarta yang biasanya beroperasi setiap hari sempat mengalami pengurangan frekuensi.

“Rute Banyuwangi-Jakarta seharusnya terbang setiap hari. Namun selama April dan Mei, dalam satu minggu tidak beroperasi dua hari, yakni Selasa dan Sabtu,” terang Holik.

Pengurangan jadwal tersebut menjadi salah satu indikator melemahnya permintaan penumpang selama periode tersebut.

Meski demikian, kondisi operasional penerbangan mulai menunjukkan perbaikan memasuki Juni 2026.

Operasional Penerbangan Kembali Normal

Holik memastikan bahwa hingga pekan pertama Juni, seluruh jadwal penerbangan di Bandara Banyuwangi berjalan normal.

Rute Banyuwangi–Jakarta kembali melayani penerbangan pergi-pulang (PP) setiap hari mulai Senin (1/6) hingga Minggu (7/6).

Sementara penerbangan Banyuwangi–Surabaya tetap beroperasi dengan pola satu hari datang dan satu hari berangkat.

Sedangkan untuk rute Banyuwangi–Lombok, penerbangan dijadwalkan beroperasi pada Rabu (3/6) dan Minggu (7/6) untuk keberangkatan maupun kedatangan.

“Dilihat dari jadwalnya, operasional pesawat berjalan normal,” kata Holik.

Ancaman bagi Mobilitas dan Pariwisata

Penurunan jumlah penumpang pesawat tidak hanya berdampak pada sektor penerbangan. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi mobilitas masyarakat, aktivitas bisnis, hingga sektor pariwisata Banyuwangi yang selama ini banyak bergantung pada akses transportasi udara.

Bandara Banyuwangi merupakan salah satu pintu masuk utama wisatawan dan pelaku usaha dari berbagai daerah, terutama Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Jika harga tiket terus bertahan tinggi dalam waktu lama, bukan tidak mungkin jumlah kunjungan wisatawan dan perjalanan bisnis ke Banyuwangi ikut terpengaruh.

Karena itu, pelaku industri penerbangan berharap kondisi geopolitik global segera membaik sehingga harga energi kembali stabil dan tarif penerbangan dapat kembali terjangkau bagi masyarakat.

Sebab, perang yang terjadi ribuan kilometer dari Banyuwangi kini terbukti memberikan dampak nyata hingga ke kursi-kursi penumpang di Bandara Banyuwangi yang semakin banyak kosong dalam dua bulan terakhir. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#harga avtur #penumpang pesawat turun #harga tiket pesawat naik #bandara banyuwangi #Perang Iran Israel