Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Trans Borneo Railway Siap Hubungkan IKN, Malaysia dan Brunei, Sejalan dengan Proyek Kereta Api Kalimantan 2.772 Km

Ali Sodiqin • Senin, 1 Juni 2026 | 12:30 WIB
Rencana jalur kereta cepat Trans Borneo disebut akan menghubungkan Pontianak, Brunei, Sabah, hingga kawasan IKN. (Dok.Brunergy, Diolah: AI/Pontianak Post)
Rencana jalur kereta cepat Trans Borneo disebut akan menghubungkan Pontianak, Brunei, Sabah, hingga kawasan IKN. (Dok.Brunergy, Diolah: AI/Pontianak Post)

RADARBANYUWANGI.ID - Ambisi membangun jaringan kereta api modern di Pulau Kalimantan memasuki babak baru. Di saat pemerintah Indonesia menyiapkan pembangunan rel kereta sepanjang 2.772 kilometer hingga tahun 2045, sebuah proyek lintas negara bernama Trans Borneo Railway (TBR) muncul dengan visi yang lebih besar: menghubungkan Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam dalam satu jaringan kereta cepat terintegrasi.

Jika terealisasi, proyek tersebut berpotensi mengubah wajah transportasi dan logistik di Pulau Kalimantan secara fundamental. Tidak hanya memangkas waktu tempuh antarwilayah, jaringan rel itu juga dapat menjadi tulang punggung baru konektivitas kawasan Borneo yang selama ini masih bergantung pada transportasi jalan raya, sungai, dan udara.

Yang menarik, rencana TBR memiliki sejumlah titik temu dengan agenda pembangunan nasional Indonesia, terutama proyek pengembangan jaringan kereta api Kalimantan yang telah masuk dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas).

Trans Borneo Railway Tawarkan Jalur Kereta Cepat 1.620 Kilometer

Gagasan Trans Borneo Railway pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan asal Brunei Darussalam, Brunergy Utama Sdn Bhd.

Melalui proposal yang dipublikasikan di situs resminya, Brunergy menawarkan pembangunan jaringan kereta cepat sepanjang 1.620 kilometer yang membentang dari Kalimantan Barat hingga Sabah, Malaysia, lalu diteruskan menuju Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.

Proyek tersebut dirancang menggunakan teknologi kereta cepat dengan kecepatan operasional antara 300 hingga 350 kilometer per jam.

Dengan konsep tersebut, waktu perjalanan antarwilayah di Pulau Kalimantan yang saat ini membutuhkan berjam-jam bahkan berhari-hari dapat dipangkas secara signifikan.

Brunergy memperkirakan jarak rata-rata antarstasiun sekitar 150 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit per segmen perjalanan.

Konsep ini menjadikan TBR bukan sekadar proyek transportasi, melainkan transformasi besar dalam pola mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di Pulau Borneo.

Dua Tahap Besar Pengembangan Jalur

Dalam proposal yang dipublikasikan perusahaan tersebut, pembangunan Trans Borneo Railway dirancang dalam dua tahap utama.

Tahap pertama akan menghubungkan wilayah pesisir Kalimantan Barat hingga Sabah, Malaysia.

Jalur tersebut direncanakan melintasi:

Koridor ini dinilai memiliki potensi ekonomi tinggi karena menghubungkan sejumlah pusat perdagangan dan industri utama di Pulau Kalimantan.

Sementara itu, tahap kedua akan menjadi bagian yang paling strategis bagi Indonesia.

Jalur akan diperpanjang dari Brunei menuju Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur melalui:

Jika jalur tersebut benar-benar terwujud, IKN berpotensi menjadi salah satu simpul utama jaringan transportasi regional di Pulau Borneo.

Pemerintah Indonesia Belum Terima Proposal Resmi

Meski proyek ini mendapat perhatian luas, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa hingga kini belum menerima proposal resmi terkait pembangunan Trans Borneo Railway.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengaku baru mengetahui adanya gagasan tersebut dari informasi yang berkembang di Malaysia dan Sarawak.

Menurutnya, pemerintah terbuka untuk membahas proyek tersebut apabila dinilai memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang besar bagi seluruh pihak.

Namun demikian, pembahasan masih berada pada tahap komunikasi awal dan belum memasuki kajian teknis maupun negosiasi formal.

Pemerintah menilai masih banyak aspek yang harus dihitung secara matang, mulai dari kelayakan ekonomi, potensi jumlah penumpang, kebutuhan investasi, hingga dampak terhadap pembangunan wilayah.

Karena itu, proyek TBR saat ini masih berada pada tahap konseptual dan membutuhkan proses panjang sebelum dapat direalisasikan.

Sejalan dengan Ambisi Besar Indonesia di Kalimantan

Meski belum masuk tahap implementasi, konsep TBR dinilai memiliki keselarasan dengan arah pembangunan nasional Indonesia.

Pemerintah saat ini tengah menyiapkan pengembangan jaringan rel kereta api Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer hingga tahun 2045 sebagai bagian dari Ripnas.

Proyek tersebut menjadi salah satu agenda strategis untuk memperkuat konektivitas di luar Pulau Jawa sekaligus mendukung pembangunan IKN.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebelumnya menegaskan bahwa pembangunan Kalimantan tidak bisa hanya mengandalkan jalan nasional dan jalan tol.

Menurut AHY, Indonesia membutuhkan sistem transportasi yang terintegrasi antara jalur laut, udara, dan kereta api agar pembangunan ekonomi lebih merata.

Pandangan tersebut semakin relevan ketika aktivitas ekonomi di Kalimantan terus meningkat seiring pembangunan IKN dan ekspansi kawasan industri baru.

Harapan Baru Wilayah Pedalaman Kalimantan

Salah satu alasan utama Brunergy mengusulkan proyek TBR adalah untuk membuka keterisolasian wilayah pedalaman Kalimantan.

Selama puluhan tahun, banyak kawasan di pedalaman Borneo menghadapi keterbatasan akses transportasi yang berdampak pada tingginya biaya logistik dan rendahnya mobilitas masyarakat.

Dengan adanya jaringan kereta cepat lintas negara, distribusi barang dan jasa diperkirakan menjadi lebih efisien.

Selain itu, proyek tersebut diyakini dapat mendorong munculnya pusat-pusat ekonomi baru di sepanjang koridor rel.

Tidak hanya sektor perdagangan, manfaat juga diproyeksikan dirasakan oleh sektor pariwisata, investasi, pendidikan, hingga layanan kesehatan.

Brunergy bahkan menyebut proyek tersebut dapat memperkuat integrasi sosial dan ekonomi di Pulau Kalimantan yang dihuni lebih dari 30 kelompok etnis dengan karakter budaya yang beragam.

Tantangan Besar Masih Menanti

Meski menawarkan visi yang ambisius, proyek Trans Borneo Railway masih menghadapi berbagai tantangan.

Selain kebutuhan investasi yang sangat besar, pembangunan rel lintas negara juga memerlukan kesepakatan politik, regulasi, dan teknis antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Aspek lingkungan juga menjadi perhatian mengingat sebagian jalur akan melintasi kawasan hutan tropis, daerah konservasi, hingga wilayah gambut yang sensitif.

Karena itu, kajian mendalam menjadi syarat utama sebelum proyek dapat bergerak ke tahap berikutnya.

Namun satu hal yang mulai terlihat jelas, gagasan membangun jaringan rel modern di Pulau Kalimantan kini bukan lagi sekadar mimpi.

Ketika Indonesia menyiapkan rel sepanjang 2.772 kilometer dan Trans Borneo Railway menawarkan konektivitas lintas negara sejauh 1.620 kilometer, Pulau Kalimantan berpeluang memasuki era baru transportasi yang dapat mengubah peta ekonomi kawasan untuk puluhan tahun ke depan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#kereta api Kalimantan #Trans Borneo Railway #Kereta Api IKN #Brunergy #Rel Kereta Kalimantan