Muktamar NU ke-35 Diperebutkan, Amanatul Ummah dan PCNU Cirebon Berebut Jadi Tuan Rumah

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 29 Mei 2026 | 13:00 WIB
Logo PBNU. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Logo PBNU. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

RADARBANYUWANGI.ID – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 pada Agustus 2026 mendatang, persaingan menjadi tuan rumah forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia mulai menghangat. Sejumlah pondok pesantren hingga pengurus cabang NU daerah mulai bergerak mengajukan diri secara resmi kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Meski lokasi pelaksanaan muktamar belum diputuskan, dinamika dukungan dan lobi dari berbagai daerah mulai terlihat. Tidak hanya menawarkan kesiapan fasilitas, para pengusul juga menonjolkan nilai historis, basis pesantren, hingga kekuatan Nahdliyin di wilayah masing-masing.

Dua nama yang kini mencuat ialah Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto dan kawasan Cirebon Raya yang diusulkan PCNU Kabupaten Cirebon.

Amanatul Ummah Pacet Resmi Ajukan Diri

Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto menjadi salah satu pihak yang secara resmi mengajukan diri sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-35.

Pengajuan tersebut disampaikan melalui surat resmi kepada Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim menegaskan pihaknya siap secara penuh mendukung pelaksanaan forum strategis Nahdlatul Ulama tersebut.

“Kami berharap diberikan kesempatan menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU. Amanatul Ummah siap secara lahir maupun batin untuk ikut menyukseskan agenda besar jam'iyah Nahdlatul Ulama,” kata Kiai Asep, Senin (25/5/2026).

Menurut dia, Muktamar NU bukan sekadar agenda organisatoris lima tahunan, melainkan momentum besar menentukan arah khidmah NU di masa depan.

“Muktamar adalah forum strategis yang menentukan arah khidmah Nahdlatul Ulama ke depan. Karena itu, kami ingin ikut berkhidmah dengan memberikan fasilitas terbaik dan pelayanan terbaik untuk warga Nahdliyin,” ujarnya.

Tawarkan Suasana Pesantren dan Fasilitas Besar

Kiai Asep menilai kawasan Pacet Mojokerto sangat representatif untuk menjadi lokasi muktamar karena memiliki suasana pesantren yang kuat dan kondusif bagi forum ulama.

Selain itu, posisi Mojokerto dinilai strategis dan mudah dijangkau dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

“Lingkungan pesantren memberikan suasana spiritual dan kekhidmatan yang sesuai dengan tradisi NU. Selain itu, Mojokerto juga berada di kawasan strategis dan mudah diakses,” katanya.

Kompleks Pondok Pesantren Amanatul Ummah disebut memiliki berbagai fasilitas penunjang untuk kegiatan berskala nasional.

Mulai dari Masjid Raya Abdul Chalim tiga lantai, guest house, student center berkapasitas sekitar 4.000 peserta, klinik tiga lantai, area parkir luas, hingga berbagai gedung pendidikan bertingkat.

Tak hanya itu, kesiapan juga diperkuat oleh fasilitas milik Universitas KH Abdul Chalim serta kompleks pendidikan MBI Amanatul Ummah, MTs dan MA Hikmatul Amanah.

Fasilitas tersebut mencakup gedung perkuliahan, apartemen mahasiswa, wisma, masjid, hingga pusat entrepreneurship.

PCNU Cirebon Usung Kawasan Cirebon Raya

Tak hanya Mojokerto, PCNU Kabupaten Cirebon juga resmi melayangkan surat permohonan kepada Ketua Panitia Muktamar NU ke-35, Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Dalam surat tersebut, PCNU meminta agar kawasan Cirebon Raya ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar NU mendatang.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Aziz Hakim Syaerozi mengatakan usulan itu lahir dari musyawarah bersama pengurus PCNU se-Cirebon Raya yang melibatkan Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, dan Kabupaten Indramayu.

“Kami berkesimpulan tegas untuk mengajukan kawasan Cirebon Raya sebagai tempat Muktamar NU ke-35. Ini merupakan aspirasi Nahdliyin, seluruh pesantren dan berbagai kalangan,” ujarnya.

Menurut dia, Cirebon memiliki modal historis yang kuat dalam perjalanan Nahdlatul Ulama di Jawa Barat.

Cirebon Andalkan Jejak Sejarah dan Basis Pesantren

KH Aziz menyebut sejumlah tokoh penting NU berasal dari wilayah Cirebon, termasuk KH M Abbas Abdul Jamil dan KH Abdullah Abbas yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan NU di Jawa Barat.

Selain nilai sejarah, kawasan Cirebon juga dikenal sebagai basis pesantren tua dengan pengaruh besar di Indonesia.

Beberapa pesantren legendaris seperti Buntet Pesantren, Pesantren Babakan, Pesantren Benda, hingga Pesantren Gedongan disebut telah melahirkan ribuan santri dan ulama lintas generasi.

“Cirebon bukan hanya punya nilai sejarah NU yang kuat, tetapi juga memiliki basis pesantren yang sangat besar dan Nahdliyin yang mengakar,” katanya.

Infrastruktur dan Akses Jadi Modal Utama

Dari sisi fasilitas, PCNU Cirebon menilai kawasan Cirebon Raya cukup siap menjadi tuan rumah event nasional berskala besar seperti Muktamar NU.

Tercatat lebih dari 30 hotel berbintang tiga hingga lima tersedia di kawasan tersebut.

Sedikitnya delapan hotel besar bahkan memiliki kapasitas sekitar 1.900 kamar dan ballroom yang mampu menampung hingga 6.000 peserta.

Faktor aksesibilitas juga menjadi nilai tambah karena Cirebon dapat dijangkau melalui jalur darat, kereta api, bus, hingga bandara yang disebut siap beroperasi 24 jam.

“Posisi Cirebon yang dekat dengan ibu kota dan kota-kota besar lainnya membuat kawasan ini sangat ideal untuk penyelenggaraan Muktamar NU ke-35,” ungkap KH Aziz.

Penentuan Lokasi Muktamar Diprediksi Jadi Sorotan Besar

Hingga kini PBNU masih belum mengumumkan lokasi resmi pelaksanaan Muktamar NU ke-35.

Namun dinamika perebutan tuan rumah diperkirakan akan terus menghangat karena forum tersebut memiliki nilai strategis besar, baik secara organisatoris maupun simbolik.

Selain menentukan arah kepemimpinan dan kebijakan NU ke depan, muktamar juga menjadi momentum konsolidasi nasional warga Nahdliyin dari seluruh Indonesia.

Karena itu, banyak daerah dinilai ingin mengambil peran sebagai tuan rumah demi memperkuat posisi dan kontribusi mereka dalam perjalanan organisasi.

“Kami ingin Muktamar NU menjadi ruang persatuan, ruang musyawarah para ulama dan kader terbaik NU untuk menjaga Indonesia dan merawat Islam Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah,” ujar Kiai Asep. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Muktamar NU ke-35 PBNU 2026 Amanatul Ummah Pacet PCNU Cirebon tuan rumah Muktamar NU