RADARBANYUWANGI.ID – Wacana pembangunan jalur kereta api di Pulau Kalimantan kembali mengemuka setelah pemerintah memasukkan proyek Trans Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer ke dalam prioritas pengembangan jaringan perkeretaapian nasional. Di tengah perdebatan soal tantangan geografis dan dominasi lahan gambut di Kalimantan, sejumlah akademisi justru menilai hambatan terbesar proyek tersebut bukan lagi persoalan teknis.
Fakta di berbagai negara menunjukkan pembangunan rel kereta di atas lahan gambut dan rawa telah lama dilakukan untuk kebutuhan logistik, industri, hingga transportasi publik.
Kondisi itu dinilai memperkuat pandangan bahwa pembangunan jalur kereta api di Kalimantan sebenarnya sangat mungkin direalisasikan, selama ada keberanian politik, roadmap pembangunan yang jelas, serta dukungan teknologi konstruksi yang tepat.
Rusia hingga Finlandia Sudah Bangun Rel di Atas Gambut
Sejumlah negara dengan karakteristik tanah rawa dan gambut bahkan telah lebih dulu mengembangkan jaringan kereta api di kawasan ekstrem.
Di Rusia, misalnya, jalur kereta sempit atau narrow-gauge railway dibangun melintasi kawasan rawa untuk mendukung industri gambut dan transportasi pekerja.
Sementara Finlandia dan Swedia memiliki jalur rel yang membelah kawasan boreal serta lahan basah di wilayah utara negara mereka.
Irlandia juga dikenal lama mengembangkan peat railway atau jalur kereta gambut untuk mendukung eksploitasi gambut sebagai sumber energi nasional.
Tidak hanya itu, Latvia hingga kini masih mempertahankan jaringan rel gambut di kawasan Baloži sebagai bagian dari pelestarian sejarah transportasi dan industri mereka.
Keberadaan jalur-jalur tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan rel di atas tanah gambut bukan hal mustahil secara teknis.
Teknologi Rekayasa Gambut Terus Berkembang
Perkembangan teknologi konstruksi juga terus memperkuat kemungkinan pembangunan jalur kereta di kawasan rawa dan gambut.
Salah satu kajian ilmiah berjudul Field Performance of a Peat Railway Subgrade Reinforced with Helical Screw Piles menunjukkan bahwa teknologi stabilisasi tanah gambut terus mengalami pengembangan signifikan.
Penelitian tersebut membahas penggunaan tiang pancang ulir atau helical screw piles guna mengurangi deformasi rel di atas tanah gambut.
Dalam penelitian itu, jalur rel dipantau menggunakan sensor tekanan, kamera kecepatan tinggi, hingga alat pengukur pergerakan tanah untuk mengetahui stabilitas konstruksi secara detail.
Hasil kajian menunjukkan tantangan pembangunan rel di kawasan gambut lebih berkaitan dengan metode konstruksi, distribusi beban, serta efisiensi biaya pembangunan, bukan ketidakmungkinan proyek secara keseluruhan.
Artinya, persoalan lahan gambut kini lebih banyak menyangkut keputusan investasi dan pendekatan teknik konstruksi yang dipilih pemerintah.
Akademisi: Kalimantan Punya Peluang Besar
Pengamat tata kota sekaligus akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Eng. Akbar Rahman ST MT sebelumnya juga menilai Kalimantan memiliki peluang besar mengembangkan transportasi kereta api secara bertahap.
Menurut dia, pembangunan tidak harus langsung menyasar kawasan gambut tebal.
Wilayah dengan struktur tanah keras dan gambut dangkal dapat diprioritaskan terlebih dahulu untuk membangun konektivitas dasar antarkawasan strategis.
Pendekatan bertahap itu dinilai lebih realistis dibanding terus menunda pembangunan tanpa kepastian roadmap nasional.
Selain memperkuat konektivitas antardaerah, proyek rel kereta api juga diyakini mampu mempercepat pertumbuhan kawasan industri, pelabuhan, hingga hilirisasi sumber daya alam di Kalimantan.
Proyek Kereta Api Kalimantan Masuk Prioritas Nasional
Pemerintah saat ini tengah menyiapkan pengembangan jaringan kereta api di Pulau Kalimantan sepanjang 2.772 kilometer sebagai bagian dari Rencana Induk Perkeretaapian Nasional hingga 2045.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan proyek tersebut masih dalam tahap perhitungan dan penyusunan lintas kementerian.
“Rencana pembangunan jalur kereta api di Kalimantan masih kami hitung dan rencanakan secara matang,” ujar AHY usai rapat koordinasi pengembangan jaringan kereta api nasional di Jakarta.
Pemerintah juga disebut akan membentuk komite khusus lintas kementerian dan lembaga guna menyempurnakan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas).
Masuknya kembali proyek Trans Kalimantan ke agenda prioritas nasional dinilai menjadi sinyal kuat bahwa Kalimantan kembali diposisikan sebagai kawasan strategis nasional pasca pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kereta Api Dinilai Jadi Kunci Efisiensi Logistik Kalimantan
Di tengah tingginya biaya distribusi logistik di Kalimantan, keberadaan jaringan kereta api dianggap dapat menjadi solusi jangka panjang.
Moda transportasi rel dinilai lebih efisien untuk mengangkut komoditas industri, hasil tambang, perkebunan, hingga kebutuhan logistik antarkawasan dibanding ketergantungan pada jalur darat berbasis truk.
Selain itu, jaringan kereta api juga dinilai mampu membuka pusat-pusat ekonomi baru dan mempercepat integrasi wilayah pedalaman dengan kawasan industri maupun pelabuhan.
Dengan dukungan teknologi konstruksi yang terus berkembang serta pengalaman negara-negara lain membangun rel di atas gambut, proyek kereta api Kalimantan kini dinilai lebih realistis dibanding beberapa dekade sebelumnya.
Persoalannya kini bukan lagi apakah rel bisa dibangun di atas gambut, melainkan seberapa besar keberanian pemerintah mengeksekusi proyek tersebut secara konsisten dan berkelanjutan. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : Pontianak Post