RADARBANYUWANGI.ID — Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mulai membuka rangkaian temuan awal dalam investigasi kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di kawasan Stasiun Bekasi Timur, insiden yang terjadi pada 27 April 2026 dan melibatkan sejumlah rangkaian kereta serta satu kendaraan lain di sekitar lokasi kejadian.
Dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR RI, Kementerian Perhubungan, Basarnas, Korlantas Polri, hingga Kementerian PUPR, KNKT menegaskan bahwa laporan yang disampaikan masih bersifat data faktual awal tanpa kesimpulan penyebab kecelakaan.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menegaskan bahwa seluruh temuan masih dalam tahap pengumpulan fakta sebelum masuk ke analisis final.
Jalur Padat, Sistem “Shared Track” Jadi Sorotan
Salah satu temuan awal KNKT adalah karakteristik lintasan Bekasi–Cikarang yang digunakan bersama (shared track) antara kereta jarak jauh dan KRL Commuter Line.
Kondisi ini menyebabkan:
-
Perbedaan kecepatan operasional
-
Perbedaan prioritas perjalanan
-
Pola pemberhentian yang tidak seragam
KNKT menilai, kondisi ini berpotensi menciptakan gap operasional yang harus dikendalikan secara ketat.
Gapeka vs Realisasi: Headway Menyempit
Temuan berikutnya menunjukkan adanya perbedaan antara jadwal berbasis Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) dengan realisasi di lapangan.
Perbedaan ini berdampak pada:
-
Penyempitan jarak antar kereta (headway)
-
Gangguan alur keberangkatan dan kedatangan
-
Potensi konflik jalur di lintasan padat
Kondisi tersebut menjadi salah satu titik perhatian dalam evaluasi keselamatan operasional.
Sinyal Hijau hingga Merah: Data CCTV dan Blok Otomatis
Dari rekaman CCTV Stasiun Bekasi, KA 4B KA Argo Bromo Anggrek tercatat melintas jalur 3 menuju Bekasi Timur dengan sinyal keluar J12 beraspek hijau (semboyan 5).
Namun, observasi lapangan menunjukkan kompleksitas sistem persinyalan di petak Bekasi–Bekasi Timur yang menggunakan Automatic Block System.
KNKT juga mengungkap adanya sinyal penting:
-
UB104 (indikasi aman–hati-hati–tidak aman)
-
B104 (aspek merah/sinyal berhenti)
Selain itu, ditemukan gangguan visual berupa cahaya lingkungan sekitar yang berpotensi menyerupai aspek sinyal.
Simulasi KNKT: Sistem Tetap Konsisten
Hasil simulasi pelayanan KA di ruang kontrol Stasiun Bekasi menunjukkan konsistensi sistem:
-
Sinyal J12 tetap hijau (semboyan 5)
-
UB104 menunjukkan cahaya putih (semboyan 9C3)
-
B104 tetap merah (semboyan 7)
Simulasi ini dilakukan dengan kondisi track section 104BT terisi (occupied), dan menunjukkan bahwa sistem persinyalan bekerja sesuai desain teknis.
Data Pengereman KA: Respons Bertahap hingga Darurat
Dari analisis logger lokomotif KA 4B, KNKT mencatat bahwa masinis melakukan pengereman secara bertahap:
-
Service brake
-
Full service brake
-
Emergency brake
Langkah tersebut menunjukkan upaya maksimal awak sarana dalam merespons kondisi darurat sesuai prosedur operasional.
Komunikasi PK Manggarai Jadi Titik Evaluasi
KNKT juga menyoroti sistem komunikasi Pusat Kendali (PK) Manggarai yang terbagi antara beberapa lintas dan perangkat radio berbeda.
Dalam kondisi kejadian, tercatat:
-
KA 5181 menggunakan radio Tait
-
KA 5568A menggunakan radio Sepura
-
KA Argo Bromo Anggrek menggunakan radio Lok PK S.1
Perbedaan jalur komunikasi ini menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kecepatan penyampaian informasi antar unit operasi.
Gangguan Berantai Sebelum Tabrakan Utama
KNKT juga menemukan bahwa sebelum tabrakan utama, terjadi insiden lain berupa:
-
Tabrakan KRL dengan kendaraan roda empat di jalur lain
-
Kerumunan masyarakat di sekitar jalur KA
-
Gangguan operasional yang membuat salah satu KRL tidak dapat melanjutkan perjalanan
Kondisi ini berdampak pada keterlambatan informasi antar pusat kendali.
Masalah Waktu Acuan (Master Time)
Salah satu temuan krusial adalah adanya perbedaan master time pada berbagai sistem:
-
Radio komunikasi
-
Logger lokomotif
-
Sistem persinyalan
-
CCTV stasiun dan kereta
Perbedaan ini berpotensi menyulitkan sinkronisasi data saat analisis kejadian.
Investigasi Masih Berlanjut, Kesimpulan Belum Ditarik
KNKT menegaskan bahwa investigasi masih berjalan dan belum ada kesimpulan final terkait penyebab kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur.
Namun, sejumlah langkah perbaikan keselamatan sudah mulai dilakukan oleh pihak terkait pascakejadian.
“Kita berharap kalau semua proses investigasi lancar, antara 2–3 bulan bisa diselesaikan,” ujar Soerjanto.
Evaluasi Besar Sistem Kereta Perkotaan
Kasus ini menjadi sorotan besar dalam sistem transportasi rel Indonesia, terutama terkait integrasi antara kereta jarak jauh dan KRL di jalur padat Jabodetabek.
Temuan KNKT membuka gambaran bahwa faktor keselamatan tidak hanya bergantung pada satu aspek, melainkan kombinasi dari:
-
Sistem persinyalan
-
Manajemen lintasan
-
Komunikasi operasional
-
Sinkronisasi waktu sistem
Investigasi lanjutan diperkirakan menjadi dasar penting untuk perbaikan sistem transportasi rel nasional ke depan. (*)
Editor : Ali Sodiqin