RADARBANYUWANGI.ID – Gubernur Jawa Barat melontarkan pernyataan yang menyentil cara pandang pembangunan modern. Di tengah derasnya pembangunan infrastruktur fisik, pembangunan ekologis dinilai justru jauh lebih mahal dan sulit diwujudkan. Pesan itu disampaikan saat menelusuri kawasan hutan lindung di sekitar Istana Cipanas.
Di sela kunjungan kerjanya, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM mengungkapkan kekagumannya pada pohon-pohon besar berusia ratusan tahun yang masih berdiri kokoh di kawasan hutan lindung seluas sekitar 2,5 hektare di sekitar Istana Cipanas.
Menurutnya, keberadaan pohon besar bukan sekadar vegetasi biasa. Di balik usia panjangnya, pohon-pohon itu menyimpan nilai ekologis yang tidak bisa digantikan dengan uang maupun proyek pembangunan besar.
KDM bahkan menyebut menumbuhkan pohon hingga besar dan rimbun jauh lebih sulit dibanding membangun jalan tol dalam skala besar.
“Membangun jalan tol ribuan kilometer saya sanggup, anggarannya ada. Tapi menanam pohon sampai besar dan rimbun seperti ini, uang tidak bisa membelinya. Ini kemewahan yang sebenarnya,” ujarnya.
Pernyataan itu muncul saat KDM berbicara mengenai filosofi ekologi Padjadjaran, konsep yang menurutnya menempatkan keseimbangan alam sebagai fondasi kehidupan dan pembangunan.
Baginya, hutan dengan pepohonan tua merupakan aset yang jauh melampaui nilai ekonomi jangka pendek.
Soroti Nilai Historis Istana Cipanas
Selain menyoroti aspek ekologis, Dedi juga menaruh perhatian terhadap nilai sejarah Istana Cipanas yang telah berdiri sejak 1742.
Bangunan tersebut dinilai memiliki posisi penting sebagai situs sejarah sekaligus kawasan hijau yang harus dijaga keberadaannya.
Karena itu, ia mendorong adanya perlindungan hukum khusus agar kewibawaan dan kelestarian lingkungan sekitar istana tetap terjaga.
Menurutnya, kawasan bersejarah seperti Istana Cipanas tidak boleh kehilangan karakter akibat tekanan perubahan lingkungan maupun pembangunan yang tidak terkendali.
Sungai Bawa Sampah Masuk Area Istana
Saat berdialog dengan pengelola istana, KDM menerima laporan terkait persoalan lingkungan di sekitar kawasan tersebut.
Dua aliran sungai, yakni Sungai Cisabuk dan Sungai Jalimun disebut kerap membawa sampah rumah tangga dari permukiman warga menuju area istana.
Kondisi itu dinilai cukup mengganggu, terutama ketika hujan deras mengguyur kawasan Puncak.
Tumpukan sampah yang terbawa arus disebut sering menyebabkan kerusakan pada pintu air maupun grill penyaring sampah.
Menanggapi kondisi tersebut, Dedi langsung menawarkan langkah konkret.
Ia menyatakan akan menyiapkan petugas khusus untuk membersihkan sungai setiap hari sembari mendorong pembenahan sistem pengelolaan sampah berbasis desa.
“Saya akan siapkan petugas pembersih sungai setiap hari di sini. Sambil kita merubah pola pikir masyarakat melalui sistem pengelolaan sampah desa yang lebih baik,” katanya.
Singgung Ironi Kawasan Puncak yang Dilanda Banjir
Dalam kesempatan itu, Dedi juga menyinggung kondisi kawasan Puncak yang menurutnya mengalami ironi tata ruang.
Daerah dataran tinggi yang semestinya menjadi kawasan resapan justru kerap mengalami banjir.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi sinyal adanya persoalan serius akibat perubahan tata ruang yang berlangsung tanpa pengendalian optimal.
Alih fungsi lahan hijau, menurutnya, harus menjadi perhatian serius karena dapat memicu gangguan ekologis yang dampaknya dirasakan masyarakat luas.
Dedi menegaskan Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan terus mendorong upaya pemulihan fungsi kawasan hijau.
Ia berharap kawasan Istana Cipanas tidak hanya menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa, tetapi juga tetap berfungsi sebagai paru-paru lingkungan bagi wilayah sekitarnya.
Bagi KDM, pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan jalan, gedung, atau infrastruktur megah. Pembangunan juga harus meninggalkan warisan ekologis yang dapat dinikmati generasi berikutnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin