RADARBANYUWANGI.ID - Perjalanan panjang tak selalu melelahkan. Di tengah meningkatnya tren wisata berbasis transportasi publik, KA Blambangan Ekspres justru menawarkan pengalaman berbeda. Menyandang status sebagai kereta dengan rute terjauh di Indonesia, kereta ini bukan hanya menghubungkan Jakarta dan Banyuwangi, tetapi juga menyuguhkan panorama lintas kota, pesisir, sawah, hingga pegunungan dalam satu perjalanan sepanjang 1.031 kilometer.
Kereta relasi Jakarta–Banyuwangi pergi-pulang (PP) itu menghubungkan Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Ketapang.
Jarak tempuh yang mencapai lebih dari seribu kilometer menjadikan KA Blambangan Ekspres sebagai salah satu perjalanan kereta paling panjang di Tanah Air.
Namun alih-alih sekadar perjalanan jauh, pengalaman yang ditawarkan justru menjadi daya tarik utama.
Menyusuri Wajah Pulau Jawa dari Balik Jendela Kereta
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan perjalanan menggunakan KA Blambangan Ekspres menghadirkan pengalaman visual berbeda bagi penumpang.
“Dari balik jendela kereta, pelanggan dapat melihat perubahan suasana kota demi kota, mulai dari kawasan urban, persawahan, area pesisir, hingga pegunungan di ujung timur Pulau Jawa," ujarnya.
Dalam satu perjalanan, penumpang diajak menyaksikan perubahan lanskap yang terus berganti.
Perjalanan dimulai dari padatnya kawasan metropolitan Jakarta, lalu bergeser menuju hamparan sawah di jalur Pantai Utara Jawa atau Pantura.
Saat sore hari, cahaya matahari yang memantul di area persawahan dan tambak menghadirkan pemandangan khas yang sulit ditemukan di moda transportasi lain.
Memasuki malam, suasana berubah.
Lampu-lampu kota di jalur utara Jawa menciptakan nuansa perjalanan yang tenang.
Sementara saat pagi tiba di wilayah timur Pulau Jawa, penumpang disambut pemandangan pegunungan, area perkebunan, serta udara khas Banyuwangi dan sekitarnya.
Bukan Sekadar Kereta, Tapi Jalur Wisata Lintas Kota
KA Blambangan Ekspres tak hanya menjadi sarana transportasi antardaerah.
Kereta ini juga berfungsi sebagai jalur penghubung berbagai kota wisata penting di Pulau Jawa.
Dalam perjalanannya, kereta berhenti di sejumlah stasiun besar seperti:
-
Cirebon
-
Tegal
-
Pekalongan
-
Semarang Tawang
-
Cepu
-
Bojonegoro
-
Surabaya Pasarturi
-
Sidoarjo
-
Pasuruan
-
Probolinggo
-
Jember
-
Banyuwangi Kota
Setiap kota yang dilintasi memiliki daya tarik tersendiri.
Semarang dikenal dengan kawasan Kota Lama dan wisata kulinernya.
Sementara Probolinggo menjadi gerbang menuju destinasi wisata populer Gunung Bromo.
Di ujung perjalanan, Banyuwangi menawarkan sejumlah destinasi unggulan seperti Kawah Ijen, Pantai Pulau Merah, Taman Nasional Baluran hingga Taman Nasional Alas Purwo.
Jadwal KA Blambangan Ekspres Jakarta–Banyuwangi
KA Blambangan Ekspres beroperasi setiap hari untuk rute Jakarta–Banyuwangi maupun sebaliknya.
Dari Stasiun Pasar Senen:
-
Berangkat: 12.10 WIB
-
Tiba di Ketapang: 04.40 WIB keesokan hari
Sementara dari Stasiun Ketapang:
-
Berangkat: 15.45 WIB
-
Tiba di Pasar Senen: 08.16 WIB
Durasi perjalanan panjang itu menjadi kesempatan bagi penumpang menikmati wajah Pulau Jawa dari perspektif berbeda.
Harga Tiket KA Blambangan Ekspres
Saat ini KA Blambangan Ekspres tersedia dalam dua pilihan kelas.
Kelas eksekutif menggunakan rangkaian Stainless Steel, sedangkan kelas ekonomi memakai New Generation Modifikasi.
Berikut kisaran harga tiket:
-
Kelas ekonomi mulai Rp580.000
-
Kelas eksekutif mulai Rp820.000
Harga dapat berubah mengikuti waktu pemesanan dan ketersediaan kursi.
Wisata Kereta Makin Diminati
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang 2025 mencapai lebih dari 13 juta kunjungan dan terus menunjukkan tren positif pada awal 2026.
Peningkatan mobilitas tersebut ikut mendorong minat masyarakat terhadap perjalanan menggunakan transportasi publik yang nyaman dan terintegrasi.
Di tengah tren itu, KA Blambangan Ekspres menawarkan lebih dari sekadar perjalanan panjang.
Kereta ini menghadirkan pengalaman menikmati bentang Pulau Jawa dari Jakarta hingga ujung timur Indonesia dalam satu lintasan yang nyaris seperti perjalanan wisata bergerak. (*)
Editor : Ali Sodiqin