Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jejak Rel Kereta di Kalimantan Terungkap, Ternyata Borneo Pernah Punya Jalur Kereta Api Sejak Era Belanda

Ali Sodiqin • Rabu, 27 Mei 2026 | 17:20 WIB
Dokumentasi kereta api milik Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Kota Balikpapan. (IRPS)
Dokumentasi kereta api milik Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Kota Balikpapan. (IRPS)

RADARBANYUWANGI.ID – Banyak orang mungkin mengira Pulau Kalimantan tidak pernah memiliki sejarah perkeretaapian seperti Pulau Jawa atau Sumatera. Namun fakta sejarah justru menunjukkan sebaliknya. Jauh sebelum wacana pembangunan jalur kereta modern kembali digaungkan pemerintah, wilayah Borneo ternyata sudah pernah memiliki rel dan lokomotif sejak masa kolonial Belanda pada awal abad ke-20.

Meski bukan kereta penumpang umum, jaringan rel di Kalimantan kala itu dibangun untuk mendukung industri minyak dan pertambangan yang sedang berkembang pesat di era kolonial.

Salah satu daerah yang tercatat pernah memiliki jalur rel kereta api adalah Balikpapan, Kalimantan Timur. Rel tersebut digunakan perusahaan minyak Belanda untuk mengangkut logistik industri, drum minyak, hingga pekerja perusahaan menuju kawasan pelabuhan dan kilang minyak.

Jejak sejarah tersebut menjadi bukti bahwa konsep transportasi berbasis rel di Pulau Kalimantan sebenarnya bukanlah hal baru.

Rel Kereta di Balikpapan Dibangun untuk Industri Minyak Belanda

Sejarah rel kereta api di Kalimantan bermula saat perusahaan minyak Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), membuka industri minyak besar di Balikpapan.

Untuk mendukung aktivitas produksi dan distribusi minyak, BPM membangun jalur kereta api khusus yang menghubungkan kawasan industri dengan pelabuhan.

Rel tersebut tidak difungsikan sebagai transportasi umum, melainkan sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan operasional perusahaan.

Berdasarkan catatan sejarah Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), jaringan rel di Balikpapan telah aktif sejak akhir 1910-an.

“Kereta ini bukan transportasi umum, melainkan untuk kebutuhan industri minyak,” tulis IRPS dalam kajian sejarah perkeretaapian Indonesia.

Pada masa itu, keberadaan kereta api menjadi bagian penting dalam mempercepat distribusi hasil industri minyak yang menjadi salah satu komoditas utama Hindia Belanda.

Menggunakan Rel Ringan Sistem Decauville

Jaringan rel di Balikpapan menggunakan sistem Decauville, yakni jalur kereta ringan yang lazim digunakan untuk kebutuhan industri pertambangan dan perkebunan pada era kolonial.

Rel jenis ini memiliki ukuran lebih kecil dibanding jalur utama kereta api penumpang.

Lebar rel yang digunakan berkisar antara 1.000 mm hingga 1.067 mm dan dioperasikan menggunakan lokomotif uap maupun diesel yang didatangkan langsung dari Eropa, terutama dari Jerman dan Belanda.

Selain di Balikpapan, jejak lori dan rel industri juga pernah ditemukan di sejumlah kawasan tambang di Kalimantan Timur maupun Kalimantan Selatan.

Keberadaan rel-rel tersebut menunjukkan bahwa aktivitas industri di Kalimantan pada masa kolonial sudah cukup maju dan membutuhkan sistem distribusi modern.

Pontianak–Sambas Pernah Dirancang Punya Jalur Trem

Tak hanya Kalimantan Timur, wilayah Kalimantan Barat juga ternyata pernah masuk dalam rencana pembangunan jalur rel kolonial Belanda.

Dalam arsip sejarah yang dipublikasikan IRPS, pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915 pernah melakukan kajian pembangunan jalur trem dari Pontianak menuju Singkawang hingga Sambas melalui pesisir barat Kalimantan.

Rencana tersebut diusulkan oleh Residen Westerafdeling van Borneo, Roelofs Valk.

Jalur yang dirancang kala itu meliputi sejumlah wilayah penting, yakni Pontianak, Jungkat, Sungai Purun, Peniraman, Mempawah, Sungai Duri, Singkawang, Pemangkat, hingga Sambas.

Total panjang jalur diperkirakan mencapai sekitar 217 kilometer.

Proyek tersebut dinilai strategis untuk mendukung konektivitas perdagangan dan distribusi hasil bumi di wilayah pesisir Kalimantan Barat.

Proyek Jalur Kereta Kalbar Gagal Terwujud

Meski sempat dikaji serius, proyek pembangunan jalur kereta Pontianak–Sambas akhirnya tidak pernah terealisasi.

IRPS menyebut pemerintah kolonial di Batavia kala itu lebih memprioritaskan rencana jalur besar Pontianak–Banjarmasin yang dirancang melintasi Pulau Kalimantan.

Namun proyek ambisius tersebut juga akhirnya gagal diwujudkan.

Dalam laporan De Javasche Bank tahun 1917, biaya pembangunan jalur Pontianak–Sambas saat itu diperkirakan mencapai 5 juta gulden, angka yang sangat besar pada masa tersebut.

Kondisi geografis Kalimantan yang berat serta tingginya biaya pembangunan diduga menjadi faktor utama gagalnya proyek tersebut.

Kini Tinggal Arsip dan Dokumentasi Sejarah

Seiring berjalannya waktu, sebagian besar jaringan rel industri di Kalimantan perlahan hilang akibat perang, perubahan sistem distribusi, hingga modernisasi transportasi.

Kini, jejak rel peninggalan kolonial tersebut hampir tidak tersisa dan hanya dapat ditemukan melalui dokumentasi sejarah, arsip kolonial, serta foto-foto lama.

Meski demikian, fakta bahwa Kalimantan pernah memiliki jalur rel kereta api menjadi catatan penting dalam sejarah transportasi Indonesia.

Hal tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa gagasan pembangunan kereta api di Pulau Borneo sebenarnya telah muncul sejak lebih dari satu abad lalu dan kini kembali dihidupkan melalui berbagai rencana pembangunan jalur kereta modern di Kalimantan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#kereta api Kalimantan #rel kereta Balikpapan #sejarah kereta api Indonesia #jalur rel kolonial #kereta api Borneo