RADARBANYUWANGI.ID – Wacana pembangunan Jalur Lingkar Timur (Jalitim) Kota Malang kembali naik ke permukaan. Proyek yang telah bertahun-tahun masuk dokumen perencanaan itu kini kembali menjadi sorotan setelah masuk pembahasan penanganan kemacetan dan masterplan jaringan jalan Kota Malang. Di tengah kepadatan lalu lintas yang kian parah, Jalitim kembali dipandang sebagai salah satu solusi jangka panjang yang dinilai mampu mengubah peta pergerakan kendaraan di wilayah Malang Raya.
Bukan tanpa alasan. Selama ini arus kendaraan dari arah Kabupaten Malang hingga akses tol masih bertumpu pada jalur-jalur utama yang melintasi pusat kota. Akibatnya, sejumlah titik di Kota Malang nyaris tak pernah lepas dari kemacetan, terutama saat jam sibuk.
Jalur Lingkar Timur atau ring road timur dirancang menjadi koridor alternatif di sisi timur Kota Malang. Jalur tersebut diproyeksikan menjadi lintasan penghubung kendaraan dari arah kabupaten dan pintu keluar tol tanpa perlu masuk ke pusat kota.
Jika terealisasi, jalur ini diperkirakan akan mengurangi beban kendaraan yang selama ini menumpuk di koridor-koridor padat Kota Malang.
Meski belum terealisasi, gambaran trase Jalitim sebenarnya telah beberapa kali muncul dalam berbagai dokumen perencanaan pemerintah.
Bermula dari Exit Tol Madyopuro
Rencana Jalitim disebut akan dimulai dari kawasan Exit Tol Madyopuro.
Kawasan tersebut menjadi salah satu gerbang utama kendaraan dari arah Tol Malang–Pandaan menuju Kota Malang maupun Kabupaten Malang.
Pemilihan Madyopuro bukan tanpa pertimbangan.
Sejak akses tol mulai beroperasi, volume kendaraan di kawasan itu terus mengalami peningkatan signifikan.
Arus kendaraan dari luar kota kini semakin padat dan berpotensi menambah beban jalan eksisting.
Karena itu, kawasan Madyopuro diproyeksikan menjadi titik awal koridor Jalitim.
Terhubung ke Jalan Ki Ageng Gribig
Dari kawasan Madyopuro, jalur lingkar dirancang terkoneksi menuju Jalan Ki Ageng Gribig.
Koridor tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu titik kepadatan tertinggi di sisi timur Kota Malang.
Peningkatan kendaraan logistik dan kendaraan berat menjadi salah satu penyebab utama tingginya volume lalu lintas di kawasan tersebut.
Jalur ini nantinya diproyeksikan menjadi bagian penting dari distribusi arus kendaraan menuju sisi timur kota.
Menyambung hingga Jalan Mayjen Sungkono
Setelah melewati kawasan Kedungkandang, Jalitim direncanakan mengarah hingga Jalan Mayjen Sungkono.
Dalam sejumlah pembahasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan masterplan jaringan jalan, koridor dari Jalan Ki Ageng Gribig menuju Jalan Mayjen Sungkono disebut menjadi tulang punggung ring road timur Kota Malang.
Jalur itu diharapkan menjadi penghubung utama kendaraan agar tidak menumpuk di pusat kota.
Melewati Kawasan yang Berkembang Pesat
Trase Jalitim juga diperkirakan melewati sejumlah wilayah di Kecamatan Kedungkandang.
Di antaranya kawasan Madyopuro, Lesanpuro, Kedungkandang, Buring, hingga Mergosono.
Wilayah-wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir berkembang pesat sebagai kawasan permukiman baru sekaligus jalur distribusi logistik.
Pertumbuhan aktivitas ekonomi di kawasan itu juga ikut meningkatkan mobilitas kendaraan setiap harinya.
Karena itu, kebutuhan infrastruktur jalan baru dinilai semakin mendesak.
Tahap Awal Sempat Dirancang Sampai Jembatan Kedungkandang
Dalam rencana awal yang sempat disusun Pemerintah Kota Malang pada 2015, pembangunan tahap pertama Jalitim dirancang dari Madyopuro hingga kawasan Jembatan Kedungkandang.
Koridor tersebut nantinya akan dihubungkan dengan jaringan jalan menuju Kabupaten Malang.
Skema tersebut disiapkan agar kendaraan besar, terutama truk dan kendaraan logistik, tidak masuk ke pusat Kota Malang.
Flyover Kedungkandang Masuk Skema Pengurai Kemacetan
Keberadaan flyover Kedungkandang juga disebut menjadi bagian pendukung penting dalam skema Jalitim.
Flyover tersebut menghubungkan arus kendaraan dari simpang Jalan Ki Ageng Gribig, Jalan Mayjen Sungkono, hingga Jalan Muharto.
Kawasan itu sebelumnya dikenal sebagai salah satu titik bottle neck lalu lintas yang sering memicu antrean panjang kendaraan.
Integrasi jalur lingkar dan flyover dinilai dapat mempercepat distribusi arus lalu lintas.
Tersandung Masalah Klasik: Lahan dan Anggaran
Meski sudah berkali-kali masuk dalam dokumen RTRW dan masterplan jaringan jalan, proyek Jalitim hingga kini belum sepenuhnya terealisasi.
Dua persoalan klasik masih menjadi hambatan terbesar.
Yakni pembebasan lahan dan kebutuhan anggaran pembangunan yang sangat besar.
Kendati demikian, masuknya kembali Jalitim dalam pembahasan penanganan kemacetan memberi sinyal bahwa proyek tersebut belum sepenuhnya hilang dari agenda pembangunan Kota Malang.
Di tengah pertumbuhan kendaraan yang terus meningkat, Jalitim kembali dipandang bukan sekadar wacana lama, melainkan kebutuhan infrastruktur yang semakin mendesak bagi masa depan lalu lintas Kota Malang. (*)
Editor : Ali Sodiqin