Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gus Baha Bedah Tafsir Kemenag, Ratusan Koreksi Disorot: Dari Waktu Asar hingga Makna Ayat Al-Qur’an

Ali Sodiqin • Jumat, 22 Mei 2026 | 19:00 WIB
Gus Baha memberi ratusan koreksi Tafsir Kemenag, dari waktu Asar hingga tafsir ayat Al-Qur’an dalam proses penyempurnaan. (lajnah.kemenag.go.id)
Gus Baha memberi ratusan koreksi Tafsir Kemenag, dari waktu Asar hingga tafsir ayat Al-Qur’an dalam proses penyempurnaan. (lajnah.kemenag.go.id)

RADARBANYUWANGI.ID – Ketelitian Ahmad Bahauddin Nursalim kembali menjadi sorotan. Dalam sehari penuh, ulama yang akrab disapa Gus Baha itu membedah tiga jilid Tafsir Tahlili Kementerian Agama sekaligus dan menghasilkan ratusan catatan koreksi. Mulai dari redaksi soal waktu salat Asar, kisah Nabi Musa AS, hingga pemaknaan kata dalam Al-Qur’an, semua tak luput dari telaah detailnya.

Masukan demi masukan itu kini menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan tafsir resmi pemerintah yang tengah digarap Kementerian Agama.

Tim Sekretariat Penyempurnaan Tafsir Kementerian Agama dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an melakukan kunjungan kerja ke pesantren pengasuh Gus Baha di Narukan, Jawa Tengah, Sabtu (16/5/2026).

Agenda tersebut bukan sekadar silaturahmi atau forum diskusi biasa.

Kunjungan sejak pukul 07.30 hingga 16.30 WIB itu dilakukan khusus untuk menginput berbagai masukan dan koreksi dari Gus Baha terhadap naskah Tafsir Tahlili Kementerian Agama.

Dalam kapasitasnya sebagai tim pakar penyempurnaan tafsir, Gus Baha menelaah tiga jilid sekaligus, mulai juz 19 hingga juz 27.

Sebanyak 15 anggota tim sekretariat hadir dalam kegiatan itu dan didampingi Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Abdul Aziz Sidqi.

Aziz menyebut kontribusi Gus Baha sangat besar karena detail catatan yang diberikan menunjukkan keseriusan tinggi dalam penyempurnaan tafsir.

“Apa yang dilakukan Gus Baha adalah sesuatu yang sangat berharga. Sangat detail dan teliti. Ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam memberikan masukan untuk penyempurnaan tafsir Kemenag. Kami sangat berterima kasih,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari laman lajnah.kemenag.go.id.

Rata-rata 100 Koreksi dalam Setiap Jilid

Ketelitian Gus Baha tampak dari jumlah catatan yang diberikan.

Dalam satu jilid, rata-rata terdapat sekitar 100 masukan dan koreksi.

Catatan tersebut tidak hanya menyentuh persoalan bahasa, tetapi juga substansi isi.

Mulai dari perbaikan redaksi, pilihan diksi, kutipan ayat Al-Qur’an, koreksi tanda baca hadis, qaul ulama, hingga penafsiran.

Salah satu yang menjadi perhatian Gus Baha ialah penjelasan mengenai awal waktu salat Asar.

Dalam draf tafsir sebelumnya disebutkan waktu Asar dimulai ketika bayangan suatu benda sama panjang dengan bendanya atau zillu syai’ mitslahu.

Menurut Gus Baha, penjelasan itu perlu disempurnakan.

Ia mengusulkan redaksi zillu syai’i mitslahu wa ziyadah, yang berarti bayangan benda sudah melebihi ukuran bendanya.

“Kalau masih seperti bendanya, itu masih masuk waktu Zuhur,” terang Gus Baha.

Kisah Nabi Musa Jangan Dicampuradukkan

Selain pembahasan fikih, Gus Baha juga menyoroti konteks kisah Nabi Musa AS.

Menurutnya, perjalanan Nabi Musa menuju Palestina dan Madyan merupakan dua peristiwa berbeda yang tidak bisa dipahami dalam konteks sama.

Kesalahan memahami latar sejarah berpotensi memengaruhi makna ayat secara keseluruhan.

“Ketika Musa ke Palestina, itu setelah mengalahkan Firaun. Sedangkan ke Madyan terjadi saat beliau dikejar Firaun,” jelasnya.

Penjelasan tersebut menurutnya penting agar alur sejarah kenabian dalam tafsir lebih presisi.

Makna Kata Al-Qur’an yang Kerap Dianggap Sama

Tak berhenti pada aspek sejarah, Gus Baha juga menyinggung penggunaan sejumlah kata dalam Al-Qur’an yang sekilas tampak serupa tetapi memiliki makna berbeda.

Salah satunya istilah muttakiina.

Menurut Gus Baha, kata tersebut lazim digunakan untuk menggambarkan penghuni surga yang duduk santai dalam keadaan nyaman tanpa beban.

Berbeda dengan kata jalis yang sekadar menunjukkan posisi duduk tanpa menggambarkan situasi emosional seseorang.

Penjelasan lain yang menarik muncul saat membahas penggunaan kata tara dalam Al-Qur’an.

Menurutnya, kata itu sering dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang terlihat secara kasatmata tetapi hakikatnya berbeda.

Ia mencontohkan ayat dalam Surah Al-Kahfi terkait matahari.

“Wa tara syamsa idza thala’at… wa idza gharabat,” ujarnya.

Menurut Gus Baha, matahari terlihat tenggelam dari sudut pandang manusia, padahal pada hakikatnya matahari tidak berhenti bersinar.

Contoh serupa terdapat dalam ayat:

"Wa taral jibala tahsabuha jamidatan wahiya tamurru marra sahab."

Ayat tersebut menggambarkan gunung tampak diam, padahal sejatinya bergerak.

“Begitu pula gunung terlihat diam padahal sebenarnya bergerak,” paparnya.

Saat ini, Gus Baha masih menyisakan satu jilid terakhir, yakni jilid 10, yang belum selesai ditelaah.

Rencananya, proses penginputan masukan jilid penutup akan dilakukan di Pesantren Bayt Al-Qur’an, Tangerang Selatan, Banten.

Namun jadwal pelaksanaannya masih menunggu kepastian dari Gus Baha.

Kontribusi ulama asal Rembang itu pun dipandang menjadi bagian penting dalam memastikan tafsir resmi pemerintah semakin kuat, akurat, dan mudah dipahami masyarakat luas. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Tafsir Kemenag #LPMQ Kemenag #penyempurnaan tafsir Al-Qur’an #Gus Baha #kh ahmad bahauddin nursalim