Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cuaca Buruk Picu Antrean 5 Km di Ketapang, Jalur Banyuwangi–Situbondo Lumpuh Dipenuhi Truk Logistik ke Bali

Fredy Rizki Manunggal • Jumat, 22 Mei 2026 | 08:04 WIB
MACET: Kendaraan yang hendak menyeberang ke Bali berderet jalan raya jurusan Banyuwangi-Situbondo, Kamis (21/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
MACET: Kendaraan yang hendak menyeberang ke Bali berderet jalan raya jurusan Banyuwangi-Situbondo, Kamis (21/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Arus lalu lintas di jalur nasional Banyuwangi–Situbondo lumpuh sebagian, Kamis (21/5). Deretan truk logistik yang hendak menyeberang menuju Bali menumpuk hingga mengular sepanjang sekitar lima kilometer di kawasan Pelabuhan Ketapang. Cuaca buruk di Selat Bali disebut menjadi pemicu utama efek domino yang membuat antrean kendaraan terus memanjang sejak malam sebelumnya.

Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa), kepadatan kendaraan terlihat sejak depan kawasan Pelabuhan Ketapang hingga kawasan Pantai Watudodol.

Mayoritas antrean didominasi kendaraan logistik yang akan menyeberang ke Bali. Laju kendaraan di jalur utama Banyuwangi–Situbondo pun tersendat akibat badan jalan dipenuhi antrean truk dari arah pelabuhan.

Kondisi tersebut merupakan imbas cuaca buruk yang melanda Selat Bali sejak Rabu malam (20/5). Angin kencang dan kondisi laut yang kurang bersahabat menyebabkan sejumlah kapal mengalami hambatan saat melakukan manuver sandar.

Akibatnya, proses bongkar muat kapal tidak berlangsung normal dan memicu penumpukan kendaraan di area penyeberangan.

Pengawas Keselamatan dan Keamanan Pelayaran Balai Pengelola Transportasi Darat Satuan Pelayanan Pelabuhan Ketapang, Rahut Sianturi, mengatakan dampak cuaca buruk menimbulkan efek lanjutan yang masih terasa hingga Kamis.

"Cuaca buruk sejak kemarin (Rabu) menimbulkan efek domino, dampaknya masih terasa sampai hari ini," ujarnya.

Kapal Sulit Bermanuver, Bongkar Muat Melambat

Kendala terbesar terjadi pada kapal yang beroperasi melalui dermaga LCM dan MB IV.

Cuaca buruk menyebabkan kapal tidak dapat melakukan manuver seperti kondisi normal sehingga waktu bongkar muat ikut bertambah.

Dalam situasi normal, proses bongkar muat kapal biasanya berlangsung sekitar 30 menit. Namun akibat faktor keselamatan pelayaran, waktu tersebut membengkak hingga sekitar satu jam.

Rahut menjelaskan persoalan lain juga muncul akibat kondisi air laut surut di dermaga LCM pada kedua sisi pelabuhan.

Kondisi itu membuat proses operasional tidak bisa dilakukan secara maksimal.

Meski demikian, jumlah armada yang dioperasikan tetap sama seperti hari biasa.

"Untuk jumlah kapal yang dioperasikan tetap sebanyak 28 unit, sama seperti operasional pada hari normal. Pelayanan di Pelabuhan Ketapang pun mulai berangsur normal," tambahnya.

BMKG Ungkap Penyebab Gangguan di Selat Bali

Sementara itu, Prakirawan BMKG Kantor Layanan Meteorologi Ketapang-Gilimanuk, Yudhi Nugraha Septiadi, menjelaskan gangguan operasional dipicu angin kencang yang terjadi pada Rabu malam.

Kecepatan angin saat itu tercatat mencapai 13 knot dengan tinggi gelombang sekitar 0,7 meter.

Kondisi tersebut membuat sejumlah kapal mengalami kesulitan saat akan bersandar di dermaga.

Hambatan di laut itu kemudian berdampak berantai pada keterlambatan jadwal penyeberangan dan memicu antrean kendaraan di daratan.

BMKG juga memprediksi potensi hujan ringan masih dapat terjadi pada sore hingga malam hari.

Sedangkan tinggi gelombang diperkirakan dapat mencapai satu meter.

"Untuk Jumat hingga Sabtu masih ada potensi hujan ringan pada sore hari. Update prakiraan cuaca akan terus kami sampaikan melalui rilis berikutnya," kata Yudhi.

Volume Truk Logistik Meningkat

Di sisi lain, General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, mengungkapkan terdapat dua faktor utama penyebab antrean kendaraan meluber hingga luar area pelabuhan.

Faktor pertama ialah kondisi cuaca yang memperlambat proses bongkar muat kapal.

Menurut Arief, keputusan perlambatan dilakukan demi menjaga faktor keselamatan pelayaran.

"Untuk safety, jadi kapal yang biasanya butuh waktu 30 menit untuk bongkar muat bisa molor sampai satu jam. Kita tunggu sampai cuaca normal," katanya.

Arief menambahkan kapal yang paling terdampak berada di dermaga LCM dan MB IV.

Akibatnya, kendaraan logistik yang menggunakan lintasan tersebut harus menunggu lebih lama dibanding kendaraan umum lainnya.

Sementara kendaraan pribadi roda empat dan bus yang menggunakan dermaga lain relatif tetap berjalan normal.

"Kalau kapal yang beroperasi di dermaga MB aman saja, jadi bus dan kendaraan roda empat pribadi tetap berjalan seperti biasa," jelasnya.

Selain faktor cuaca, peningkatan volume kendaraan logistik pada pertengahan hingga akhir pekan juga ikut memperparah kepadatan.

Menurut Arief, lonjakan truk memang lazim terjadi pada Rabu malam hingga Jumat.

Karena itu ketika muncul gangguan operasional di laut, antrean langsung memanjang dengan cepat.

"Dari imbauan BMKG kemungkinan kondisi ini terjadi sampai dua hari. Tapi selama cuaca membaik, proses bongkar muat bisa berjalan normal," pungkasnya. (fre/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#antrean Ketapang #truk logistik Bali #Cuaca Selat Bali #pelabuhan ketapang #banyuwangi situbondo