RADARBANYUWANGI.ID - Nama Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak tengah menjadi perhatian publik setelah pernyataannya terkait film dokumenter Pesta Babi menuai polemik.
Film garapan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale tersebut menyoroti dampak proyek strategis nasional (PSN) di wilayah Papua Selatan, khususnya di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Dokumenter itu menggambarkan perubahan ruang hidup masyarakat adat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu akibat ekspansi food estate, perkebunan tebu bioetanol, hingga sawit biodiesel.
Dalam keterangannya, Maruli mempertanyakan besarnya biaya produksi film yang dinilai membutuhkan logistik mahal karena proses pengambilan gambar dilakukan di Papua Selatan.
“Duitnya dari mana? Coba pikir aja. Ya kan? Sampai datang ke sana, bikin video, terbang sini, terbang sana. Orang berduit lah,” ujar Maruli, dikutip Radar Solo.
Namun demikian, Maruli tidak menjelaskan secara rinci pihak yang dimaksud sebagai penyandang dana proyek dokumenter tersebut. Ia justru menyerahkan asumsi tersebut kepada publik dan media.
Menanggapi isi film, Maruli menegaskan bahwa keberadaan TNI di Papua lebih banyak berfokus pada misi kemanusiaan dan pembangunan fasilitas dasar bagi masyarakat. Menurutnya, masih banyak wilayah yang membutuhkan akses air bersih, pendidikan, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Di sisi lain, terkait pembatalan dan pembubaran agenda nonton bareng Pesta Babi di sejumlah kampus, Maruli menyebut tidak ada instruksi resmi dari TNI. Ia menilai keputusan tersebut merupakan kewenangan pemerintah daerah dan pihak kampus demi menjaga stabilitas keamanan.
Jenderal TNI Maruli Simanjuntak resmi menjabat KSAD sejak 29 November 2023. Ia dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara menggantikan Jenderal Agus Subiyanto yang saat itu naik menjadi Panglima TNI.
Pria kelahiran 27 Februari 1970 itu merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) 1992 dari kecabangan Infanteri. Sejak awal karier, Maruli dikenal lama bertugas di satuan elite Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Kariernya di lingkungan Kopassus dimulai sebagai Komandan Detasemen Tempur Cakra pada 2002. Setelah itu, ia pernah menjabat Pabandya Operasi Kopassus, Danyon 21 Grup 2/Sandi Yudha, Wakil Komandan Grup 1/Para Komando, hingga Asisten Operasi Danjen Kopassus.
Karier Maruli semakin menanjak ketika dipercaya masuk dalam lingkaran pengamanan Presiden Joko Widodo. Pada 2014 hingga 2016, ia menjabat Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Setelah sempat menjadi Danrem 074/Warastratama, Maruli kembali ke Paspampres sebagai Wakil Komandan pada 2017–2018, lalu dipercaya menjadi Komandan Paspampres pada 2018–2020.
Selepas bertugas di Istana, Maruli diangkat sebagai Pangdam IX/Udayana pada 2020 hingga 2022. Kariernya kembali naik saat dipercaya menjabat Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) pada Januari 2022.
Di luar karier militernya, Maruli Simanjuntak juga dikenal sebagai menantu mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jenderal TNI (HOR) (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan.
Maruli menikahi putri sulung Luhut, Paulina Pandjaitan, pada Januari 1999. Keduanya diketahui bertemu dalam ajang SEA Games. Saat itu, Maruli tampil sebagai atlet judo Indonesia, sementara Paulina bertugas sebagai Liaison Officer (LO).
Dari pernikahan tersebut, pasangan ini telah dikaruniai dua orang anak.
Editor : Lugas Rumpakaadi