Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

MPR Bangga SMAN 1 Sambas dan SMAN 1 Pontianak Kompak Tolak Final Ulang LCC Empat Pilar, Dinilai Tunjukkan Sikap Dewasa

Ali Sodiqin • Selasa, 19 Mei 2026 | 18:30 WIB
Video lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat viral di media sosial setelah muncul perbedaan penilaian dari dewan juri terhadap dua jawaban yang dinilai sama. (Instagram/jawapos)
Video lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat viral di media sosial setelah muncul perbedaan penilaian dari dewan juri terhadap dua jawaban yang dinilai sama. (Instagram/jawapos)

RADARBANYUWANGI.ID – Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) 2026 memasuki babak baru. Di tengah kontroversi kesalahan penilaian yang sempat memicu sorotan nasional, MPR justru mengaku bangga terhadap sikap dua sekolah yang menjadi pusat perhatian: SMAN 1 Sambas dan SMAN 1 Pontianak.

Keputusan kedua sekolah yang sama-sama menolak pelaksanaan final ulang dinilai bukan sekadar sikap administratif, melainkan cerminan nilai kebangsaan yang selama ini ingin ditanamkan MPR melalui program Empat Pilar.

Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto, menilai respons dua sekolah tersebut justru memperlihatkan kedewasaan berpikir serta penerapan langsung nilai persatuan, demokrasi, hingga sportivitas.

"Saya menanggapi respons kedua SMA ini dengan sangat bangga. Karena sebenarnya mereka telah mengimplementasikan apa yang mereka dapat dalam pelajaran Empat Pilar ini," ujar Abraham, Minggu (17/5/2026).

Menurut dia, sikap yang ditunjukkan para siswa dan pihak sekolah memperlihatkan pemahaman yang matang terhadap nilai kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Mengutamakan persatuan, mencari keadilan, menunjukkan toleransi yang tinggi lewat pernyataan-pernyataan mereka yang demokratis, dan menjunjung tinggi nilai kebangsaan," lanjutnya.

Pernyataan itu muncul di tengah perdebatan publik mengenai keputusan MPR yang sebelumnya memutuskan menggelar final ulang LCC Empat Pilar Kalbar usai muncul dugaan kekeliruan penilaian juri saat babak final.

Polemik Berawal dari Kesalahan Penilaian

Kontroversi bermula ketika partai final LCC Empat Pilar Kalbar yang mempertemukan sejumlah sekolah mendapat sorotan publik.

Dalam kompetisi tersebut, SMAN 1 Sambas dinyatakan sebagai pemenang. Namun setelah perlombaan selesai, muncul kritik terhadap keputusan dewan juri dan pembawa acara yang dinilai melakukan kesalahan dalam proses penilaian.

Kesalahan itu disebut-sebut merugikan SMAN 1 Pontianak dan dianggap memberi keuntungan kepada pihak lawan.

Sorotan publik pun semakin meluas setelah rekaman serta potongan momen perlombaan tersebar di media sosial dan menuai berbagai respons masyarakat.

MPR akhirnya mengakui adanya kekhilafan dalam proses pelaksanaan dan memutuskan final akan diulang menggunakan mekanisme baru serta juri independen.

Namun keputusan tersebut ternyata memunculkan respons tak terduga.

Alih-alih menerima kesempatan baru, kedua sekolah justru memilih menolak pelaksanaan final ulang.

SMAN 1 Pontianak Tegaskan Tak Ingin Menjatuhkan Siapa Pun

SMAN 1 Pontianak menjadi pihak pertama yang menyatakan tidak bersedia mengikuti final ulang.

Pihak sekolah menegaskan bahwa langkah mereka sejak awal bukan bertujuan menyerang lembaga maupun individu tertentu.

Mereka menilai yang diperjuangkan hanyalah kejelasan prosedur agar kompetisi berlangsung lebih transparan, objektif, dan akuntabel.

Dalam pernyataan resminya, pihak sekolah menegaskan sikap mereka tidak dimaksudkan untuk membatalkan kemenangan pihak lain.

"SMAN 1 Pontianak tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan hanya untuk memperoleh kejelasan terhadap poin-poin yang dipersoalkan," tulis perwakilan sekolah.

Pernyataan itu banyak mendapat simpati karena dianggap memperlihatkan sikap elegan di tengah situasi yang memanas.

SMAN 1 Sambas Ikut Menolak Final Ulang

Beberapa hari setelahnya, SMAN 1 Sambas juga mengambil keputusan serupa.

Sekolah asal perbatasan Kalbar tersebut menegaskan peserta didiknya telah mengikuti seluruh aturan lomba sebagaimana ketentuan panitia.

Mereka juga membantah keras berbagai tuduhan yang sempat beredar di media sosial, mulai dari isu kecurangan, penyuapan hingga dugaan pengaturan kemenangan.

Pihak sekolah meminta publik menahan diri dan menghormati proses penyelesaian persoalan.

"SMAN 1 Sambas menolak pertandingan final ulang Provinsi Kalimantan Barat. Kami berharap seluruh pihak dapat menahan diri, menghormati proses yang sedang berlangsung dan mengedepankan penyelesaian yang bijaksana, objektif serta berkeadilan," tulis pihak sekolah.

MPR Sebut Tujuan Empat Pilar Bukan Sekadar Lomba

Abraham menegaskan LCC Empat Pilar sejak awal bukan hanya ajang adu kecerdasan semata.

Program tersebut, kata dia, dirancang sebagai pendekatan yang lebih menarik bagi generasi muda agar memahami nilai kehidupan bernegara.

Tujuan utamanya adalah menanamkan wawasan kebangsaan serta membentuk karakter pelajar yang memiliki integritas.

Menurutnya, nilai Empat Pilar mencakup semangat demokrasi, toleransi, persatuan hingga kemampuan berpikir kritis.

"Mendorong generasi muda memahami nilai demokrasi, toleransi, persatuan dan konstitusi negara. Membentuk karakter pelajar yang nasionalis dan berintegritas. Menumbuhkan budaya berpikir kritis, kerja sama tim dan sportivitas dalam berlomba," jelas Abraham.

Di tengah polemik yang sempat memecah opini publik, sikap dua sekolah tersebut kini justru dinilai menjadi pelajaran penting bahwa esensi kompetisi tidak melulu soal menang atau kalah.

Lebih dari itu, peristiwa LCC Empat Pilar Kalbar kini berubah menjadi panggung pembelajaran mengenai kedewasaan, sportivitas, dan cara menyelesaikan perbedaan secara bermartabat. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#LCC Empat Pilar MPR #SMAN 1 Sambas #SMAN 1 Pontianak #Final Ulang LCC Kalbar #mpr ri