Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dari Pendiri Gojek hingga Terdakwa Kasus Chromebook, Jejak Naik-Turun Nadiem Makarim di Panggung Nasional

Ali Sodiqin • Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30 WIB
Nadiem Makarim saat masih menjadi Co-Founder GoJek Indonesia. (GoJek Indonesia)
Nadiem Makarim saat masih menjadi Co-Founder GoJek Indonesia. (GoJek Indonesia)

RADARBANYUWANGI.ID - Nama Nadiem Makarim pernah dipuja sebagai simbol generasi muda progresif Indonesia. Pendiri Gojek itu dianggap sukses mengubah wajah transportasi digital nasional sebelum akhirnya dipercaya Presiden Joko Widodo menjadi menteri termuda di Kabinet Indonesia Maju.

Namun perjalanan karier Nadiem kini berubah drastis. Sosok yang dulu dielu-elukan sebagai ikon startup Indonesia itu kini menghadapi tuntutan berat di Pengadilan Tipikor Jakarta dalam kasus pengadaan Chromebook Kemendikbudristek yang disebut merugikan negara Rp2,18 triliun.

Dari ruang rapat startup teknologi hingga kursi terdakwa pengadilan, perjalanan Nadiem Makarim menjadi salah satu kisah paling dramatis dalam dunia bisnis dan politik Indonesia modern.

Lahir dari Lingkungan Intelektual, Bukan Dinasti Pengusaha

Nadiem Anwar Makarim lahir di Singapura pada 4 Juli 1984. Meski dikenal sebagai pengusaha sukses, Nadiem sebenarnya bukan berasal dari keluarga konglomerat bisnis.

Ayahnya, Nono Anwar Makarim, dikenal sebagai aktivis dan pengacara ternama Indonesia.

Sementara ibunya, Atika Algadri, merupakan penulis lepas sekaligus putri dari tokoh nasional Hamid Algadri yang pernah menjadi anggota parlemen pada awal kemerdekaan RI.

Di tengah lingkungan keluarga yang kental dengan dunia hukum dan intelektual, Nadiem justru memilih jalur bisnis dan teknologi.

Ia menjadi satu-satunya anggota keluarga yang fokus membangun perusahaan startup.

Kuliah di Amerika dan Lulus dari Harvard

Perjalanan akademik Nadiem banyak ditempa di Amerika Serikat.

Ia menempuh pendidikan di Brown University, Rhode Island, dengan jurusan Hubungan Internasional dan lulus pada 2006.

Setelah itu, Nadiem sempat bekerja sebagai konsultan sebelum kembali melanjutkan pendidikan magister di Harvard Business School.

Ia meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari Harvard pada 2011.

Latar pendidikan internasional tersebut kemudian membentuk cara berpikir Nadiem yang dikenal modern, agresif, dan berbasis teknologi.

Pernah Jadi Konsultan hingga Co-Founder Zalora

Sebelum mendirikan Gojek, Nadiem sempat berkarier di berbagai perusahaan besar.

Ia pernah bekerja sebagai konsultan manajemen di McKinsey & Company Jakarta.

Setelah menyelesaikan studi MBA di Harvard, Nadiem ikut mendirikan Zalora Indonesia sebagai co-founder.

Tak lama kemudian, ia juga menjabat sebagai Chief Innovation Officer di Kartuku.

Pengalaman di dunia konsultasi, startup, dan teknologi itulah yang menjadi fondasi besar lahirnya Gojek.

Mendirikan Gojek dan Mengubah Indonesia

Titik balik terbesar dalam hidup Nadiem datang saat ia mendirikan Gojek pada 2010.

Ide awalnya muncul dari keresahan pribadi terhadap sistem transportasi Indonesia yang dianggap tidak efisien.

Saat masih menjadi pekerja kantoran, Nadiem kerap menggunakan jasa ojek dan melihat banyak waktu pengemudi terbuang hanya untuk menunggu penumpang.

Berbekal 20 driver ojek langganannya, ia mulai membangun layanan call center sederhana bernama Gojek.

Siapa sangka, startup kecil itu kemudian berkembang menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara.

Di bawah kepemimpinan Nadiem:

Gojek juga dianggap mengubah pola hidup masyarakat Indonesia sekaligus membuka lapangan pekerjaan besar bagi jutaan mitra driver dan UMKM.

Jadi Menteri Termuda di Era Jokowi

Pada Oktober 2019, Nadiem membuat keputusan mengejutkan.

Ia mundur dari posisi CEO Gojek setelah dipanggil Presiden Joko Widodo untuk masuk kabinet.

Di usia 35 tahun, Nadiem resmi menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI sekaligus menjadi salah satu menteri termuda di Kabinet Indonesia Maju.

Saat diperkenalkan Jokowi, Nadiem menyebut dirinya hadir sebagai representasi generasi muda Indonesia.

“Saya mewakili generasi milenial ke bawah. Kehadiran saya membuka kesempatan generasi berikutnya,” kata Nadiem saat itu.

Pada 2021, Kemendikbud digabung dengan Kemenristek sehingga jabatannya berubah menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek).

Program “Merdeka Belajar” hingga Digitalisasi Sekolah

Selama menjabat menteri, Nadiem dikenal membawa pendekatan ala startup ke dunia pendidikan.

Beberapa program populernya antara lain:

Nadiem dikenal aktif mendorong transformasi digital di sektor pendidikan nasional.

Namun justru dari program digitalisasi itulah masalah hukum besar mulai muncul.

Awal Mula Kasus Chromebook

Kasus yang menyeret Nadiem berkaitan dengan pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) untuk program digitalisasi pendidikan periode 2020–2022.

Jaksa menilai proyek tersebut tidak sesuai kebutuhan pendidikan nasional, terutama untuk wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Chromebook dianggap tidak efektif karena sangat bergantung pada koneksi internet.

Dalam persidangan, jaksa menyebut pengadaan dilakukan secara terarah dan diduga menguntungkan ekosistem tertentu.

Kerugian negara disebut mencapai Rp2,18 triliun.

Dituntut 18 Tahun Penjara

Pada Mei 2026, jaksa penuntut umum menuntut Nadiem dengan:

Jaksa juga menuduh Nadiem menerima keuntungan Rp809 miliar terkait perkara tersebut.

Selain itu, terdapat dugaan harta kekayaan senilai Rp4,8 triliun yang dianggap tidak sesuai penghasilan sah.

Kasus ini menjadi salah satu perkara korupsi terbesar yang menyeret tokoh startup Indonesia.

Respons Nadiem: “Lebih Berat dari Teroris”

Nadiem membantah seluruh tuduhan jaksa.

Ia mengaku tidak pernah ikut menentukan teknis pengadaan Chromebook dan sudah tidak memiliki hubungan bisnis dengan Gojek setelah menjadi menteri.

Dalam sidang, pernyataannya yang paling menyita perhatian publik adalah ketika membandingkan tuntutannya dengan kasus terorisme.

“Kenapa tuntutan saya lebih besar daripada teroris?” ujar Nadiem.

Pernyataan tersebut langsung viral dan memicu perdebatan luas di media sosial.

Dari Ikon Startup ke Sorotan Pengadilan

Perjalanan Nadiem Makarim kini menjadi potret kontras tentang naik-turunnya figur publik di Indonesia.

Dari mahasiswa lulusan Harvard, pendiri startup decacorn, menteri termuda kabinet Jokowi, hingga terdakwa kasus korupsi besar di sektor pendidikan nasional.

Terlepas dari proses hukum yang masih berjalan, nama Nadiem telah meninggalkan jejak besar dalam sejarah transformasi digital Indonesia.

Kini publik menunggu bagaimana akhir perjalanan hukum sosok yang pernah dianggap sebagai simbol masa depan ekonomi digital Indonesia tersebut. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#kasus Chromebook #profil Nadiem Makarim #nadiem makarim #Gojek #mendikbudristek