RADARBANYUWANGI.ID - Rombongan Indonesia Walk for Peace yang diikuti puluhan Biksu Thudong meninggalkan Banyuwangi pada Selasa siang (12/5/2026). Setelah bermalam di Candi Manggala, para biksu melanjutkan perjalanan menuju Pasuruan sebelum akhirnya finis di Candi Borobudur untuk memperingati Hari Tri Suci Waisak 2026.
Sebanyak 58 biksu dari Thailand, Malaysia, dan Laos itu berjalan membawa pesan perdamaian lintas negara sekaligus mengenalkan kemegahan Borobudur kepada dunia internasional. Kehadiran mereka di Banyuwangi pun menyedot perhatian warga yang antusias menyambut perjalanan spiritual tersebut.
Bermalam di Candi Manggala Setelah Tiba dari Rogojampi
Rombongan Biksu Thudong tiba di Banyuwangi pada Senin (11/5) setelah menempuh perjalanan dari Bali.
Sebelum menuju Gambiran, para biksu terlebih dahulu singgah di TITD Tik Liong Tian. Dari lokasi tersebut, mereka berjalan kaki menuju Candi Manggala di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, untuk beristirahat dan bermalam.
Sekitar pukul 12.00 kemarin, para biksu kembali melanjutkan perjalanan panjang menuju Pasuruan sebagai bagian dari rute menuju Candi Borobudur.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari ritual spiritual tahunan menyambut Waisak yang selalu menarik perhatian masyarakat di berbagai daerah yang dilalui.
Biksu dari Tiga Negara Ikut Jalan Damai Menuju Borobudur
Salah satu peserta perjalanan, Teja Puno, mengatakan agenda Indonesia Walk for Peace digelar untuk menyambut Hari Tri Suci Waisak sekaligus memperkenalkan Borobudur ke dunia internasional.
“Jadi kita semuanya dalam rangka memperingati Hari Tri Suci Waisak yang nanti akan jatuh pada Minggu (31/5). Para umat dari berbagai penjuru, bahkan luar negeri, berduyun-duyun menuju Candi Agung Borobudur,” ujarnya.
Menurut Bhante Teja, para biksu yang ikut perjalanan berasal dari berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Thailand, Malaysia, dan Laos.
Mereka memiliki tekad mengikuti perjalanan spiritual menuju Borobudur sebagai simbol perdamaian dan kebajikan umat Buddha.
Tak Semua Perjalanan Ditempuh dengan Jalan Kaki
Bhante Teja menjelaskan, rombongan memulai perjalanan dari Bali menuju Candi Borobudur.
Meski dikenal sebagai tradisi berjalan kaki, tidak seluruh rute ditempuh dengan berjalan. Beberapa perjalanan dilakukan menggunakan kendaraan maupun transportasi umum untuk menyesuaikan kondisi dan jadwal perjalanan.
Namun esensi perjalanan spiritual tetap dipertahankan sebagai bentuk latihan kesabaran, pengendalian diri, dan refleksi batin menjelang Hari Waisak.
Borobudur Disebut Mahakarya yang Mendunia
Bhante Teja mengungkapkan masih banyak biksu dan umat Buddha luar negeri yang belum pernah melihat langsung kemegahan Borobudur.
Karena itu, perjalanan Thudong ini juga menjadi sarana memperkenalkan salah satu warisan budaya terbesar Indonesia kepada dunia.
“Belum ada yang sebesar, semegah, seindah Candi Agung Borobudur. Maka banyak biksu dan umat yang penasaran sehingga ikut perjalanan ini,” jelasnya.
Menurutnya, Borobudur bukan hanya situs wisata, tetapi simbol peradaban dan spiritualitas Buddha yang memiliki daya tarik internasional.
Waisak Bukan Sekadar Seremonial
Bhante Teja menegaskan peringatan Tri Suci Waisak bukan hanya perayaan seremonial semata.
Waisak memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Gautama, yakni kelahiran Pangeran Siddhartha, pencapaian penerangan sempurna, dan wafatnya Buddha.
Ia menjelaskan perjalanan spiritual Siddhartha dimulai ketika melihat penderitaan manusia berupa usia tua, sakit, kematian, dan kehidupan pertapa hingga akhirnya memilih meninggalkan istana untuk mencari jalan pembebasan dari penderitaan.
“Melalui momen ini harus jadi kesempatan untuk berbuat kebajikan sebisa mungkin,” tuturnya.
Banyuwangi Jadi Jalur Spiritual Internasional
Kehadiran puluhan biksu mancanegara di Banyuwangi menjadi pemandangan langka sekaligus memperlihatkan posisi daerah tersebut sebagai jalur penting perjalanan spiritual menuju Borobudur.
Sepanjang perjalanan, warga tampak antusias menyambut para biksu yang berjalan dengan jubah khas sambil membawa perlengkapan sederhana.
Bhante Teja juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat dan seluruh pihak yang telah membantu kelancaran perjalanan para biksu selama berada di Banyuwangi.
“Ini juga dalam rangka memperingati Tri Suci Waisak, terima kasih atas support dan bantuan yang telah diberikan,” pungkasnya.
Rombongan dijadwalkan terus melanjutkan perjalanan menuju Pasuruan sebelum akhirnya tiba di Borobudur untuk mengikuti rangkaian puncak perayaan Waisak 2026. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin