RADARBANYUWANGI.ID - Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras, mendorong percepatan pemisahan jalur operasional kereta rel listrik (KRL) dan kereta api antarkota menyusul kecelakaan kereta api di kawasan Bekasi Timur, Jawa Barat. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas sekaligus keselamatan perjalanan kereta di wilayah padat perkotaan.
Menurut Andi, penyelesaian proyek Double-Double Track (DDT) Jakarta–Cikarang harus menjadi prioritas pemerintah dan operator perkeretaapian. Dengan pemisahan jalur, operasional KRL dan kereta jarak jauh tidak lagi saling mengganggu sehingga potensi kecelakaan dapat ditekan.
“Pemisahan jalur operasional harus menjadi prioritas. Penyelesaian proyek Double-Double Track Jakarta–Cikarang tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga keselamatan,” kata Andi, Senin (11/5/2026), dikutip Antara.
Ia menilai insiden di Bekasi Timur menunjukkan adanya tekanan sistemik pada jalur rel di kawasan perkotaan. Karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian dinilai mendesak dilakukan.
Evaluasi tersebut, lanjut dia, perlu mencakup seluruh aspek keselamatan, mulai dari perencanaan, pemantauan perjalanan, hingga respons terhadap gangguan berantai di jalur rel.
“Keselamatan perkeretaapian tidak cukup hanya bergantung pada disiplin operasional harian, tetapi juga harus dilihat sebagai kemampuan sistem dalam mendeteksi, mengisolasi, dan memutus risiko sejak awal gangguan terjadi,” ujarnya.
Baca Juga: Polisi Kembangkan Kasus Penggelapan Rp 920 Juta di Banyuwangi, Bidik Keterlibatan Pelaku Lain
Selain persoalan jalur operasional, Andi juga menyoroti masih banyaknya perlintasan sebidang yang menjadi titik rawan kecelakaan. Ia meminta pembenahan dilakukan secara bertahap namun terukur agar risiko kecelakaan dapat ditekan.
“Perlintasan sebidang harus segera dibenahi. Persoalan seperti ini masih sering terjadi dan berpotensi menimbulkan kecelakaan,” ucapnya.
Sementara itu, pengamat transportasi Darmaningtyas menilai keberadaan proyek DDT sangat penting untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api, terutama pada jalur dengan tingkat kepadatan tinggi.
Menurut dia, pemisahan jalur antara kereta lokal dan kereta jarak jauh akan membuat perjalanan lebih aman dan minim gangguan operasional.
“Diharapkan kalau proyek Double-Double Track itu selesai tidak ada gangguan lagi,” katanya.
Darmaningtyas juga mendorong penerapan teknologi Intelligent Transportation System (ITS) berbasis GPS untuk memperkuat sistem keselamatan operasional kereta api. Teknologi tersebut dinilai mampu membantu masinis memantau kondisi jalur di depan secara lebih cepat dan akurat.
“Gunakan teknologi Intelligent Transportation System berbasis GPS untuk meningkatkan keselamatan operasional kereta,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perangkat GPS yang terintegrasi pada sarana kereta dapat mendeteksi gangguan atau keberadaan kereta lain dalam radius satu hingga dua kilometer di depan perjalanan.
“Kalau semua sarana PT KAI itu dilengkapi dengan GPS yang bisa mendeteksi satu atau dua kilo ke depan itu ada gangguan apa, itu bisa meminimalisir kecelakaan,” tuturnya.
Pengembangan teknologi keselamatan berbasis GPS dinilai dapat menjadi opsi strategis untuk memperkuat sistem monitoring perjalanan kereta api nasional. Dengan kombinasi penyelesaian proyek DDT dan penerapan teknologi modern, keselamatan serta keandalan layanan kereta api diharapkan semakin meningkat.
Editor : Lugas Rumpakaadi