Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Momen Sakral Sambut 56 Biksu Thudong di Banyuwangi, Tabur Mawar hingga Barongsai Iringi Pesan Perdamaian

Fredy Rizki Manunggal • Selasa, 12 Mei 2026 | 05:00 WIB
JALAN KAKI: Setelah menempuh perjalanan lewat laut, rombongan Biksu Thudong turun dari KMP Gerbang Samudera 5 di Pelabuhan Ketapang, Senin (11/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
JALAN KAKI: Setelah menempuh perjalanan lewat laut, rombongan Biksu Thudong turun dari KMP Gerbang Samudera 5 di Pelabuhan Ketapang, Senin (11/5). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

Perjalanan spiritual Walk For Peace 2026 menuju Borobudur disambut meriah lintas agama di Rogojampi

RADARBANYUWANGI.ID – Suasana sakral bercampur haru menyelimuti kawasan TITD Tik Liong Tian, Rogojampi, Banyuwangi, Senin (11/5). Sebanyak 56 Biksu Thudong dari berbagai negara tiba di Banyuwangi dalam perjalanan spiritual Walk For Peace 2026 menuju Candi Borobudur.

Kedatangan rombongan biksu yang membawa pesan perdamaian itu disambut meriah umat Buddha dan masyarakat lintas agama. Taburan ribuan kelopak bunga mawar, atraksi barongsai, hingga pengawalan organisasi masyarakat lintas agama menjadi simbol kuat toleransi dan persaudaraan di Bumi Blambangan.

Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang dilalui para biksu dalam ritual jalan kaki atau Thudong menuju Borobudur untuk mengikuti rangkaian Hari Raya Waisak. Sebelum tiba di Banyuwangi, rombongan memulai perjalanan dari Vihara Brahma Arama.

Dari Bali, para biksu menyeberang melalui Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang menggunakan KMP Gerbang Samudera 5. Rombongan tiba sekitar pukul 10.00 WIB.

Dalam perjalanan laut melintasi Selat Bali, para biksu sempat menggelar ritual tabur bunga di tengah perairan. Ritual tersebut menjadi simbol doa perdamaian dan penghormatan terhadap kehidupan.

TABURKAN BUNGA MAWAR: Siswa sekolah ikut menyambut kedatangan para Biksu di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tik Liong Tian, Rogojampi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
TABURKAN BUNGA MAWAR: Siswa sekolah ikut menyambut kedatangan para Biksu di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tik Liong Tian, Rogojampi. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

 

Setibanya di Pelabuhan Ketapang, rombongan langsung dijemput menuju TITD Tik Liong Tian di Rogojampi. Sambutan hangat telah menanti sejak rombongan tiba di kawasan pasar Rogojampi.

Sepanjang perjalanan menuju klenteng, para pelajar menaburkan bunga mawar sebagai bentuk penghormatan atas kedatangan para biksu. Ribuan warga dan umat Buddha tampak antusias menyaksikan momen yang disebut pertama kali terjadi di Banyuwangi tersebut.

Tidak hanya itu, iringan kesenian barongsai turut memeriahkan penyambutan. Beberapa organisasi masyarakat lintas agama juga ikut melakukan pengawalan sebagai simbol kebersamaan dan toleransi antarumat beragama di Banyuwangi.

Setelah memasuki area klenteng, para biksu melakukan sembahyang bersama sebelum menikmati jamuan dari umat. Selanjutnya, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Vihara Jaya Manggala.

Pengurus Klenteng Tik Liong Tian, Siswanto menjelaskan, selama perjalanan menuju Borobudur para biksu akan singgah di sejumlah vihara dan tempat ibadah yang telah disiapkan panitia di berbagai daerah.

“Selama perjalanan para biksu akan singgah di sejumlah vihara dan tempat peribadatan yang telah disiapkan panitia di berbagai daerah,” ujarnya.

Menurut Siswanto, kedatangan para Biksu Thudong menjadi momen istimewa bagi umat Buddha di Banyuwangi. Karena itu, penyambutan dilakukan dengan penuh penghormatan, termasuk menyiapkan ribuan kelopak bunga mawar.

Dia menjelaskan, bunga mawar memiliki makna mendalam dalam filosofi kehidupan manusia. Mulai dari kuncup hingga gugur, bunga mawar melambangkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga meninggal dunia.

“Bunga ini memberikan simbol kehidupan manusia dari kuncup (lahir) sampai gugur (mati). Ini simbol harapan umat agar bisa mendapat kesejahteraan,” jelasnya.

Sementara itu, Pembina Klenteng Tik Liong Tian, Leman Kristanto mengatakan, para biksu akan berjalan kaki minimal 30 kilometer setiap hari. Total perjalanan menuju Borobudur diperkirakan mencapai sekitar 666 kilometer.

Setelah dari Banyuwangi, rombongan akan melanjutkan perjalanan menuju Pasuruan dan terus bergerak ke arah barat hingga tiba di Borobudur saat puncak perayaan Waisak.

“Selama perjalanan para Biksu seperti bermeditasi, mereka menyebarkan aura damai dan membawa pesan damai dalam perjalanan,” kata Leman.

Salah satu peserta Thudong, Jinavaro, mengaku bersyukur dapat mengikuti perjalanan spiritual tersebut tahun ini. Bersama puluhan biksu dari Malaysia, Laos, Myanmar, Vietnam, Indonesia, dan Thailand, dia harus menghadapi cuaca panas dan perjalanan panjang demi menyebarkan pesan perdamaian.

“Perjalanannya sangat bagus, walaupun banyak rintangan dan hambatan. Cuaca di Bali luar biasa panas dibandingkan di Pulau Jawa. Tapi kami tetap harus punya semangat supaya bisa sampai di Borobudur,” ujar biksu asal Jakarta tersebut.

Perjalanan Thudong sendiri merupakan tradisi spiritual umat Buddha yang dijalani dengan berjalan kaki dalam kesederhanaan, disiplin, dan pengendalian diri. Selain menjadi perjalanan religius, tradisi tersebut juga membawa pesan universal tentang kedamaian, toleransi, dan harmoni antarmanusia. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Biksu Thudong Banyuwangi #Waisak Borobudur #Walk For Peace 2026 #Biksu Thudong Rogojampi #TITD Tik Liong Tian