Untuk pertama kalinya Banyuwangi menjadi jalur perjalanan spiritual internasional menuju Borobudur, perkuat posisi sebagai destinasi wisata religi dunia
RADARBANYUWANGI.ID – Sejarah baru tercipta di ujung timur Pulau Jawa. Untuk pertama kalinya, Banyuwangi menjadi bagian dari rute internasional perjalanan spiritual Walk for Peace Indonesia 2026 yang diikuti puluhan bhiku dari berbagai negara Asia Tenggara.
Sebanyak 50 bhiku asal Thailand, Malaysia, dan Indonesia tiba di Banyuwangi pada Senin siang (11/5/2026). Kehadiran para rohaniwan mancanegara itu bukan sekadar agenda perjalanan religi, tetapi juga menjadi momentum penting yang menegaskan posisi Banyuwangi sebagai destinasi wisata religi dunia berbasis harmoni dan keberagaman.
Rombongan disambut hangat di TITD Tik Liong Tian, Rogojampi. Ribuan masyarakat lintas agama tampak memadati area penyambutan untuk menyaksikan langsung momen langka yang baru pertama kali terjadi di Bumi Blambangan tersebut.
Suasana penuh kekeluargaan terasa saat para bhiku memasuki area klenteng. Tradisi tabur bunga, prosesi penyambutan, hingga atraksi barongsai menjadi simbol penghormatan sekaligus bentuk penerimaan masyarakat Banyuwangi terhadap nilai-nilai perdamaian dan toleransi yang dibawa rombongan Walk for Peace.
Momentum internasional itu juga menjadi panggung besar bagi Banyuwangi untuk menunjukkan wajah daerah yang damai, inklusif, dan menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama kepada dunia internasional.
Ipuk Fiestiandani yang hadir langsung menyambut kedatangan rombongan mengaku bangga Banyuwangi dipercaya menjadi salah satu kota persinggahan perjalanan spiritual tersebut.
Menurut Ipuk, rumah ibadah di Banyuwangi bukan hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga tempat tumbuhnya nilai kebersamaan dan harmoni sosial di tengah masyarakat multikultural.
“Bagi kami, rumah ibadah bukan hanya sekadar tempat spiritual tetapi juga merupakan ruang untuk menumbuhkan harmoni sosial,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari laman banyuwangitourism.com.
Ipuk menegaskan, Banyuwangi selama ini dikenal sebagai daerah dengan kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi. Keberadaan masjid, gereja, pura, vihara, dan klenteng yang hidup berdampingan menjadi potret nyata kuatnya semangat persaudaraan di tengah keberagaman.
Setelah menyelesaikan agenda di Rogojampi, para bhiku melanjutkan perjalanan menuju Vihara Jaya Manggala di Kecamatan Gambiran.
Vihara tersebut kini mulai didorong menjadi salah satu destinasi wisata religi unggulan Banyuwangi. Tidak hanya menjadi tempat singgah dan beristirahat para bhiku, Vihara Jaya Manggala juga diproyeksikan sebagai simbol ketenangan batin sekaligus magnet baru sektor spiritual tourism di Banyuwangi.
Masuknya vihara tersebut dalam jalur perjalanan internasional menuju Candi Borobudur diyakini mampu mengangkat kelas wisata religi Banyuwangi ke level global.
Ketua Panitia di TITD Tik Liong Tian Siswanto mengatakan, berbagai persiapan telah dilakukan secara matang untuk memastikan kelancaran perjalanan spiritual tersebut selama berada di Banyuwangi.
Dia berharap masyarakat dapat mengambil nilai edukasi dan pesan kemanusiaan dari perjalanan damai para bhiku.
“Semoga event ini menjadi berkah bagi umat khususnya di Banyuwangi karena sangat banyak makna dan nilai spiritual yang dapat diambil dari perjalanan para bhiku,” ujarnya.
Setelah meninggalkan Banyuwangi, rombongan akan melanjutkan perjalanan panjang menuju Jawa Tengah dengan tujuan akhir Candi Borobudur sebagai pusat perayaan Hari Raya Waisak 2026 pada 30 Mei mendatang.
Perjalanan spiritual lintas negara tersebut membawa pesan universal tentang perdamaian, kemanusiaan, kesederhanaan, dan pengendalian diri yang disebarkan sepanjang perjalanan dari Bali hingga Borobudur.
Keberhasilan Banyuwangi menjadi bagian dari agenda internasional Walk for Peace 2026 sekaligus memperkuat citra daerah sebagai destinasi yang tidak hanya unggul di sektor wisata alam dan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar di bidang wisata religi dan spiritual kelas dunia. (*)
Editor : Ali Sodiqin