RADARANYUWANGI.ID - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Banyuwangi yang dipusatkan di Taman Blambangan berlangsung semarak, Sabtu (2/5). Kegiatan ini diisi dengan pameran pendidikan hingga atraksi seni kolosal bertajuk “Kuntulan Ewon” yang melibatkan ribuan pelajar SD, SMP, dan SMA.
Sebanyak 1.100 siswa menyuguhkan pertunjukan seni kuntulan yang cukup memukau. Kegiatan ini dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, Bupati Ipuk Fiestiandani, Wakil Bupati Mujiono, Plt Kadispendik Alfian bersama jajaran Forkopimda.
Yang menarik, di tengah meriahnya acara, Menteri Abdul Mu’ti dan Bupati Ipuk Fiestiandani bersama tamu undangan didaulat menyanyi diiringi musik kuntulan. Lagu yang dinyanyikan berjudul ” "Rukun Sama Teman" karya Mendikdasmen Mu’ti. Lagu ini sebagai bagian dari upaya penguatan pendidikan karakter bagi anak-anak. Dengan lirik yang sederhana dan mudah diingat, lagu ini cepat dikenal luas dan kerap dibawakan dalam berbagai kegiatan sekolah.
Mendikdasmen Mu’ti mengapresiasi penyelenggaraan Hardiknas di Banyuwangi yang dinilai berlangsung khidmat sekaligus meriah dengan mengangkat kekuatan budaya lokal.
“Penyelenggaraan Hardiknas di Banyuwangi berlangsung hikmat yang di kemas dengan kekuatan budaya dan kekayaan lokal, serta ini merupakan peringatan hardiknas termeriah se-Indonesia.” ujarnya.
Ia berharap kemeriahan seremonial Hardiknas di Banyuwangi ini tidak hanya berhenti sebagai perayaan semata, melainkan menjadi pemantik semangat untuk memperkuat mutu pendidikan.
“Tidak hanya boleh berhenti sebagai seremoni saja, tetapi Harus menjadi spirit ataupun semangat bersama untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan yang bermutu,” tambahnya.
Pertunjukan Kuntulan Ewon dibawakan oleh 1.060 pelajar yang terdiri dari 560 penabuh rebana dan 500 penari dari jenjang SD hingga SMA se-Banyuwangi. Mereka berkolaborasi dengan seniman dan budayawan, untuk menghadirkan pertunjukan yang memadukan gerak tari, musik, serta nilai-nilai religius.
Kesenian kuntulan merupakan seni tradisi khas Banyuwangi yang berakar dari kesenian hadrah sebagai media dakwah Islam. Dalam perkembangannya, kesenian ini berakulturasi dengan budaya lokal hingga melahirkan pertunjukan khas yang memadukan tarian, tabuhan rebana, dan syair religi.
Dengan gerakan dinamis yang berpadu dengan lantunan shalawat, para pelajar berhasil menciptakan suasana khidmat sekaligus membangkitkan semangat kebersamaan di tengah peringatan Hardiknas di Banyuwangi.
Mu’ti juga menegaskan pentingnya membangun generasi unggul sesuai arahan Presiden Prabowo. “Kita harus membangun generasi yang kuat dan hebat, karena mmerekalah generasi yang akan memajukan Indonesia menjadi bangsa yang lebih bermartabat,” katanya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut momentum Hardiknas tidak hanya menjadi refleksi kemajuan pendidikan, tetapi juga sarana menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah.
“Melalui Kuntulan Ewon, kita ingin menunjukkan bahwa pelajar Banyuwangi tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akar budaya dan nilai spiritual yang kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan di Banyuwangi tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pembentukan karakter, kreativitas, dan identitas budaya.
Salah satu peserta Kuntulan Ewon, Muhamad Ryan yang ikut sebagai penabuh rebana mengaku bangga dapat tampil dalam peringatan Hardiknas. “Saya bangga bisa tampil. Latihan bersama teman-teman kemarin terbayar lunas dengan penampilan yang lancar,” ungkapnya. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin