Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketapang Overload Saat Hari Besar, Jangkar Situbondo Disiapkan Jadi Jalur Logistik Baru ke Bali

Syaifuddin Mahmud • Sabtu, 2 Mei 2026 | 08:00 WIB
ANTRE MASUK KAPAL: Kepadatan di Pelabuhan ASDP Ketapang mendapat perhatian dari Dishub Jatim. Agar tidak terjadi kemacetan, Pelabuhan Jangkar akan diproyeksikan menjadi penyangga utama dalam mendistribusikan arus logistik menuju Pulau Bali. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
ANTRE MASUK KAPAL: Kepadatan di Pelabuhan ASDP Ketapang mendapat perhatian dari Dishub Jatim. Agar tidak terjadi kemacetan, Pelabuhan Jangkar akan diproyeksikan menjadi penyangga utama dalam mendistribusikan arus logistik menuju Pulau Bali. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARSITUBONDO.ID – Lonjakan ekstrem di lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang–Pelabuhan Gilimanuk, Bali, saat hari besar keagamaan kembali menjadi sorotan.

Antrean truk logistik yang mengular hingga berjam-jam bahkan berhari-hari dinilai tak lagi bisa ditoleransi. Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini menyiapkan skenario baru: mengalihkan sebagian beban ke Pelabuhan Jangkar.

Langkah ini bukan sekadar alternatif, melainkan strategi serius untuk memecah ketergantungan distribusi logistik yang selama ini bertumpu di satu titik krusial. Jika terealisasi, Jangkar akan menjadi penyangga utama arus barang menuju Pulau Bali.

Kepala Bidang Pelayaran Dinas Perhubungan Jatim, Luhur Prihadi, mengungkapkan bahwa usulan pembukaan rute baru sudah diajukan ke Kementerian Perhubungan Republik Indonesia dan kini tengah dalam tahap pembahasan intensif.

“Sudah kami usulkan. Saat ini masih dibahas secara teknis dan administratif di pusat,” ujarnya, Kamis (29/4).


Fokus Logistik, Bukan Penumpang

Rencana ini secara tegas difokuskan untuk kapal logistik jenis Roll-on/Roll-off (Roro), bukan untuk penumpang. Dengan demikian, distribusi barang diharapkan bisa tetap berjalan tanpa mengganggu arus transportasi masyarakat.

Rute yang disiapkan pun strategis: dari Jangkar langsung menuju sejumlah pelabuhan di Bali, seperti Pelabuhan Gunaksa di wilayah timur dan Pelabuhan Celukan Bawang di wilayah utara.

Skema ini dinilai mampu memangkas waktu tunggu yang selama ini menjadi momok di Ketapang. Sebab, distribusi tidak lagi menumpuk di satu jalur utama.

“Dengan rute langsung, logistik tidak perlu antre panjang di Ketapang. Ini akan sangat membantu saat terjadi lonjakan trafik, terutama di hari besar,” jelas Luhur.


Infrastruktur Siap, Akses Jadi PR

Secara teknis, Dishub Jatim mengklaim Pelabuhan Jangkar sudah siap mengemban peran baru tersebut. Dua dermaga dalam kondisi optimal, lengkap dengan fasilitas bongkar muat yang memadai.

Tak hanya itu, area parkir kendaraan logistik disebut mampu menampung hingga 40 truk besar per hari. Dengan kapasitas ini, potensi antrean hingga meluber ke jalan raya dinilai bisa ditekan.

Keunggulan lain, lalu lintas pelayaran di Jangkar relatif lengang. Saat ini, pelayaran lintas provinsi hanya berlangsung tiga kali dalam seminggu. Selebihnya didominasi pelayaran lokal ke wilayah Madura.

Namun, satu persoalan krusial masih menjadi ganjalan: akses jalan menuju pelabuhan. Lebar jalan dinilai belum ideal untuk menampung lonjakan kendaraan logistik dalam jumlah besar.

“Kami sudah minta pemerintah daerah untuk melakukan pelebaran akses jalan. Ini penting agar distribusi tidak tersendat di darat,” tegasnya.

Sambil menunggu realisasi pelebaran jalan, fokus saat ini diarahkan pada kesiapan pelabuhan tujuan di Bali agar mampu menerima lonjakan kapal logistik.


Memutus Ketergantungan Ketapang

Selama ini, lintasan Ketapang–Gilimanuk menjadi tulang punggung distribusi barang antara Jawa dan Bali. Namun, ketergantungan berlebih justru menjadi titik lemah saat terjadi lonjakan.

Antrean panjang yang kerap terjadi bukan hanya menghambat distribusi barang, tetapi juga berdampak pada stabilitas harga dan pasokan di Bali.

Dengan hadirnya jalur alternatif melalui Jangkar, pemerintah berharap sistem distribusi menjadi lebih fleksibel dan tidak lagi terpusat.

“Ini soal ketahanan logistik. Kalau hanya bergantung pada satu jalur, risikonya sangat besar,” tandas Luhur.

Jika skenario ini berjalan, peta distribusi logistik Jawa–Bali akan berubah signifikan. Jangkar tak lagi sekadar pelabuhan regional, melainkan simpul strategis baru yang menopang kelancaran arus barang—terutama saat momen krusial yang selama ini selalu memicu kemacetan ekstrem di Ketapang.(ian/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Ketapang Gilimanuk macet #Pelabuhan Jangkar Situbondo #jalur logistik Bali #kapal Roro Jangkar #dishub jatim