RADARBANYUWANGI.ID - Pengamat transportasi Djoko Setjowarno mendorong pemerintah untuk segera melakukan pembenahan sistem perkeretaapian nasional. Langkah ini dinilai krusial guna meningkatkan keamanan dan keselamatan perjalanan sekaligus menekan angka kecelakaan yang masih menjadi perhatian.
Djoko menegaskan, pemisahan jalur operasional antara kereta rel listrik (KRL) dan kereta antarkota harus menjadi prioritas utama. Menurutnya, kedua moda tersebut memiliki karakteristik yang berbeda secara mendasar, sehingga tidak ideal jika berbagi lintasan dalam kondisi padat.
“Penyelesaian proyek Double-Double Track Jakarta–Cikarang tidak hanya penting untuk meningkatkan kapasitas, tetapi juga keselamatan. Dalam jangka menengah, konsep ini perlu diperluas,” ujar Djoko, Rabu (29/4/2026), dikutip Antara.
Ia menjelaskan, selama pemisahan jalur belum sepenuhnya terealisasi, pengaturan kecepatan dan jarak antar kereta harus diperketat. Hal ini untuk memastikan adanya margin keselamatan yang cukup bagi setiap perjalanan.
“Konsekuensi kapasitas rel akan berkurang dan jadwal perjalanan kereta api perlu direvisi,” tambahnya.
Selain itu, Djoko menyoroti pentingnya percepatan penghapusan perlintasan sebidang di koridor padat. Dengan frekuensi kereta yang tinggi, waktu penutupan perlintasan semakin lama dan berpotensi memicu antrean panjang kendaraan.
Menurutnya, rendahnya disiplin pengguna jalan memperbesar risiko pelanggaran yang dapat berujung kecelakaan. Oleh karena itu, pembangunan perlintasan tidak sebidang seperti underpass dan overpass perlu diprioritaskan dengan pendekatan berbasis risiko.
Tak hanya itu, penataan ruang di sepanjang jalur kereta juga dinilai masih lemah. Aktivitas masyarakat yang tidak terkendali, keberadaan akses ilegal, hingga minimnya penegakan aturan menjadi faktor yang mengganggu operasional kereta.
Djoko juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama regulator. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak memangkas anggaran keselamatan demi efisiensi.
“Keselamatan transportasi adalah investasi jangka panjang, bukan beban biaya,” pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi