Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

DPR Soroti Insiden KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi, Syaiful Huda Desak Evaluasi Sinyal dan Manajemen Perjalanan Kereta Nasional

Lugas Rumpakaadi • Rabu, 29 April 2026 | 09:07 WIB
DPR soroti tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi. (JawaPos.com)
DPR soroti tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, menyoroti serius persoalan sistem persinyalan dalam insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Bekasi, Jawa Barat.

Menurut dia, secara prosedur operasional, kereta api jarak jauh seharusnya memperlambat bahkan menghentikan perjalanan ketika terdapat gangguan pada jalur yang sama.

“Pertanyaannya kenapa KA Argo Bromo Anggrek tidak menghentikan perjalanannya?” ujar Syaiful dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (28/4/2026), dikutip Antara.

Syaiful mempertanyakan apakah insiden tersebut dipicu persoalan teknis pada sistem sinyal atau kelalaian manusia. Ia menilai, kereta lain dalam kondisi serupa mampu menghentikan laju meski terdapat gangguan di lintasan.

Peristiwa ini, lanjutnya, sangat memprihatinkan mengingat kereta api—baik jarak jauh maupun commuter—telah menjadi tulang punggung transportasi masyarakat perkotaan dan antarwilayah.

Negara sendiri, kata dia, telah menggelontorkan investasi besar untuk pengembangan infrastruktur, teknologi persinyalan, hingga prosedur operasional perjalanan kereta api.

Meski demikian, DPR memilih menunggu hasil investigasi resmi dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) guna memastikan penyebab utama kecelakaan.

Syaiful menegaskan, jika ditemukan faktor tekanan waktu terhadap masinis, maka perlu ada evaluasi manajemen operasional.

“Jika masinis merasa tertekan karena dikejar waktu, maka manajemen perjalanan harus diperbaiki agar tidak mengabaikan keselamatan,” tegasnya.

Namun, jika hasil investigasi mengarah pada gangguan sistem sinyal, ia mendorong dilakukan pembenahan besar-besaran.

“Jika persoalannya sinyal, harus ada revolusi persinyalan yang presisi,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga menyinggung kemungkinan faktor perlintasan sebidang tanpa penjagaan. Jika terbukti menjadi pemicu, pemerintah diminta melakukan perbaikan mendasar pada infrastruktur.

Dalam kasus ini, disebutkan adanya insiden awal yang melibatkan kendaraan “taksi hijau” di perlintasan JPL 85 yang nekat melintas dan mogok di tengah rel hingga tertabrak KRL.

“Ini juga yang mungkin terjadi di perlintasan JPL 85, di mana kendaraan nekat melintas dan akhirnya memicu rangkaian kejadian,” katanya.

Syaiful menilai, meski kecelakaan kereta di negara maju jarang terjadi, setiap insiden selalu menjadi titik balik dalam peningkatan standar keselamatan.

Karena itu, ia berharap kejadian ini menjadi momentum bagi PT KAI untuk melakukan evaluasi menyeluruh.

“Kami berharap kecelakaan ini menjadi titik balik untuk merumuskan standar keselamatan yang lebih baik ke depan,” ujarnya.

Di sisi lain, Syaiful juga menyoroti rendahnya kepatuhan masyarakat di perlintasan sebidang. Ia menyebut masih banyak pengguna jalan yang menerobos palang pintu meski sinyal kereta sudah aktif.

Menurutnya, peningkatan keselamatan tidak hanya bergantung pada sistem dan operator, tetapi juga kesadaran publik.

“Keselamatan perjalanan kereta adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Kecelakaan kereta Bekasi #investigasi KNKT #keselamatan transportasi #argo bromo anggrek #KRL Commuter Line