Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

BRIN Kembangkan Monitoring Real-Time Jembatan Kereta, Antisipasi Kecelakaan Pasca Insiden Bekasi

Lugas Rumpakaadi • Selasa, 28 April 2026 | 15:34 WIB
Jasa Raharja menerbitkan jaminan biaya perawatan bagi korban kecelakaan KRL di Bekasi Timur. (JawaPos.com)
Jasa Raharja menerbitkan jaminan biaya perawatan bagi korban kecelakaan KRL di Bekasi Timur. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Upaya meningkatkan keselamatan transportasi rel terus diperkuat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini mengembangkan teknologi pemantauan kondisi rel secara real time, khususnya pada jembatan kereta api, guna mencegah potensi kecelakaan di masa mendatang.

Kepala BRIN Arif Satria menegaskan, pengembangan ini menjadi respons atas insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur yang menimbulkan korban jiwa.

“Dalam konteks perkeretaapian, kita tidak hanya berbicara tentang aspek sarana, tetapi juga aspek prasarana. Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah Structural Health Monitoring System (SHMS), yang digunakan untuk audit jembatan kereta api secara real time,” ujar Arif di Jakarta, Selasa (28/4/2026), dikutip Antara.

Ia menambahkan, sistem tersebut diharapkan mampu memberikan data akurat dan cepat mengenai kondisi struktur jembatan, sehingga operator seperti PT Kereta Api Indonesia dapat mengambil langkah preventif sebelum terjadi kerusakan fatal.

“Sistem ini sangat bermanfaat, khususnya bagi PT KAI dalam menjaga keselamatan dan keandalan infrastruktur,” tegasnya.

Tak hanya itu, BRIN juga tengah mengembangkan berbagai riset lain di sektor perkeretaapian. Mulai dari pemodelan performa dan populasi kereta cepat, hingga prototipe sistem otomasi dan persinyalan modern. Saat ini, sekitar 20 kajian masih berjalan dengan dukungan fasilitas dan alat uji yang dinilai memadai.

Arif menekankan bahwa kecelakaan kereta api umumnya tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Ada keterkaitan antara teknologi, perilaku manusia, hingga aspek sosial.

“Kereta api merupakan sebuah ekosistem, sehingga persoalannya tidak bisa dilihat dari satu sisi saja,” ungkapnya.

Karena itu, BRIN juga memperluas pendekatan riset tidak hanya pada teknologi, tetapi juga hukum, kebijakan, dan sosial. Pendekatan multidisipliner ini diharapkan menghasilkan solusi yang lebih komprehensif.

Di sisi lain, BRIN tengah merevitalisasi kerja sama dengan PT Industri Kereta Api (INKA) di Madiun, Jawa Timur. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat inovasi dan kemandirian industri perkeretaapian nasional.

“BRIN tidak hanya fokus pada riset teknologi, tetapi juga mencakup aspek hukum, sosial, dan kebijakan, guna memberikan solusi komprehensif bagi berbagai tantangan nasional,” pungkas Arif.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Kecelakaan kereta Bekasi #teknologi SHMS #inovasi transportasi Indonesia #Keselamatan Kereta Api #BRIN