RADARBANYUWANGI.ID – Tekanan publik terhadap proyek Tol Gilimanuk–Mengwi kian menguat. Gubernur Bali I Wayan Koster bahkan secara terbuka mengaku “malu” saat terus ditanya masyarakat soal kelanjutan proyek strategis yang hingga kini belum menunjukkan progres signifikan.
Pernyataan itu disampaikan Koster dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia, dan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Ia menegaskan, proyek yang telah lama direncanakan tersebut kini menjadi sorotan warga karena belum ada kejelasan realisasi.
Proyek Lama, Tekanan Publik Makin Kuat
Menurut Koster, pembangunan Tol Gilimanuk–Mengwi bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, melainkan kebutuhan mendesak. Pasalnya, jalur utama dari Gilimanuk menuju Denpasar saat ini sudah mengalami kepadatan lalu lintas yang cukup serius.
“Proyek ini sudah lama direncanakan, tapi sampai sekarang belum ada perkembangan berarti. Kami jadi malu karena terus ditanya masyarakat,” ujarnya.
Kondisi ini semakin rumit karena sebagian lahan sudah masuk tahap penetapan lokasi (penlok). Akibatnya, masyarakat tidak bisa lagi memanfaatkan lahan tersebut, sementara pembangunan belum berjalan.
Penlok Sudah Lama, Lahan Terkatung-katung
Koster menyoroti dampak langsung yang dirasakan warga akibat ketidakpastian proyek. Lahan yang telah ditetapkan sebagai trase tol tidak bisa dimanfaatkan, sehingga memicu keresahan.
“Kami mohon kepastian kelanjutan proyek ini. Masyarakat butuh kejelasan,” tegasnya.
Permintaan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah daerah membutuhkan keputusan konkret dari pemerintah pusat, bukan sekadar rencana.
Respons Pemerintah: Masih Tahap Persiapan
Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri PU Diana Kusumastuti menjelaskan bahwa proyek Tol Gilimanuk–Mengwi saat ini masih berada pada tahap persiapan dokumen.
Beberapa proses yang tengah dilakukan meliputi:
-
Analisis dampak lingkungan (amdal)
-
Analisis dampak lalu lintas
-
Kesesuaian pemanfaatan ruang
-
Perencanaan pengadaan tanah
Tahapan ini menjadi syarat utama sebelum proyek masuk ke fase berikutnya.
Lelang 2027, Konstruksi 2028–2029
Pemerintah menargetkan proses pengadaan badan usaha jalan tol (BUJT) dimulai pada 2027. Setelah itu, konstruksi diproyeksikan berjalan pada 2028 hingga 2029.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Tol Gilimanuk–Mengwi ditargetkan mulai beroperasi pada 2031.
“Target operasional 2031, dengan konstruksi dimulai 2028–2029,” jelas Diana.
Solusi Kemacetan dan Penguat Pariwisata
Tol Gilimanuk–Mengwi digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan di jalur barat hingga selatan Bali. Selain itu, proyek ini juga akan mempercepat arus logistik dan mobilitas masyarakat.
Lebih jauh, keberadaan tol ini dinilai penting untuk mendukung sektor pariwisata Bali yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
“Ini bagian dari upaya memperkuat konektivitas strategis dan meningkatkan daya saing pariwisata Bali,” tambah Diana.
Antara Harapan dan Realisasi
Meski pemerintah telah menyampaikan roadmap terbaru, publik masih menunggu bukti nyata di lapangan. Apalagi proyek ini sudah berkali-kali mengalami perubahan skema dan keterlambatan.
Di sisi lain, tekanan terhadap pemerintah daerah juga semakin besar karena masyarakat terus menuntut kepastian.
Koster pun menyampaikan pesan tegas: Bali tidak hanya butuh rencana, tetapi kepastian.
Jika terealisasi, Tol Gilimanuk–Mengwi akan menjadi salah satu proyek infrastruktur paling vital di Pulau Dewata. Namun hingga saat ini, proyek tersebut masih berada di persimpangan antara harapan dan realisasi. (*)
Editor : Ali Sodiqin