RADARBANYUWANGI.ID – Lonjakan arus kendaraan akibat pembangunan jalan tol Probolinggo–Banyuwangi (Prosiwangi) mulai diantisipasi serius. PT ASDP Indonesia Ferry menyiapkan langkah besar dengan menaikkan kapasitas seluruh dermaga movable bridge (MB) di Pelabuhan Ketapang menjadi 50 ton pada 2029.
Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga kelancaran konektivitas utama Jawa–Bali yang selama ini bergantung pada Pelabuhan Ketapang sebagai simpul transportasi strategis.
Kejar Lonjakan Dampak Tol Prosiwangi
General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko Kurniansjah, menegaskan bahwa peningkatan kapasitas dermaga menjadi kebutuhan mendesak seiring progres pembangunan tol Prosiwangi.
ASDP memproyeksikan dalam waktu kurang dari tiga tahun, ruas tol tersebut sudah tersambung hingga Banyuwangi. Dampaknya, arus kendaraan menuju pelabuhan dipastikan melonjak tajam.
“Kalau tol sudah masuk Banyuwangi, mobilitas kendaraan pasti meningkat. Karena itu, kami harus siap dari sisi infrastruktur,” ujarnya.
Dermaga Tua Tak Lagi Mampu Tampung Kendaraan Modern
Sebagian besar dermaga MB di Ketapang merupakan infrastruktur lama yang dibangun sejak 1997 dengan kapasitas sekitar 30 ton.
Pada masanya, kapasitas tersebut masih memadai. Namun, perkembangan kendaraan logistik yang semakin besar membuat daya tampung itu kini tidak lagi relevan.
“Sekarang kendaraan jauh lebih besar dan berat. Kapasitas lama sudah tidak cukup,” terang Arief.
Upgrade Bertahap hingga 2029
ASDP merancang peningkatan kapasitas secara bertahap. Tahun ini, dermaga ponton akan diubah menjadi movable bridge dengan daya tahan hingga 50 ton.
Selanjutnya:
-
Dermaga 1 dan Dermaga 3 akan ditingkatkan
-
Seluruh dermaga ditargetkan berkapasitas minimal 50 ton pada 2029
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi bongkar muat dan mempercepat proses penyeberangan.
Penataan Kawasan dan Akses Jadi Prioritas
Tak hanya dermaga, ASDP juga akan melakukan penataan kawasan pelabuhan secara menyeluruh. Fokus utama adalah memperbaiki konektivitas akses masuk dan keluar pelabuhan.
Hal ini penting untuk menghindari bottleneck ketika volume kendaraan meningkat drastis.
Volume Kendaraan Sudah Dekati Batas
Saat ini, arus kendaraan di Ketapang mencapai sekitar 10 ribu unit per hari. Kapasitas maksimal pelabuhan berada di kisaran 15–16 ribu kendaraan.
Namun, pada momen puncak seperti angkutan Lebaran, jumlah kendaraan bisa melonjak hingga lebih dari 23 ribu unit per hari.
“Kalau sudah di atas kapasitas, pasti ada antrean. Tidak semua bisa langsung menyeberang,” jelas Arief.
Target: Kurangi Antrean, Tingkatkan Layanan
Dengan peningkatan kapasitas dermaga hingga 50 ton, ASDP berharap daya angkut kapal ferry menjadi lebih optimal, terutama untuk kendaraan berat.
Dampaknya:
-
Waktu tunggu kendaraan berkurang
-
Antrean saat peak season bisa ditekan
-
Pelayanan penyeberangan lebih cepat dan efisien
“Harapannya, kualitas layanan meningkat dan pengguna jasa lebih nyaman,” pungkas Arief.
Langkah modernisasi Pelabuhan Ketapang ini menjadi bagian penting dalam menyambut era konektivitas baru Jawa–Bali. Ketika tol Prosiwangi rampung, pelabuhan tak lagi sekadar gerbang penyeberangan, tetapi menjadi simpul logistik berkapasitas tinggi yang menopang pertumbuhan ekonomi kawasan timur Pulau Jawa. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin