RADARBANYUWANGI.ID – Peringatan Hari Kartini di RSUD Blambangan tak sekadar seremoni kebaya. Di balik tampilan anggun para tenaga medis perempuan, tersimpan realitas yang lebih tajam: dominasi perempuan di lini pelayanan kesehatan sekaligus tantangan besar menjaga kualitas layanan di tengah beban kerja tinggi.
Selasa (21/4), suasana rumah sakit pelat merah itu tampak berbeda. Dokter, perawat, hingga tenaga administrasi perempuan kompak mengenakan kebaya. Nuansa budaya terasa kuat. Namun bagi manajemen, momentum ini justru dimaknai sebagai pengingat serius akan tanggung jawab pelayanan.
Perempuan Dominan, Tanggung Jawab Kian Besar
Plt Direktur RSUD Blambangan, Siti Asiyah Anggraeni, menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini bukan hanya simbol penghormatan kepada Raden Ajeng Kartini.
“Ini momentum memperkuat komitmen pelayanan kesehatan yang berkualitas,” ujarnya.
Data internal menunjukkan, 418 dari total 746 pegawai atau sekitar 56 persen adalah perempuan. Mereka tidak hanya mendominasi jumlah, tetapi juga mengisi posisi strategis—mulai dokter, kepala ruang, hingga kepala instalasi.
Dominasi ini menjadi kekuatan sekaligus tekanan. Semakin besar peran, semakin tinggi ekspektasi publik terhadap kualitas layanan.
Bukan Sekadar Kebaya, Tapi Kinerja Nyata
Manajemen menegaskan, simbol budaya tidak boleh mengaburkan fokus utama: pelayanan pasien. Dalam kondisi nyata, rumah sakit dituntut bekerja cepat, tepat, dan humanis—terlepas dari momentum peringatan apa pun.
“Kami ingin semangat Kartini hadir dalam kerja nyata, bukan hanya tampilan,” tegas Asiyah.
Untuk itu, RSUD Blambangan juga menggelar lomba video kreatif sebagai upaya membangun semangat internal, sekaligus memperkuat budaya kerja.
Kesetaraan Dibuka, Kompetensi Diuji
RSUD Blambangan mengklaim membuka ruang setara bagi perempuan di semua lini—baik tenaga kesehatan maupun non-kesehatan. Bahkan, banyak posisi strategis kini diisi perempuan.
Namun kesetaraan ini membawa konsekuensi: kompetensi harus benar-benar teruji.
Dalam dunia medis yang penuh tekanan, kemampuan mengambil keputusan cepat dan akurat menjadi penentu utama—bukan gender.
“Perempuan di sini punya kesempatan yang sama untuk berkembang dan mengambil peran strategis,” jelas Asiyah.
Layanan Khusus Perempuan Jadi Andalan
Dominasi tenaga medis perempuan juga berdampak pada penguatan layanan khusus, terutama bagi pasien perempuan.
RSUD Blambangan menyediakan layanan seperti deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks, yang ditangani tenaga medis perempuan untuk meningkatkan kenyamanan pasien.
Langkah ini menjadi strategi penting, terutama dalam meningkatkan kesadaran kesehatan perempuan yang masih menjadi tantangan di banyak daerah.
Kartini di Ruang Perawatan
Jika dulu Raden Ajeng Kartini berjuang membuka akses pendidikan, kini semangat itu bergeser ke ruang-ruang pelayanan publik—termasuk rumah sakit.
Di RSUD Blambangan, Kartini hadir dalam bentuk berbeda: tenaga medis perempuan yang bekerja di garis depan, menghadapi tekanan, sekaligus menjaga kualitas layanan.
Namun satu hal menjadi jelas—emansipasi bukan lagi soal kesempatan.
Di dunia kesehatan, ia berubah menjadi tuntutan profesionalisme.
“Semangat Kartini adalah keberanian, kesetaraan, dan komitmen memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” pungkas Asiyah.
Di tengah perayaan penuh simbol, RSUD Blambangan mengirim pesan tegas: kebaya boleh dikenakan sehari, tetapi kualitas layanan harus dijaga setiap hari. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin