RADARBANYUWANGI.ID – Peringatan Hari Kartini di Bank Jatim Banyuwangi berlangsung berbeda, Selasa (21/4). Karyawan di lini pelayanan tampil mengenakan pakaian adat Mandailing, Sumatera Utara. Suasana kantor mendadak berubah lebih kental dengan nuansa budaya nusantara.
Namun di balik tampilan yang menarik perhatian nasabah, muncul satu pertanyaan yang tak kalah penting: apakah simbol budaya ini sejalan dengan kualitas pelayanan yang benar-benar dirasakan?
Simbol Budaya, Ujian Profesionalisme
Tidak seperti hari biasa, teller hingga customer service tampil dengan busana adat lengkap. Bagi sebagian nasabah, ini menjadi daya tarik tersendiri. Tapi bagi manajemen, tantangannya berbeda—memastikan pelayanan tetap prima di tengah suasana yang tidak biasa.
Pemimpin cabang Ni Gusti Ayu Putu Sri Lestari menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan.
“Hari ini pelayanan Bank Jatim menghadirkan nuansa budaya yang memperkuat rasa nasionalisme dan kebanggaan terhadap warisan nusantara sebagai bentuk penghormatan kepada Raden Ajeng Kartini,” ujarnya.
Layanan Tetap Jalan, Ekspektasi Justru Naik
Meski mengenakan busana adat yang relatif lebih kompleks, seluruh layanan tetap berjalan normal. Transaksi, konsultasi, hingga pelayanan administrasi dilakukan seperti biasa.
Namun justru di sinilah tantangan muncul. Saat tampilan visual meningkat, ekspektasi nasabah terhadap pelayanan juga ikut naik.
Nasabah tidak hanya melihat estetika, tetapi juga kecepatan, ketepatan, dan keramahan.
“Dengan mengenakan pakaian adat, karyawan tetap memberikan pelayanan terbaik dan setulus hati kepada masyarakat,” tegas Ni Gusti Ayu.
Tradisi Tahunan, Tapi Harus Lebih dari Sekadar Rutinitas
Penggunaan pakaian adat saat Hari Kartini di Bank Jatim Banyuwangi bukan hal baru. Tradisi ini sudah dilakukan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh perempuan yang dikenal lewat karya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Namun, di tengah tuntutan layanan perbankan yang semakin kompetitif, simbol budaya tidak lagi cukup jika tidak diiringi kualitas nyata.
Kartini di Dunia Layanan Publik
Jika Kartini dulu memperjuangkan akses dan kesetaraan, kini tantangannya bergeser: bagaimana perempuan—yang banyak mengisi sektor pelayanan—mampu menjaga standar profesionalisme di tengah tekanan kerja yang tinggi.
Di frontliner perbankan, peran perempuan sangat dominan. Mereka menjadi wajah utama institusi, sekaligus penentu pengalaman nasabah.
Momentum Hari Kartini di Bank Jatim Banyuwangi pun menjadi refleksi: bahwa emansipasi bukan hanya tentang tampil, tetapi tentang konsistensi memberi pelayanan terbaik.
Di balik balutan adat Mandailing, pesan yang ingin disampaikan jelas—budaya boleh melekat, tetapi kualitas layanan tetap menjadi tolok ukur utama. (aif)
Editor : Ali Sodiqin