Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Hari Kartini di SMAN 1 Glagah: Guru Berkebaya Tampil Dominan, Tapi Benarkah Emansipasi Sudah Tuntas?

M Ksatria Raya • Rabu, 22 April 2026 | 08:29 WIB
BERANI MENGINSPIRASI: Pada peringatan Hari Kartini kali ini, guru SMAN 1 Glagah diberi kesempatan seluas-luasnya cara mengajar yang tidak terpaku pada kurikulum. (Ramada Kusuma /Radar Banyuwangi)
BERANI MENGINSPIRASI: Pada peringatan Hari Kartini kali ini, guru SMAN 1 Glagah diberi kesempatan seluas-luasnya cara mengajar yang tidak terpaku pada kurikulum. (Ramada Kusuma /Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Peringatan Hari Kartini di SMAN 1 Glagah, Selasa (21/4), berlangsung semarak. Guru perempuan tampil anggun berkebaya, memimpin upacara hingga pembelajaran di kelas. Seluruh peran strategis—dari pembina hingga petugas upacara—didominasi perempuan.

Namun di balik simbol kuat emansipasi itu, muncul pertanyaan yang lebih tajam: apakah kesetaraan di dunia pendidikan benar-benar sudah tercapai, atau masih sebatas seremoni tahunan?

Perempuan Ambil Panggung, Tapi Tantangan Masih Ada

Kepala sekolah Abdullah menyebut kegiatan ini sengaja dirancang untuk memberi ruang lebih luas bagi perempuan.

“Guru perempuan menggunakan kebaya ala Kartini, guru laki-laki memakai pakaian khas Jawa. Ini bentuk penghormatan sekaligus ruang ekspresi,” ujarnya.

Namun, ruang ekspresi ini justru membuka realitas lain. Di banyak tempat, perempuan memang sudah tampil di depan, tetapi belum sepenuhnya bebas dari stereotip dan beban ganda.

Pembelajaran Lebih Bebas, Tapi Tidak Lepas Risiko

Berbeda dari hari biasa, guru perempuan di SMAN 1 Glagah diberi keleluasaan mengembangkan metode mengajar. Tidak terpaku pada kurikulum kaku, mereka bebas berkreasi agar pembelajaran lebih hidup dan bermakna.

Hasilnya terlihat: suasana kelas lebih interaktif, pendekatan lebih variatif, dan nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini disisipkan dalam materi.

Namun, kebebasan ini juga memunculkan tantangan—bagaimana menjaga keseimbangan antara kreativitas dan standar akademik.

“Ini kesempatan bagi guru perempuan untuk menunjukkan kapasitasnya, bukan sekadar simbol,” tambah Abdullah.

Prestasi Jadi Jawaban Nyata

Salah satu bukti nyata datang dari Devi Dwi Riki Wardani. Ia sukses mengantarkan siswanya meraih medali perak dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).

Tak berhenti di situ, tahun ini ia kembali meloloskan 15 tim ke tingkat nasional—terbanyak di Banyuwangi.

Bagi Devi, Kartini adalah bukti bahwa perempuan bisa melampaui batas.

“Perempuan sekarang tidak lagi terbelenggu. Bisa berkembang sesuai minat dan berkarya maksimal,” ujarnya.

Emansipasi: Sudah Setara atau Masih Wacana?

Di atas kertas, kesetaraan di dunia pendidikan memang terlihat jelas. Guru laki-laki dan perempuan memiliki peran yang sama, tanpa pembatasan formal.

Namun realitas di lapangan sering kali lebih kompleks—dari beban sosial hingga ekspektasi peran yang masih timpang.

Devi menegaskan, saat ini tidak ada lagi perbedaan peluang.

“Guru pria dan perempuan setara. Semua bisa bersaing tanpa batas,” tegasnya.

Pernyataan ini optimistis, namun sekaligus menantang: apakah semua institusi pendidikan sudah benar-benar berada di titik itu?

Kartini Hari Ini: Lebih dari Sekadar Kebaya

Dengan mengusung tema “Cerdas Berliterasi dan Berani Menginspirasi”, peringatan Hari Kartini di SMAN 1 Glagah tidak sekadar seremoni budaya.

Ia menjadi refleksi: bahwa perjuangan Kartini kini bergeser dari membuka akses menjadi memastikan kualitas dan keadilan peran.

Kebaya mungkin menjadi simbol. Namun esensi sesungguhnya ada pada keberanian berpikir, berinovasi, dan membuktikan kapasitas.

Di ruang kelas SMAN 1 Glagah, pesan itu terasa jelas—emansipasi bukan lagi tentang kesempatan, tetapi tentang pembuktian. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#Hari Kartini Banyuwangi #guru berkebaya #emansipasi pendidikan #peran perempuan guru #sman 1 glagah