RADARBANYUWANGI.ID – Peringatan Hari Kartini di Kantor Bersama Samsat Banyuwangi, Selasa (21/4), tampil berbeda. Petugas perempuan berkebaya, laki-laki berbusana adat. Suasana memang lebih semarak.
Namun di balik nuansa budaya itu, ada pesan yang jauh lebih tajam: perempuan masih dihadapkan pada persoalan serius di jalan raya—kesadaran keselamatan berkendara.
Momentum ini sengaja dimanfaatkan aparat untuk menggeser makna peringatan Raden Ajeng Kartini dari sekadar simbol menjadi aksi nyata.
Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Kritik Sosial
Pelayanan tetap berjalan normal, namun balutan budaya memberi pesan kuat: perempuan kini berada di ruang publik, termasuk sebagai pengguna jalan aktif. Tapi, peran besar itu belum sepenuhnya diimbangi dengan kesadaran keselamatan.
Kanit Kamsel Satlantas Polresta Banyuwangi, Ipda Irvin, menegaskan bahwa Hari Kartini bukan hanya soal emansipasi.
“Ini juga pengingat bahwa perempuan punya peran besar sebagai pelopor keselamatan berlalu lintas,” ujarnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik halus: meningkatnya jumlah perempuan di jalan tidak selalu diikuti dengan disiplin berkendara.
Perempuan di Jalan: Antara Peran dan Risiko
Data di berbagai daerah menunjukkan peningkatan jumlah pengendara perempuan, baik roda dua maupun roda empat. Namun, di sisi lain, masih ditemukan pelanggaran dasar—tidak memakai helm standar, penggunaan ponsel saat berkendara, hingga kurangnya kepatuhan rambu.
Inilah yang coba disentil dalam peringatan Kartini kali ini.
Irvin menekankan bahwa keselamatan bukan sekadar aturan, tetapi bagian dari kesadaran kolektif.
“Hari Kartini harus jadi momentum refleksi. Jangan hanya bicara kesetaraan, tapi juga tanggung jawab di jalan,” tegasnya.
Budaya dan Keselamatan Disatukan
Penggunaan pakaian adat bukan tanpa alasan. Selain bentuk penghormatan terhadap perjuangan Kartini, langkah ini juga menjadi strategi pendekatan kultural agar pesan lebih mudah diterima masyarakat.
Di tengah derasnya modernisasi, pendekatan berbasis budaya dinilai lebih efektif menyentuh kesadaran publik—termasuk soal keselamatan berkendara.
Kartini Masa Kini: Dari Emansipasi ke Keselamatan
Jika dulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan dan kesetaraan, kini tantangannya berbeda. Perempuan sudah hadir di berbagai sektor, termasuk jalan raya. Namun, kehadiran itu harus dibarengi dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Pesan yang dibangun di Samsat Banyuwangi jelas: emansipasi tidak cukup berhenti pada simbol kebaya.
Kartini masa kini adalah perempuan yang tidak hanya berani tampil di ruang publik, tetapi juga menjadi contoh—tertib, disiplin, dan peduli keselamatan.
Di tengah perayaan yang penuh warna, satu pesan menguat: jalan raya bukan sekadar ruang mobilitas, tetapi juga cermin kedewasaan sosial. Dan perempuan, kini, berada di garis depan untuk menentukan arah itu. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin