Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Hari Kartini 2026, Perempuan Perpenas di Garda Depan Hadapi Dinamika Generasi dan Digitalisasi

Sigit Hariyadi • Rabu, 22 April 2026 | 08:22 WIB
Ketua BPP Perpenas, Yunita Illiana.
Ketua BPP Perpenas, Yunita Iliana.

RADARBANYUWANGI.ID – Peringatan Hari Kartini 2026 tidak lagi sekadar seremoni. Di lingkungan Perkumpulan Gema Pendidikan Nasional 17 Agustus 1945 Banyuwangi (Perpenas), momentum ini justru menjadi titik evaluasi tajam: ketika perempuan mulai mendominasi kepemimpinan, tantangan baru justru muncul dari dalam—konflik lintas generasi dan tekanan era digital.

Ketua Perpenas, Yunita Iliana, menegaskan bahwa semangat Raden Ajeng Kartini tidak berhenti pada isu emansipasi klasik. Baginya, Kartini adalah simbol keberanian mengambil peran dan mendobrak stagnasi.

“Ini bukan lagi soal perempuan diberi ruang, tapi bagaimana perempuan memimpin perubahan,” ujarnya.

Data internal Perpenas menunjukkan lebih dari 50 persen posisi struktural kini diisi perempuan. Fakta ini menandai pergeseran besar: perempuan bukan lagi pelengkap, melainkan motor utama organisasi pendidikan.

Namun dominasi ini bukan tanpa konsekuensi.

Kepemimpinan Perempuan Diuji Konflik Generasi

Alih-alih menjadi titik akhir perjuangan, meningkatnya peran perempuan justru membuka babak baru: kompleksitas kepemimpinan.

Perpenas yang mengelola 13 unit pendidikan—termasuk Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi—harus menghadapi realitas baru. Generasi X, milenial, Gen Z, bahkan Gen Alpha kini berada dalam satu ekosistem kerja yang sama.

Perbedaan cara berpikir, gaya komunikasi, hingga ekspektasi kerja menjadi sumber gesekan yang tidak bisa dihindari.

“Masalahnya bukan lagi jumlah perempuan, tapi bagaimana memimpin SDM lintas generasi dengan karakter yang sangat berbeda,” kata Yunita.

Di satu sisi, generasi senior mengandalkan pengalaman dan stabilitas. Di sisi lain, generasi muda membawa kecepatan, kreativitas, dan pola kerja serba digital. Tanpa kepemimpinan yang adaptif, perbedaan ini berpotensi menjadi konflik laten.

Digitalisasi: Peluang Sekaligus Ancaman

Tantangan berikutnya datang dari transformasi digital. Perpenas mengakui, generasi muda—terutama Gen Z—memiliki keunggulan dalam akses informasi dan inovasi.

Namun keunggulan itu juga membawa risiko: orientasi instan, minim proses, hingga potensi kehilangan arah nilai.

Karena itu, Perpenas memilih pendekatan ganda: mendorong digitalisasi tanpa kehilangan karakter pendidikan.

“Kita tidak ingin hanya cepat, tapi juga benar. Tidak hanya modern, tapi juga berkarakter,” tegas Yunita.

Pendekatan ini menjadi krusial di tengah arus perubahan pendidikan yang semakin cepat dan kompetitif.

Kartini Hari Ini: Berani Sebelum Sempurna

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Yunita mengajak perempuan dan generasi muda untuk tidak ragu mengambil peran.

Menurutnya, semangat Kartini justru paling relevan di era sekarang—ketika peluang terbuka lebar, tetapi juga menuntut keberanian lebih besar.

“Jangan tunggu sempurna untuk mulai berkontribusi,” ujarnya.

Pesan ini menjadi penegasan bahwa perjuangan Kartini telah berevolusi. Jika dulu melawan keterbatasan akses, kini tantangannya adalah mengelola kompleksitas—dari kepemimpinan, teknologi, hingga perbedaan generasi.

Di Perpenas, perempuan sudah berada di garis depan. Namun pertarungan sesungguhnya baru dimulai: memastikan kepemimpinan itu mampu menyatukan perbedaan dan membawa pendidikan tetap relevan di masa depan. (sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Hari Kartini 2026 #kepemimpinan perempuan #generasi Z pendidikan #Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi #perpenas