RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah keterbatasan fiskal dan tekanan ekonomi global, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memilih memainkan “kartu diaspora”. Ia secara terbuka mengajak Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) menjadi kekuatan nyata, bukan sekadar simbol kedaerahan.
Ajakan itu disampaikan saat menghadiri Halalbihalal Ikawangi Pusat di Karawang, Jawa Barat, Sabtu (19/4). Forum ini menjadi momentum konsolidasi besar diaspora Banyuwangi dari berbagai penjuru Indonesia hingga luar negeri.
Dalam forum tersebut, Ipuk menegaskan bahwa pembangunan daerah tak bisa lagi hanya mengandalkan kekuatan APBD. Perlu jejaring luas, ide segar, hingga kolaborasi lintas wilayah yang konkret.
“Banyuwangi butuh lebih dari sekadar kebijakan. Kita butuh gerakan bersama. Ikawangi ini bukan hanya kebanggaan, tapi kekuatan strategis untuk masa depan daerah,” tegas Ipuk di hadapan para pengurus dan koordinator wilayah Ikawangi.
Dari Komunitas Jadi Kekuatan Ekonomi
Ipuk secara terang menggeser peran Ikawangi dari sekadar wadah silaturahmi menjadi agen promosi aktif. Ia mendorong diaspora Banyuwangi menjadi penghubung investasi, promotor pariwisata, hingga pembuka peluang ekonomi baru.
Menurutnya, jejaring Ikawangi yang tersebar luas merupakan “modal sosial” yang belum dimaksimalkan secara optimal.
“Ikawangi bisa menjadi ujung tombak promosi budaya dan pariwisata, sekaligus jembatan investasi. Ini kekuatan besar jika digerakkan bersama,” ujarnya.
Baca Juga: Senam Massal ASN Situbondo Bareng Kepala BKN, Dilanjut Tanam Pohon di Alun-Alun Kota Santri
Langkah ini sekaligus menjadi respons atas tantangan pembangunan yang kian kompleks. Keterbatasan anggaran daerah membuat pemerintah harus mencari pendekatan baru yang lebih kolaboratif.
Data Bicara, Tapi Tantangan Masih Mengadang
Di sisi lain, Ipuk memaparkan sejumlah capaian Banyuwangi sepanjang 2025. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,65 persen—melampaui rata-rata Jawa Timur dan nasional.
Angka kemiskinan juga berhasil ditekan menjadi 6,13 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik ke 75,17, sementara pendapatan per kapita menembus Rp 67,08 juta.
Namun, capaian itu belum cukup.
“Perjalanan ini belum selesai. Masih ada tantangan besar, dari infrastruktur hingga keterbatasan fiskal. Di sinilah peran semua pihak, termasuk diaspora, menjadi sangat penting,” tandasnya.
Ikawangi Siap Tancap Gas
Ketua Ikawangi Pusat, Mayjen TNI (Purn) H. Rusdi Maksum, merespons ajakan tersebut dengan nada optimistis. Ia memastikan organisasinya siap mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah.
Baca Juga: Resmi! Gaji ke-13 ASN Cair Juni 2026, Ini Rincian Besaran dan Aturan Lengkapnya
Menurutnya, banyak anggota Ikawangi yang telah sukses di berbagai sektor strategis, mulai dari birokrasi, bisnis, hingga profesional global.
“Kami siap mendukung Banyuwangi. Jaringan Ikawangi terus kami perluas, bahkan hingga tingkat internasional,” ujarnya.
Langkah ekspansi jaringan ini dinilai krusial untuk membuka akses lebih luas terhadap investasi, teknologi, dan pasar global.
Sinyal Kuat dari Tokoh Nasional
Dukungan juga datang dari tokoh nasional asal Banyuwangi yang hadir dalam forum tersebut, seperti mantan Menteri PAN-RB Abdullah Azwar Anas dan mantan Menteri Pariwisata Arief Yahya.
Arief Yahya secara khusus menyoroti potensi besar Banyuwangi yang dinilai belum sepenuhnya dimaksimalkan. Ia menyebut sektor pariwisata, ekonomi biru (kelautan dan perikanan), serta pengembangan pelabuhan sebagai kunci percepatan ekonomi.
“Banyuwangi punya semua modal. Tinggal bagaimana mengorkestrasi potensi itu agar berdampak lebih besar,” ujarnya.
Taruhan Besar di Pundak Diaspora
Dorongan Ipuk kepada Ikawangi bukan tanpa risiko. Mengandalkan diaspora sebagai mesin promosi dan investasi membutuhkan konsistensi, kepercayaan, dan sistem yang terintegrasi.
Namun, di tengah keterbatasan sumber daya, strategi ini menjadi langkah realistis sekaligus progresif.
Jika berhasil, Banyuwangi tidak hanya mengandalkan kekuatan lokal, tetapi juga menjelma menjadi daerah dengan jejaring global yang solid.
Kini, bola ada di tangan Ikawangi: tetap menjadi komunitas nostalgia, atau naik kelas sebagai kekuatan strategis pembangunan. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin