Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Profil Kiai Kholil As’ad Situbondo: Mewarisi Nama Besar Pahlawan Nasional, Membangun Pesantren Walisongo hingga Dihuni Ribuan Santri

Ali Sodiqin • Minggu, 19 April 2026 | 21:00 WIB
KHR. Moh. Kholil As’ad (stiqwalisongo.ac.id)
KHR. Moh. Kholil As’ad (stiqwalisongo.ac.id)

RADARBANYUWANGI.ID - Mewarisi nama besar bukan perkara ringan. Di pundak KHR. Moh. Kholil As’ad, beban itu justru dijawab dengan karya nyata: membangun pesantren dari nol hingga menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Situbondo.

Baca Juga: Jadi Sasaran Gerebek Surau, Jamaah Musala Walisongo Lakukan Pengecatan Usai Tarawih

Di tengah ekspektasi tinggi sebagai putra ulama kharismatik KHR. As’ad Syamsul Arifin, Kholil As’ad memilih jalan sunyi—mengajar, membina santri, dan perlahan membesarkan pesantren yang kini dikenal luas.


Lahir dari Rahim Tradisi Ulama

Nama Kholil As’ad tidak bisa dilepaskan dari garis keturunan ulama besar. Ia tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi keilmuan Islam.

Sejak kecil, ia telah ditempa dengan:

Didikan langsung dari ayahnya membentuk karakter keilmuan yang kuat sekaligus sikap tawadhu dalam berdakwah.


Dari Pengajian Kecil ke Pesantren Besar

Langkah besarnya dimulai pada 1993, saat ia mendirikan Pondok Pesantren Walisongo.

Baca Juga: Baru Jangkau 12 Persen, Menag Nasaruddin Umar Minta Perluasan Program Makan Bergizi Gratis di Pesantren

Awalnya sederhana:

Namun, dari titik kecil itu, pondasi pesantren dibangun. Kepercayaan masyarakat tumbuh, santri berdatangan, dan lembaga pendidikan mulai berkembang.

Kini, pesantren tersebut telah menjelma menjadi:


Bangun Sistem Pendidikan Terpadu

Di bawah kepemimpinannya, pesantren tidak hanya fokus pada pendidikan agama tradisional.

Baca Juga: Pondok Ramadan SMPN 5 Banyuwangi Gandeng Radar Banyuwangi, Siswa Diajak Cerdas Bermedia Sosial

Kholil As’ad mendorong integrasi:

Bahkan, pengembangan berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi melalui STIQ Walisongo Situbondo, yang menjadi wadah kaderisasi ulama berbasis akademik.


Teguh pada Ahlussunnah wal Jamaah

Di tengah arus perubahan zaman, Kholil As’ad tetap memegang teguh prinsip Ahlussunnah wal Jamaah.

Nilai yang ia tanamkan meliputi:

Pendekatan ini menjadikan pesantren tetap relevan tanpa kehilangan identitas.


Kepemimpinan Sunyi, Dampak Nyata

Berbeda dengan banyak tokoh publik, Kholil As’ad tidak menonjolkan diri di ruang politik atau media.

Baca Juga: Dari Pesantren ke Ruang Digital, Ini Pesan KH Masykur Ali di Konfercab PCNU Banyuwangi XIV

Ia lebih memilih:

Namun justru dari pendekatan “sunyi” itu, pengaruhnya meluas.

Pesantren yang ia bangun kini:


Menjaga Warisan, Menciptakan Masa Depan

Sebagai penerus KHR. As’ad Syamsul Arifin, Kholil As’ad tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga mengembangkannya.

Baca Juga: Daftar Lengkap 10 Tokoh Dapat Gelar Pahlawan Nasional 2025 dari Presiden Prabowo, Ada Syaikhona Kholil, Marsinah, dan Gus Dur!

Ia membuktikan bahwa:


Jejak Kholil As’ad adalah potret tentang kesinambungan—antara generasi ulama terdahulu dan masa depan pendidikan Islam.

Dari pengajian sederhana hingga pesantren besar, dari warisan nama hingga karya nyata, ia menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus terlihat keras.

Kadang, ia justru tumbuh dalam diam—namun berdampak besar. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Kholil As’ad Situbondo #Ponpes Walisongo Mimbaan #As’ad Syamsul Arifin #kiai NU Situbondo #profil ulama Situbondo