RADARBANYUWANGI.ID - Mewarisi nama besar bukan perkara ringan. Di pundak KHR. Moh. Kholil As’ad, beban itu justru dijawab dengan karya nyata: membangun pesantren dari nol hingga menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Situbondo.
Baca Juga: Jadi Sasaran Gerebek Surau, Jamaah Musala Walisongo Lakukan Pengecatan Usai Tarawih
Di tengah ekspektasi tinggi sebagai putra ulama kharismatik KHR. As’ad Syamsul Arifin, Kholil As’ad memilih jalan sunyi—mengajar, membina santri, dan perlahan membesarkan pesantren yang kini dikenal luas.
Lahir dari Rahim Tradisi Ulama
Nama Kholil As’ad tidak bisa dilepaskan dari garis keturunan ulama besar. Ia tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental dengan tradisi keilmuan Islam.
Sejak kecil, ia telah ditempa dengan:
-
Pendidikan Al-Qur’an
-
Kajian kitab kuning
-
Disiplin kehidupan pesantren
Didikan langsung dari ayahnya membentuk karakter keilmuan yang kuat sekaligus sikap tawadhu dalam berdakwah.
Dari Pengajian Kecil ke Pesantren Besar
Langkah besarnya dimulai pada 1993, saat ia mendirikan Pondok Pesantren Walisongo.
Awalnya sederhana:
-
Pengajian masyarakat
-
Majelis taklim
-
Pembelajaran Al-Qur’an
Namun, dari titik kecil itu, pondasi pesantren dibangun. Kepercayaan masyarakat tumbuh, santri berdatangan, dan lembaga pendidikan mulai berkembang.
Kini, pesantren tersebut telah menjelma menjadi:
-
Rumah bagi ribuan santri
-
Pusat pendidikan formal dan diniyah
-
Lembaga yang memiliki basis ekonomi mandiri
Bangun Sistem Pendidikan Terpadu
Di bawah kepemimpinannya, pesantren tidak hanya fokus pada pendidikan agama tradisional.
Baca Juga: Pondok Ramadan SMPN 5 Banyuwangi Gandeng Radar Banyuwangi, Siswa Diajak Cerdas Bermedia Sosial
Kholil As’ad mendorong integrasi:
-
Pendidikan formal (SD hingga SMA/SMK)
-
Pendidikan diniyah berjenjang
-
Penguatan karakter dan akhlak
Bahkan, pengembangan berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi melalui STIQ Walisongo Situbondo, yang menjadi wadah kaderisasi ulama berbasis akademik.
Teguh pada Ahlussunnah wal Jamaah
Di tengah arus perubahan zaman, Kholil As’ad tetap memegang teguh prinsip Ahlussunnah wal Jamaah.
Nilai yang ia tanamkan meliputi:
-
Moderasi beragama
-
Kedalaman ilmu
-
Akhlak sebagai fondasi utama
Pendekatan ini menjadikan pesantren tetap relevan tanpa kehilangan identitas.
Kepemimpinan Sunyi, Dampak Nyata
Berbeda dengan banyak tokoh publik, Kholil As’ad tidak menonjolkan diri di ruang politik atau media.
Baca Juga: Dari Pesantren ke Ruang Digital, Ini Pesan KH Masykur Ali di Konfercab PCNU Banyuwangi XIV
Ia lebih memilih:
-
Mengajar santri
-
Membina masyarakat
-
Mengembangkan pesantren
Namun justru dari pendekatan “sunyi” itu, pengaruhnya meluas.
Pesantren yang ia bangun kini:
-
Menampung ribuan santri dari berbagai daerah
-
Menjadi pusat dakwah masyarakat
-
Menggerakkan ekonomi berbasis pesantren
Menjaga Warisan, Menciptakan Masa Depan
Sebagai penerus KHR. As’ad Syamsul Arifin, Kholil As’ad tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga mengembangkannya.
Ia membuktikan bahwa:
-
Tradisi bisa berkembang
-
Pesantren bisa modern tanpa kehilangan ruh
-
Dakwah bisa berjalan berdampingan dengan pendidikan
Jejak Kholil As’ad adalah potret tentang kesinambungan—antara generasi ulama terdahulu dan masa depan pendidikan Islam.
Dari pengajian sederhana hingga pesantren besar, dari warisan nama hingga karya nyata, ia menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus terlihat keras.
Kadang, ia justru tumbuh dalam diam—namun berdampak besar. (*)
Editor : Ali Sodiqin