Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

JK Meradang Dituduh Lawan Jokowi: “Saya yang Bawa dari Solo ke Istana!”

Ali Sodiqin • Minggu, 19 April 2026 | 16:30 WIB
Jusuf Kalla heran dituduh lawan Jokowi usai komentar soal ijazah. Tegaskan perannya membawa Jokowi ke Jakarta hingga jadi presiden. (tangkapan layar Detik.com)
Jusuf Kalla heran dituduh lawan Jokowi usai komentar soal ijazah. Tegaskan perannya membawa Jokowi ke Jakarta hingga jadi presiden. (tangkapan layar Detik.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo berbuntut panas. Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) angkat suara—dan nada bicaranya tegas.

Alih-alih dianggap memberi nasihat, JK justru diserang sebagian pendukung Jokowi. Ia dituding “melawan” sosok yang pernah didampinginya di kursi kekuasaan. Tuduhan itu membuat JK heran.

Baca Juga: 400 Siswa Ramaikan Athletics Students Competition Banyuwangi, Ajang Jaring Atlet Muda Sejak Usia TK

“Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo, untuk jadi gubernur. Saya yang bawa,” tegas JK, Sabtu (18/4/2026).


Klaim Peran Kunci: Dari Solo ke Jakarta

Dalam pernyataannya, JK mengurai kembali awal perjalanan politik Jokowi. Ia mengaku menjadi sosok yang mendorong Jokowi maju sebagai Gubernur Jakarta.

Tak hanya itu, JK menyebut dirinya langsung turun tangan meyakinkan Ketua Umum PDIP saat itu, Megawati Soekarnoputri.

“Saya bertemu itu Ibu Mega. Ibu, ini calon baik orang PDIP. Awalnya ragu, akhirnya beliau setuju,” ujarnya.

Baca Juga: Geger Penemuan Mayat di Sungai Singojuruh Banyuwangi, Polisi Pastikan Tanpa Tanda Kekerasan

Keputusan itu kemudian mengantarkan Jokowi memenangkan Pilgub DKI Jakarta—titik awal lonjakan karier politiknya di level nasional.


“Tanpa Gubernur, Mana Bisa Jadi Presiden”

JK tak berhenti di situ. Ia juga mengklaim memiliki peran dalam mengantarkan Jokowi ke kursi Presiden.

Menurutnya, proses itu tak lepas dari dukungan politik dan strategi yang ia bantu bangun, termasuk saat dirinya diminta mendampingi Jokowi sebagai wakil presiden.

“Jokowi jadi presiden karena saya. Tanpa jadi gubernur, mana bisa jadi presiden?” katanya.

Pernyataan ini mempertegas posisi JK yang merasa kontribusinya diabaikan di tengah kritik yang kini diarahkan kepadanya.


Foto Lama dan Narasi Loyalitas

Dalam kesempatan tersebut, JK bahkan menunjukkan foto lama yang menggambarkan momen Jokowi menyampaikan terima kasih kepadanya usai menang Pilgub DKI.

Baca Juga: 136 Meteran Air Dicuri di Banyuwangi, PUDAM Curiga Aksi Terorganisir dan Siap Dampingi Laporan Polisi

Foto itu menjadi simbol relasi politik sekaligus personal yang pernah terjalin erat.

“Datang ke rumah ucapkan terima kasih. Jangan bilang apa, saya yang bantu Jokowi,” ujarnya.


Polemik Ijazah Picu Ketegangan

Ketegangan ini bermula dari komentar JK terkait polemik ijazah Jokowi. Ia sebelumnya menyarankan agar persoalan tersebut diselesaikan secara sederhana: cukup menunjukkan dokumen asli ke publik.

Namun, pernyataan itu justru memicu reaksi keras dari sebagian pendukung Jokowi. JK dinilai memperkeruh situasi, bahkan dianggap menyerang.

Padahal, menurut JK, pernyataannya murni nasihat.


“Saya Seniornya, Bukan Lawan”

JK menegaskan tidak pernah menuduh apalagi melawan Jokowi. Ia melihat posisinya sebagai sosok yang lebih senior yang memberikan masukan.

Baca Juga: Perayaan 242 Tahun Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi Meriah, Konsep Euni Kimsin Satukan Rupang Dewa dari Berbagai Daerah

“Saya lebih tua dari dia. Saya nasihati. Saya tuduh enggak? Saya lawan enggak? Enggak,” katanya.

Ia juga mempertanyakan sensitivitas berlebihan dari para pendukung Jokowi yang langsung bereaksi keras.


Konflik Elite, Publik Menilai

Pernyataan terbuka JK membuka kembali dinamika hubungan elite politik nasional. Di satu sisi, ada klaim kontribusi historis. Di sisi lain, muncul persepsi loyalitas yang dipertanyakan.

Konflik narasi ini tak sekadar soal masa lalu, tetapi juga menyentuh legitimasi dan citra politik di ruang publik.

Polemik ijazah yang awalnya administratif kini melebar menjadi pertarungan persepsi—antara kritik, nasihat, dan tudingan.


Ujian Relasi Politik Lama

Hubungan antara Jusuf Kalla dan Joko Widodo yang pernah solid kini diuji oleh dinamika baru.

Apakah ini sekadar salah tafsir komunikasi, atau sinyal renggangnya hubungan politik lama?

Yang jelas, pernyataan JK telah memantik diskursus baru—dan sorotan publik dipastikan belum akan mereda dalam waktu dekat. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Jusuf Kalla Jokowi #konflik politik Jokowi JK #sejarah Jokowi jadi presiden #megawati soekarnoputri #ijazah jokowi