RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah kebijakan pemerintah yang sebelumnya menahan harga bahan bakar minyak (BBM), PT Pertamina (Persero) justru melakukan penyesuaian signifikan pada BBM non subsidi.
Mulai Sabtu (18/4/2026), sejumlah jenis BBM non subsidi mengalami lonjakan harga yang cukup drastis.
Kenaikan paling mencolok terjadi pada Pertamax Turbo, yang kini dibanderol Rp19.400 per liter.
Padahal, pada periode Maret 2026 lalu, harga BBM dengan RON tinggi tersebut masih berada di level Rp13.100 per liter.
Lonjakan ini langsung memicu perhatian publik karena selisih kenaikannya mencapai lebih dari Rp6.000 per liter.
Baca Juga: PBNU Resmikan 27 SPPG di Lirboyo Kediri, Gus Yahya: Ini Jawaban Krisis Gizi Nasional
Kronologi Kenaikan: Dari Maret Stabil, April Melonjak
Berdasarkan data yang dihimpun dari situs resmi MyPertamina, harga BBM sebelumnya relatif stabil sepanjang Maret 2026.
Namun memasuki pertengahan April, Pertamina melakukan penyesuaian harga untuk sejumlah produk non subsidi.
Selain Pertamax Turbo, kenaikan signifikan juga terjadi pada:
-
Dexlite: dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter
-
Pertamina Dex: dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter
Kenaikan ini menunjukkan adanya penyesuaian besar dalam satu waktu, bukan bertahap seperti biasanya.
Inilah yang menjadi sorotan utama: kebijakan harga yang sebelumnya flat, kini berubah drastis dalam waktu singkat.
Konflik Kebijakan: Subsidi Ditahan, Non Subsidi Dilepas Pasar
Di sisi lain, Pertamina tetap mempertahankan harga BBM subsidi.
Hingga Sabtu (18/4/2026), harga:
-
Pertalite masih di Rp10.000 per liter
-
Solar subsidi tetap Rp6.800 per liter
Tidak hanya itu, harga Pertamax (RON 92) juga tidak mengalami perubahan dan masih berada di level Rp12.300 per liter.
Kondisi ini memunculkan kontras tajam di pasar BBM nasional.
Di satu sisi, pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui BBM subsidi.
Namun di sisi lain, konsumen BBM non subsidi harus menghadapi lonjakan harga yang signifikan.
Baca Juga: Solichin Resmi Jadi Kalapas Banyuwangi, Tantangan Kinerja dan Integritas Langsung Menanti
Dampak ke Masyarakat: Beban Baru Pengguna BBM Non Subsidi
Kenaikan harga ini diperkirakan akan berdampak langsung pada:
-
pengguna kendaraan diesel non subsidi
-
pelaku usaha transportasi dan logistik
-
sektor industri kecil yang bergantung pada BBM jenis Dex
Lonjakan harga yang tinggi dalam waktu singkat berpotensi menambah beban biaya operasional.
Hal ini juga membuka potensi pergeseran konsumsi, di mana masyarakat bisa beralih ke BBM yang lebih murah.
Baca Juga: Kasus TBC Banyuwangi Tembus 3.169, Puluhan Ribu Suspek Mengintai di Usia Produktif
Pertanyaan Besar: Kenapa Lonjakan Terjadi Sekaligus?
Hingga saat ini, belum ada penjelasan rinci dari Pertamina terkait alasan teknis kenaikan harga yang cukup tinggi dalam satu waktu.
Namun, umumnya penyesuaian harga BBM non subsidi dipengaruhi oleh:
-
harga minyak dunia
-
nilai tukar rupiah
-
biaya distribusi dan logistik
Meski demikian, pola kenaikan drastis sekaligus ini tetap menjadi pertanyaan di tengah publik.
Pasar BBM Masuk Fase Baru
Kenaikan harga BBM non subsidi per 18 April 2026 menjadi penanda perubahan penting dalam dinamika energi nasional.
Jika sebelumnya pasar relatif stabil, kini terjadi pergeseran signifikan yang berpotensi memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat.
Di tengah upaya menjaga stabilitas melalui BBM subsidi, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pasar BBM non subsidi tetap bergerak mengikuti tekanan ekonomi global. (*)
Editor : Ali Sodiqin