RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah masih besarnya tantangan pemenuhan gizi di Indonesia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mengambil langkah konkret.
Sebanyak 27 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) resmi diluncurkan dalam satu momentum di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (14/4/2026).
Peresmian dipimpin langsung Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, yang akrab disapa Gus Yahya.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga masuk dalam isu strategis nasional: ketahanan dan pemenuhan gizi masyarakat.
Baca Juga: PCNU Banyuwangi Gelar Rapat Gabungan, Tegaskan Sinergi dan Akselerasi Program 100 Hari
Dari Penandatanganan hingga Komitmen Nasional
Acara peresmian berlangsung di kompleks pesantren besar Pondok Pesantren Lirboyo, yang dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Indonesia.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan:
-
penandatanganan prasasti sebagai simbol dimulainya operasional SPPG
-
sambutan dari para pemangku kepentingan
-
penguatan komitmen kolaborasi lintas lembaga
Penandatanganan dilakukan oleh Gus Yahya bersama Wakil Kepala Badan Gizi Nasional bidang operasional, Sony Sanjaya.
Turut hadir pula sejumlah tokoh nasional, di antaranya:
-
Dicky Kartikoyono dari Otoritas Jasa Keuangan
-
Alissa Wahid, Ketua Tim Koordinasi dan Akselerasi Program Makan Bergizi Gratis
Momentum ini menjadi titik awal pengoperasian puluhan unit layanan gizi berbasis pesantren yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Pembacok Ibu Kandung di Banyuwangi Dipastikan Waras, Adi Terancam Hukuman Lebih 15 Tahun Penjara
Sebar di 6 Provinsi, Targetkan Percepatan Akses Gizi
Sebanyak 27 SPPG yang diresmikan tidak hanya berlokasi di Jawa Timur.
Unit layanan tersebut tersebar di:
-
Jawa Timur
-
Jawa Tengah
-
Jawa Barat
-
DI Yogyakarta
-
Kalimantan Barat
-
Sumatera Utara
Distribusi ini menunjukkan upaya PBNU untuk memperluas jangkauan program hingga ke daerah yang memiliki tantangan akses gizi.
Langkah ini sekaligus menjawab persoalan klasik: ketimpangan distribusi layanan kesehatan dan gizi di Indonesia.
Angle Konflik: Program Besar vs Tantangan Nyata di Lapangan
Meski peluncuran SPPG menjadi langkah progresif, tantangan di lapangan tidak kecil.
Persoalan yang masih membayangi antara lain:
-
keterbatasan akses pangan bergizi di daerah
-
distribusi yang belum merata
-
literasi gizi masyarakat yang masih rendah
-
serta ketergantungan pada program bantuan
Di sinilah PBNU mencoba mengambil peran strategis melalui jaringan pesantren yang selama ini dekat dengan masyarakat akar rumput.
Gus Yahya menegaskan bahwa program ini bukan sekadar simbolik, tetapi harus menjadi gerakan nyata.
Pesantren Jadi Motor Program Makan Bergizi Gratis
Melalui SPPG, pesantren didorong menjadi pusat layanan pemenuhan gizi, terutama dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan jaringan pesantren yang luas, PBNU dinilai memiliki keunggulan dalam menjangkau masyarakat hingga level desa.
Keterlibatan berbagai pihak, termasuk Badan Gizi Nasional dan OJK, juga menunjukkan bahwa program ini dirancang lintas sektor.
Baca Juga: Silaturahmi PCNU Banyuwangi dengan Bupati Berlangsung Gayeng dan Penuh Keakraban
Kolaborasi Jadi Kunci, Bukan Sekadar Program Seremonial
Kehadiran berbagai lembaga dalam peresmian ini menegaskan bahwa isu gizi tidak bisa diselesaikan secara parsial.
Diperlukan sinergi antara:
-
organisasi keagamaan
-
pemerintah
-
sektor keuangan
-
dan masyarakat
Langkah PBNU ini dinilai sebagai upaya mempercepat implementasi program nasional dengan pendekatan berbasis komunitas.
Dari Lirboyo untuk Indonesia
Peresmian 27 SPPG di Lirboyo bukan hanya seremoni.
Ini menjadi simbol bahwa pesantren kini mengambil peran lebih luas dalam pembangunan nasional.
Dari pendidikan hingga gizi, dari dakwah hingga kesejahteraan—peran tersebut terus berkembang.
Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan program ini benar-benar berjalan efektif dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. (*)
Editor : Ali Sodiqin