RADARBANYUWANGI.ID – Dunia pers Indonesia diguncang kabar duka yang datang tiba-tiba. Zulmansyah Sekedang, Sekretaris Jenderal PWI Pusat, meninggal dunia secara mendadak pada Sabtu dini hari (18/4) pukul 00.05 WIB. Kepergian sosok yang selama ini dikenal vokal memperjuangkan profesionalisme wartawan itu meninggalkan duka mendalam di kalangan insan media nasional.
Informasi wafatnya Zulmansyah pertama kali menyebar melalui pesan singkat di grup WhatsApp wartawan. Pesan tersebut menyebutkan almarhum mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Budi Kemuliaan akibat serangan jantung.
“Innalillahi wa innailaihi rajiun… sahabat kita telah berpulang… semoga husnul khotimah,” demikian bunyi pesan yang langsung menyebar luas dan memicu gelombang duka.
Kepergian Mendadak, Tinggalkan Jejak Besar
Wafatnya Zulmansyah Sekedang menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi organisasi Persatuan Wartawan Indonesia dan dunia pers secara luas. Sosoknya dikenal sebagai figur yang aktif, tegas, dan konsisten dalam menjaga marwah profesi wartawan.
Kepergian ini terasa kontras. Sehari sebelumnya, almarhum masih terlihat aktif menghadiri agenda Hari Pers Nasional (HPN) Jawa Timur serta kegiatan bedah buku tokoh pers. Aktivitas itu kini menjadi momen terakhir kebersamaan dengan rekan-rekan seprofesi.
Baca Juga: Pertashop Berguguran di Banyuwangi: Tanpa Rem Regulasi, Persaingan Jadi “Senjata Makan Tuan”
Dari Daerah ke Pusat, Perjalanan Panjang di Dunia Pers
Karier Zulmansyah Sekedang di dunia jurnalistik tidak dibangun secara instan. Ia meniti perjalanan panjang dari tingkat daerah sebelum akhirnya dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Sekjen PWI Pusat.
Selama menjabat, ia dikenal aktif mendorong peningkatan kompetensi wartawan, memperkuat organisasi, serta menjaga independensi pers di tengah berbagai tekanan.
Dedikasinya terhadap dunia jurnalistik membuatnya dihormati lintas generasi—baik oleh wartawan senior maupun kalangan muda.
Baca Juga: Damai Tanpa Drama, Azizah Salsha Cabut Laporan, Nasib Resbob dan Bigmo Berakhir Tak Terduga
Gelombang Duka dari Seluruh Indonesia
Sejak kabar wafatnya menyebar, ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai penjuru negeri. Wartawan, tokoh pers, hingga organisasi media menyampaikan kehilangan mendalam atas kepergian sosok yang dianggap sebagai penjaga integritas profesi.
Jurnalis Alam Massiri menyebut almarhum sebagai figur dengan dedikasi tinggi terhadap kemajuan pers nasional.
“Beliau sosok yang konsisten memperjuangkan organisasi dan profesionalisme wartawan. Kehilangan besar bagi kita semua,” ujarnya.
Banyak pihak juga mengenang Zulmansyah Sekedang sebagai pribadi komunikatif yang mampu menjembatani berbagai kepentingan di tubuh organisasi pers.
Baca Juga: Silaturahmi PCNU Banyuwangi dengan Bupati Berlangsung Gayeng dan Penuh Keakraban
Alarm bagi Regenerasi dan Kepemimpinan Pers
Kepergian mendadak ini sekaligus memunculkan pertanyaan besar: siapa yang akan melanjutkan agenda besar yang selama ini diperjuangkan almarhum?
Di tengah tantangan industri media—dari disrupsi digital hingga tekanan independensi—figur seperti Zulmansyah dinilai sulit tergantikan dalam waktu singkat.
Dunia pers kini tidak hanya berduka, tetapi juga dihadapkan pada kebutuhan mendesak akan regenerasi kepemimpinan yang mampu menjaga standar profesionalisme.
Baca Juga: PSG vs Lyon: Ujian Berat di Parc des Princes, Mampukah Les Parisiens Kunci Gelar Ligue 1?
Selamat Jalan, Pejuang Pers
Bagi banyak rekan sejawat, Zulmansyah Sekedang bukan sekadar pejabat organisasi. Ia adalah simbol komitmen terhadap jurnalisme yang berintegritas.
Kini, sosok itu telah pergi. Namun jejak perjuangannya akan tetap hidup dalam setiap karya jurnalistik yang menjunjung etika dan kebenaran.
Dunia pers kehilangan satu lagi penjaga nilai. Dan kehilangan ini, terasa begitu dalam. (*)
Editor : Ali Sodiqin