RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah gegap gempita panggung peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, satu karya dari daerah justru mencuri perhatian nasional. Foto berjudul “Musibah” karya Ramada Kusuma Atmaja berhasil menembus nominasi Prapanca kategori foto—mengangkat tragedi kemanusiaan yang sempat mengguncang Selat Bali.
Momen itu bukan sekadar estetika visual. Ia adalah potret luka, harapan, dan keajaiban yang terjadi dalam hitungan detik.
Piagam penghargaan diserahkan dalam malam puncak HPN dan HUT PWI 2026 yang digelar di Dyandra Convention Center, Kamis (16/4), di hadapan puluhan tokoh pers nasional.
Baca Juga: Fotografer Radar Banyuwangi Sabet Juara 1 Lomba Foto PT KAI, Karya Rumah Oseng Jadi Sorotan!
Kalah dari AP, Tapi Menang di Hati Publik
Dalam kompetisi bergengsi itu, juara pertama kategori foto diraih Trisnadi dari Associated Press. Sementara nominasi lain diisi Achmad Fazari dari Disway.
Namun, karya Kelik—sapaan akrab Ramada—punya kekuatan berbeda: human interest yang mengguncang emosi.
Foto “Musibah” merekam momen langka: seorang ayah di Pelabuhan Ketapang berbincang melalui video call dengan anaknya yang selamat dari tragedi tenggelamnya kapal di Pelabuhan Gilimanuk. Di antara kepedihan, terselip kabar kehidupan.
Baca Juga: Lewat Jepretan Kamera, Harmoni TNI dan Rakyat di TMMD 125 Banyuwangi Abadi dalam Lomba Foto
Detik-Detik yang Tak Direncanakan
Kelik mengaku tak pernah menyangka fotonya akan menembus nominasi nasional. Bahkan, pengiriman karya ke panitia dilakukan dalam waktu yang sangat mepet.
“Tidak menyangka bisa masuk nominasi. Foto itu saya ambil saat keluarga korban masih dalam suasana duka,” ujarnya.
Peristiwa yang diabadikan adalah tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali pada awal Juli 2025—insiden yang menyisakan trauma mendalam bagi banyak keluarga.
Dari sekian banyak foto yang diambilnya saat liputan tragedi tersebut, Kelik memilih “Musibah” karena kekuatan emosionalnya.
“Di situ ada kesedihan, tapi juga kebahagiaan karena anaknya selamat,” tegasnya.
Baca Juga: Total Hadiah Rp15 Juta, KAI Services Gelar Lomba Foto Bertema Mudik
Panggung HPN 2026: Antara Seremoni dan Kritik Kualitas Jurnalisme
Acara puncak HPN 2026 yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Timur juga diwarnai penyerahan penghargaan kepada 24 tokoh nasional dan daerah.
Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir bersama Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim.
Selain itu, piala Prapanca kategori jurnalistik diserahkan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.
Namun di balik seremoni, muncul pesan tajam soal kualitas jurnalisme.
“HPN bukan sekadar seremoni. Ini soal bagaimana kita terus memperbaiki kualitas jurnalisme dan menghadirkan informasi yang mencerahkan,” tegas Lutfil Hakim.
Dari Buku hingga Realitas Lapangan
Sebelum puncak acara, digelar peluncuran buku “Langkah Sunyi Menuju Puncak” karya Abdul Hakim. Buku itu mengisahkan perjalanan Akhmad Munir dari wartawan daerah hingga menjadi pimpinan nasional.
Namun, kisah Kelik justru menjadi representasi nyata dari perjalanan itu: kerja sunyi di lapangan, menangkap momen tanpa rekayasa, lalu berbicara lantang di panggung nasional.
Foto yang Lebih dari Sekadar Gambar
Di tengah derasnya arus informasi digital, foto “Musibah” menjadi pengingat bahwa jurnalisme bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga kedalaman rasa.
Karya itu bukan sekadar dokumentasi tragedi. Ia adalah narasi visual tentang kehilangan, harapan, dan kemanusiaan—yang kini diakui di level nasional.
Dan dari Banyuwangi, suara itu akhirnya terdengar. (aif)
Editor : Ali Sodiqin