RADARBANYUWANGI.ID - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) secara resmi memperkuat langkah pengembangan pelabuhan terintegrasi Palembang Baru di Tanjung Carat, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Proyek strategis ini diproyeksikan menjadi kunci utama dalam memangkas biaya logistik sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi di wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, menegaskan bahwa kehadiran pelabuhan ini merupakan solusi konkret atas tantangan distribusi yang selama ini menghambat optimalisasi kekayaan alam di Sumatera Selatan. Meski memiliki cadangan batu bara, migas, hingga komoditas perkebunan yang melimpah, efisiensi komersialisasi masih menjadi kendala utama.
"Persoalan utama kita bukan pada sumber daya, tetapi pada kemampuan mengkomersialisasikan dan efisiensi logistik. Pelabuhan Tanjung Carat ini adalah solusi untuk meningkatkan kapasitas perdagangan dan memperbaiki daya saing kita," tegas Todotua dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (10/4/2026), dikutip Antara.
Pelabuhan Tanjung Carat dirancang dengan konsep terintegrasi yang menghubungkan jalur transportasi laut dengan jaringan jalan tol, kereta api, dan kawasan industri dalam satu klaster. Pemerintah bahkan mengusulkan kawasan ini untuk bertransformasi menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) berbasis hilirisasi.
Langkah ini sejalan dengan tren positif investasi di Sumatera Selatan. Pada tahun 2025, realisasi investasi di provinsi tersebut menembus angka Rp62,66 triliun, yang didominasi oleh sektor industri pengolahan serta pertambangan. Kehadiran KEK Hilirisasi diharapkan mampu mengubah wajah ekonomi daerah dari sekadar pengirim bahan mentah menjadi pusat pengolahan bernilai tambah tinggi.
Pemerintah pusat telah memberikan komitmen penuh, mulai dari percepatan pembebasan lahan hingga integrasi infrastruktur pendukung. Todotua mengingatkan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi saat ini harus segera ditangkap melalui eksekusi proyek yang cepat dan tepat sasaran.
“Kita ini kaya sumber daya, tapi kalau tidak kompetitif, tidak ada artinya. Ujungnya masyarakat juga yang menanggung. Maka infrastruktur logistik menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah,” pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi