RADARBANYUWANGI.ID – Rencana pembangunan jalan tol Malang–Kepanjen mulai menunjukkan perkembangan positif.
Proyek infrastruktur strategis ini diproyeksikan mampu meningkatkan Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR), sekaligus mendorong konektivitas menuju kawasan Pantai Selatan (Pansela) di Kabupaten Malang.
Pemerintah Kabupaten Malang terus mengakselerasi proses perencanaan dengan memaparkan potensi proyek tersebut di hadapan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) RI.
Fokus utama yang diusulkan adalah memperkuat konektivitas exit tol menuju jalur wisata selatan, khususnya melalui ruas Gondanglegi–Balekambang.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang, Khairul Isnaidi Kusuma, mengungkapkan bahwa akses menuju Gondanglegi menjadi kunci penting dalam pengembangan proyek tersebut.
“Yang penting mengarah ke Gondanglegi agar terkoneksi dengan jalan Gondanglegi-Balekambang supaya bisa menghidupkan Pansela. Selama ini anggaran sudah besar digelontorkan, tapi LHR masih rendah,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Exit Tol Strategis Jadi Penentu
Dalam rencana awal, terdapat beberapa titik exit tol yang diusulkan, yakni di wilayah Pakisaji, Gondanglegi, dan Kromengan.
Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Kementerian PU RI setelah melalui kajian komprehensif.
Menurut Khairul, keberadaan exit tol yang tepat akan sangat menentukan efektivitas proyek dalam meningkatkan mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Jika konektivitas ke jalur Gondanglegi–Balekambang terwujud, maka arus kendaraan menuju kawasan wisata pantai selatan diprediksi melonjak signifikan.
Hal ini juga dinilai mampu mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur Pansela yang selama ini belum maksimal.
Anggaran Capai Rp10 Triliun
Dari sisi perencanaan, proyek tol Malang–Kepanjen diperkirakan memiliki panjang sekitar 30 kilometer dengan kebutuhan anggaran mencapai Rp10,04 triliun.
Meski nilai investasi tergolong besar, pemerintah daerah bersama pusat berupaya melakukan efisiensi tanpa mengurangi manfaat utama proyek.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penyesuaian jumlah exit tol agar lebih efektif dari sisi biaya.
“Kebutuhan anggaran Rp10,04 triliun, tapi diupayakan ditekan. Misalnya jika exit tol dikurangi, bisa menyesuaikan kebutuhan lainnya,” jelas Khairul.
Masuk Tahap Review FS dan Desain
Dalam waktu dekat, proyek ini akan memasuki tahapan penting berupa review Feasibility Study (FS) dan basic design.
Kajian tersebut akan mencakup berbagai aspek, mulai dari teknis, sosial, ekonomi hingga skema pembiayaan.
Proses ini dijadwalkan dimulai pada April atau Mei 2026 dan ditargetkan rampung pada akhir tahun, tepatnya Desember 2026.
Hasil review tersebut akan menjadi dasar utama dalam menentukan kelayakan proyek serta model pembiayaan yang paling optimal, termasuk kemungkinan keterlibatan investor.
Target Mulai 2027
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Pemkab Malang optimistis proses persiapan pembangunan fisik sudah dapat dimulai pada tahun 2027.
Namun demikian, Khairul tetap mengingatkan adanya potensi tantangan eksternal yang dapat mempengaruhi proyek, seperti dinamika geopolitik global maupun kondisi luar biasa seperti pandemi.
“Insya Allah 2027 bisa mulai persiapan pembangunan. Mudah-mudahan tidak ada kendala seperti pandemi atau situasi global seperti sekarang,” pungkasnya.
Dorong Ekonomi dan Pariwisata
Pembangunan tol Malang–Kepanjen diharapkan tidak hanya meningkatkan konektivitas wilayah, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah.
Akses yang lebih cepat menuju kawasan Pansela diyakini mampu menarik lebih banyak wisatawan ke destinasi pantai selatan Malang, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat setempat.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, proyek ini diharapkan menjadi salah satu pengungkit utama pembangunan infrastruktur dan ekonomi di wilayah Malang Raya. (*)
Editor : Ali Sodiqin