RADARBANYUWANGI.ID – Ratusan umat Katolik mengikuti Misa Malam Paskah di Gereja Katolik Paroki Maria Ratu Para Rasul, Dusun Sumberjati, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Sabtu malam (4/4). Peribadatan untuk mengenang kebangkitan Tuhan Yesus Kristus tersebut berlangsung khidmat, aman, dan penuh kehangatan.
Ibadah yang dimulai pukul 19.00 hingga 21.30 itu menjadi potret kuatnya kerukunan antarumat beragama di wilayah Banyuwangi selatan, sekitar 40 kilometer dari pusat kota.
Tak hanya dijaga aparat kepolisian, pengamanan juga melibatkan Satgas lintas agama yang terdiri dari unsur berbagai keyakinan.
Sekitar 400 Umat Ikuti Misa Malam Paskah
Kapolsek Purwoharjo, Iptu Agus Suhartono, mengatakan pengamanan dilakukan untuk memastikan umat dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk.
Menurut dia, jumlah jemaat yang hadir mencapai sekitar 400 umat Katolik dari wilayah Banyuwangi selatan.
“Pada peribadatan Misa Malam Paskah di Gereja Katolik Paroki Maria Ratu Para Rasul, petugas kepolisian mendapat tugas untuk menjaga keamanan,” ujarnya.
Selain personel kepolisian, unsur masyarakat lintas agama juga dilibatkan.
“Pecalang dan Banser juga turut membantu menjaga umat Katolik yang sedang beribadah,” katanya.
Kehadiran berbagai unsur pengamanan tersebut membuat pelaksanaan misa berlangsung tertib tanpa kendala.
“Dengan bantuan keamanan lintas agama, ibadah berlangsung dengan khidmat, aman, dan penuh kehangatan,” tambahnya.
Satgas Bhineka Tunggal Ika Jadi Simbol Toleransi
Wakil Ketua Satgas Bhineka Tunggal Ika, Fabianus Sumino, mengatakan keterlibatan satgas lintas agama merupakan bentuk nyata toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Banyuwangi.
Menurut dia, keberadaan satgas ini menjadi simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi masyarakat untuk saling menjaga.
“Kita menyebut Satgas Bhineka Tunggal Ika, karena umat beda agama bisa berkumpul menjadi satu dengan tujuan yang sama,” terangnya.
Ia menjelaskan, satgas tersebut beranggotakan sekitar 60 personel dari berbagai agama.
Mereka secara bergantian membantu pengamanan setiap kegiatan keagamaan di Banyuwangi.
“Ada sekitar 60 personel dari berbagai agama dalam satgas ini. Mereka selalu siap untuk menjaga ketika ada acara keagamaan secara bergantian,” jelasnya.
Dengan pengamanan bersama, umat yang sedang menjalankan ibadah merasa lebih tenang.
“Sehingga umat yang sedang menjalankan ibadah bisa lebih khusyuk dan tidak khawatir dengan keamanannya,” imbuhnya.
Kerukunan di Banyuwangi Selatan Kian Kental
Suasana di Desa Grajagan menunjukkan kuatnya semangat toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
Kolaborasi antara polisi, Banser, Pecalang, dan unsur lintas agama menjadi cerminan harmonisnya kehidupan sosial di kawasan yang dikenal sebagai bagian dari Sunrise of Java.
Momentum Misa Malam Paskah kali ini bukan hanya menjadi perayaan iman umat Katolik, tetapi juga simbol persatuan dan kebersamaan lintas keyakinan di Banyuwangi.
Kehangatan tersebut diharapkan terus terjaga sebagai modal sosial penting dalam memperkuat persaudaraan masyarakat. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin