Rugi BBM dan Barang Rusak, Sopir Logistik Minta Pemerintah Tambah Infrastruktur Pelabuhan Ketapang Banyuwangi

Fredy Rizki Manunggal • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 05:00 WIB
Arus balik Lebaran 2026 di Ketapang memuncak. Truk logistik antre hingga 12 jam, buffer zone penuh, kendaraan mengular. (Foto: Wali Santri IKSASS Kalipuro)
Arus balik Lebaran 2026 di Ketapang memuncak. Truk logistik antre hingga 12 jam, buffer zone penuh, kendaraan mengular. (Foto: Wali Santri IKSASS Kalipuro)

RADARBANYUWANGI.ID – Kondisi lalu lintas menuju Pelabuhan Ketapang akhirnya kembali normal. Arus kendaraan menuju pelabuhan penghubung utama Jawa–Bali itu terpantau lancar, termasuk aktivitas di kantong parkir yang sebelumnya sempat dipadati truk logistik.

Meski situasi mulai kondusif, para sopir logistik yang sempat terdampak kemacetan panjang meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki infrastruktur pelabuhan.

Mereka menilai kemacetan parah yang terjadi beberapa waktu lalu tidak boleh kembali terulang karena berdampak besar terhadap distribusi barang dan aktivitas masyarakat.


Sopir Minta Penambahan Dermaga dan Armada Kapal

Pengurus Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), Farid Hidayat, mengatakan kemacetan menuju pelabuhan dipicu tingginya arus mudik yang berbarengan dengan melonjaknya kendaraan logistik pascapencabutan SKB.

Menurut dia, kondisi tersebut diperparah oleh terbatasnya prasarana dermaga di Pelabuhan Ketapang.

Saat volume kendaraan meningkat, kapasitas pelabuhan dinilai tidak lagi mampu menampung antrean kendaraan secara optimal.

“Yang kami harapkan pemerintah hadir. Kalau tidak diatasi, ini akan semakin parah. Kami minta ada penambahan dermaga dan penambahan armada kapal. Kalau seperti kemarin lagi, bukan hanya kami tapi aktivitas masyarakat juga lumpuh,” tegasnya.

Ia menilai penambahan dermaga menjadi kebutuhan mendesak mengingat Pelabuhan Ketapang merupakan salah satu lintasan tersibuk di Indonesia.


Penutupan Lintasan Ketapang–Lembar Dinilai Menambah Beban

Selain faktor arus mudik, ASLI juga menyoroti dampak penutupan lintasan langsung Ketapang–Lembar.

Menurut Farid, banyak kendaraan logistik yang sebelumnya menggunakan jalur tersebut akhirnya beralih melalui jalur darat Bali.

Akibatnya, volume kendaraan berat yang masuk ke Ketapang meningkat signifikan.

Kondisi ini menyebabkan antrean panjang, terutama di jam-jam sibuk dan saat jadwal kapal terbatas.


Sopir Rugi BBM hingga Barang Berisiko Rusak

Ketua ASLI, Slamet Barokah, menambahkan kerugian yang dialami para driver cukup besar.

Salah satu beban terbesar adalah meningkatnya biaya bahan bakar akibat kendaraan harus mengantre dalam waktu lama.

“Dari sisi bahan bakar, kami harus membayar BBM dua kali lebih banyak saat terjadi kemacetan,” ujarnya.

Tak hanya itu, kondisi ini sangat merugikan sopir yang membawa muatan mudah rusak.

Barang seperti buah, sayur, hingga hewan ternak menjadi paling berisiko.

“Kalau yang dibawa buah atau hewan ini yang mengkhawatirkan, bisa busuk atau mati di jalan,” tegasnya.

Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar masalah logistik, tetapi juga berdampak pada harga kebutuhan pokok dan rantai pasok antarwilayah.


Minta Pemerintah Turun Tangan

Slamet menegaskan, jika pihak operator tidak dapat melakukan penambahan dermaga dalam waktu dekat, pemerintah harus turun tangan melalui peningkatan sarana dan prasarana.

Ia menilai pelabuhan ini merupakan objek vital nasional yang harus mendapat perhatian serius.

“Kami harap pemerintah hadir, agar kejadian ini tidak terus berulang. Apalagi pelabuhan ini adalah objek vital,” ungkapnya.

Para sopir berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat menambah fasilitas sandar kapal, memperluas area buffer zone, dan menambah jumlah armada penyeberangan.


Kondisi Lalin dan Kantong Parkir Kini Lancar

Pantauan di lapangan, kondisi lalu lintas menuju Pelabuhan Ketapang, Minggu (5/4/2026) tampak lancar.

Kendaraan yang masuk ke kantong parkir tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan giliran masuk ke area pelabuhan.

Sementara itu, kapal-kapal perbantuan yang sebelumnya sempat dioperasikan di kawasan Bulusan kini sudah tidak lagi beroperasi.

Hal ini menandakan situasi arus balik mulai kembali stabil.

Slamet juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas yang bekerja selama masa arus balik, termasuk personel kepolisian dan TNI yang turun langsung mengatur lalu lintas.

“Kondisi lalu lintas sudah kembali lancar, ini berkat dukungan semua pihak dan petugas Polri maupun TNI yang turun ke jalan,” tegasnya. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
kemacetan Ketapang infrastruktur pelabuhan ASLI Banyuwangi pelabuhan ketapang sopir logistik