RADARBANYUWANGI.ID – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pesan khusus kepada para prajurit TNI yang saat ini masih bertugas dalam misi perdamaian di Lebanon.
Melalui akun X pribadinya, Minggu (5/4/2026), SBY meminta seluruh personel Kontingen Garuda XXIII/S untuk tetap bersemangat dan selalu menjaga diri.
Pesan tersebut disampaikan di tengah duka nasional atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian UNIFIL di Lebanon beberapa hari terakhir.
“Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Lebanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia. Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air,” tulis SBY.
Merasa Punya Kewajiban Moral
SBY mengatakan dirinya merasa memiliki kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi para prajurit TNI yang menjadi korban dalam insiden di Lebanon.
Sebagai presiden yang pertama kali menginisiasi pengiriman satu batalion pasukan Indonesia ke wilayah tersebut, ia menilai peristiwa ini menyentuh batinnya secara mendalam.
SBY sebelumnya juga menghadiri prosesi penghormatan terakhir bagi tiga prajurit TNI yang gugur di Bandara Soekarno-Hatta.
Menurutnya, keberadaan pasukan Indonesia di Lebanon sejak awal merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia.
Kenang Awal Pengiriman Pasukan Tahun 2006
SBY kemudian mengenang momen saat Indonesia pertama kali mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Lebanon pada 2006.
Saat itu, perang antara Israel dan Lebanon pecah pada Agustus 2006 dan menimbulkan banyak korban sipil.
Ia menjelaskan, Dewan Keamanan PBB kala itu belum mengambil langkah efektif untuk menghentikan peperangan.
Karena itu, saat menerima kunjungan Perdana Menteri Malaysia saat itu, Abdullah Ahmad Badawi, SBY mengusulkan agar digelar pertemuan darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
“Ketika PM Malaysia Abdullah Badawi berkunjung ke Jakarta, saya mengusulkan agar beliau, dalam kapasitasnya sebagai Chair of OIC, menggelar emergency meeting guna mendesak PBB untuk segera bertindak,” jelasnya.
Beberapa hari kemudian, pertemuan darurat digelar di Kuala Lumpur dan dihadiri sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Iran saat itu Mahmoud Ahmadinejad, Perdana Menteri Turkiye Recep Tayyip Erdoğan, serta Perdana Menteri Lebanon Fouad Siniora.
Beli Kendaraan Tempur dari Prancis
Dalam forum tersebut, Indonesia menyatakan kesiapan mengirimkan satu batalion pasukan penjaga perdamaian setelah terjadi gencatan senjata.
SBY mengungkapkan, salah satu syarat misi saat itu adalah penggunaan kendaraan tempur mekanis.
Karena kendaraan tempur dalam negeri belum siap, ia menghubungi Presiden Prancis saat itu, Jacques Chirac, untuk membeli kendaraan tempur VAB buatan Prancis.
Pengadaan dilakukan melalui skema government to government (G to G), sehingga proses pengiriman dapat berlangsung cepat.
“Alhamdulillah, Prancis bersedia dan bahkan proses pengirimannya berlangsung secara cepat,” papar SBY.
Kontingen Garuda Berangkat November 2006
Berkat percepatan tersebut, kontingen pertama Indonesia, Garuda XXIII/A, akhirnya diberangkatkan ke Lebanon pada November 2006.
Artinya, hanya tiga bulan setelah perang pecah, Indonesia sudah mengirimkan pasukan perdamaian.
SBY juga menyebut hingga 2026, Indonesia telah 19 kali mengirim kontingen ke Lebanon dengan masa tugas rata-rata satu tahun.
Menurutnya, ini menjadi salah satu misi perdamaian PBB terlama yang diemban Indonesia.
Ia bahkan menyinggung bahwa sejumlah tokoh yang kini berada di pemerintahan pernah menjadi bagian dari kontingen tersebut, termasuk Agus Harimurti Yudhoyono.
Seruan untuk Keselamatan Prajurit
Di akhir pesannya, SBY kembali menekankan pentingnya keselamatan personel TNI yang masih bertugas di Lebanon.
Ia berharap seluruh prajurit dapat menjalankan misi dengan baik dan kembali ke Tanah Air dalam keadaan selamat.
Pesan itu sekaligus menjadi bentuk dukungan moril di tengah situasi keamanan yang disebut semakin mendekati zona perang. (*)
Editor : Ali Sodiqin